Gus Yaqut: Jangan Diam dengan Persoalan yang Melilit Bangsa 

Gus Yaqut: Jangan Diam dengan Persoalan yang Melilit Bangsa 
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, H Yaqut Cholil Qomas. (Foto: NU Online)
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, H Yaqut Cholil Qomas. (Foto: NU Online)
Pasuruan, NU Online      
Sebuah organisasi termasuk Gerakan Pemuda (GP) Ansor akan terjebak dalam kejumudan, tumpul, tanpa terarah, bahkan tidak melakukan apa-apa selain membanggakan surat keputusan. Hal tersebut terjadi kalau pengurus dan anggota di dalamnya tidak melakukan aktivitas apa-apa. 
 
Khusus GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna atau Banser dengan memiliki jumlah anggota yang besar yakni lebih dari 7 juta, maka memiliki konsekuensi dan tanggung jawab besar mengukir warna masyarakat.
 
“Kita harus berjuang membangun kapasitas untuk lebih bermakna bagi kehadiran di masyarakat. Selain itu kita harus paham kepentingan dan tujuan. Kita harus membangun strategi menetapkan target dan berbagai agenda,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, H Yaqut Cholil Qomas, Sabtu (1/3).
 
Hal itu disampaikan panglima Banser tersebut saat memberikan arahan kepada para peserta Susbanpim atau Kursus Banser Pimpinan di Gedung Candra Wilwa Tikta Pandaan Pasuruan, Jawa Timur.
 
“Kita harus melakukan negoisasi  yang desisif untuk menentukan dinamika masyarakat. Kalau tidak, ini sama saja kita mengabaikan amanah Allah SWT,” tegas Gus Yaqut, sapaan akrabnya.
 
Menurutnya, khidmah Banser itu berdemensi luas. Di dalamnya ada keagamaan (religion), kepemudaan, kemasyarakatan (civilication) dan keindonesia (nation). 
 
“Kita kadang terlalu asyik pada dimensi keagamaan. Kurang peduli sistem hukum yang digerogoti korupsi, rusaknya lingkungan, bangkrutnya moral politik, ekonomi timpang dan sebaginya,’’ jelasnya.
 
Kenapa terjadi? Menurut putra KH  Cholil Bisri ini karena tidak tahu kepentingan. 
 
“Gus Dur  ketika itu ditanya tentang kegemaran beliau ziarah kubur, apa jawabnya? Karena ahli kubur tak punya lagi kepentingan,” jawabnya.
 
Maka, lanjut Gus Yaqut jika melihat masalah dan ke-Indonesiaan diam saja, itu berarti berkepentingan atau tidak untuk tidak bergerak .Bisa dimaknai, ingin membunuh organisasi atau tidak paham kepentingannya. Sementara kepentingan adalah dasar utama dalam percaturan masyarakat. Kerja sama atau kompetisi itu tergantung kepentingannya. 
 
“Segala sesuatu sebelum alam kubur itu adalah soal kepentingan,” tegasnya yang disamput tepuk tangan ratusan peserta dari berbagai daerah dan wilayah  se-Indonesia.
 
Sementara itu, Kepala Satuan Nasional Banser H Alfa Isnaeni di tempat  yang sama menegaskan bahwa Banser bukan superman, tapi supertim. 
 
“Maksudanya hasil dan tidaknya perjuangan Banser dilakukan secara kolektif. Bahwa Banser tidak jalan sendiri-sendiri dalam berkhidmah, namun terkoodinir rapi melaui tugas satu komando pimpinan Banser,’’ tegasnya. 
 
Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile