Masyarakat Terbelah, NU Dorong Bupati Se-Madura Bersatu Halau Corona

Masyarakat Terbelah, NU Dorong Bupati Se-Madura Bersatu Halau Corona
Salah seorang bupati di Madura saat turun langsung menyeprotkan disinfektan di tempat-tempat ibadah. (Foto: NU Online/Hairul Anam)
Salah seorang bupati di Madura saat turun langsung menyeprotkan disinfektan di tempat-tempat ibadah. (Foto: NU Online/Hairul Anam)

Pamekasan, NU Online

Empat bupati di Pulau Madura harus bersatu membendung penyebaran wabah virus Corona atau Covid-19. Mereka mesti sama-sama turun ke lapangan, memberikan contoh dengan perbuatan yang mendongkrak kesadaran masyarakat.

 

"Dalam pengamatan kami, masyarakat Indonedia khususnya masyarakat Madura terbelah menjadi tiga dalam menyikapi Covid-19," tegas Sekretaris PCNU Pamekasan KH Abdurrahman Abbas, saat ditemui di kantor PCNU Pamekasan, Jalan R Abd Aziz Nomor 95, Jungcangcang, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (28/3) malam.

 

Pertama, terangnya, masyarakat yang mendukung usaha pemerintah dengan bekerja di rumah dan tidak keluar luar rumah jika tidak sangat penting. Sebagian ada yang mulai agak panik.

 

Kedua, masyarakat yang tidak percaya akan wabah Covid-19, imbawan tidak keluar rumah diabaikan dan bahkan tetap mengajak hadir dalam kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan orang banyak. Bahkan, dengan sadar membuat video.

 

"Ketiga, masyarakat yang tidak peduli dan acuh karena belum paham dan tidak berusaha mencari informasi tentang Covid-19," tegasnya.

 

Diterangkan, Indonesia tidak sama dengan Italia, tidak sama dengan Malaysia; di Indonesia ada kurang lebih 17.000 pulau, masyarakatnya majemuk, banyak keyakinannya, banyak adat, sehingga kajian sebelum mengambil keputusan perlu lengkap.

 

"Memilih atas keputusan apapun perlu melihat dari semua faktor, biar keputusannya maslahah untuk bangsa, negara, dan agama," ujarnya.

 

Untuk itu, tambah Kiai Abdurrahman Abbas, keempat bupati di Madura perlu berembuk untuk menghadirkan solusi atas wabah virus Corona yang juga mengancam Madura.

 

"Madura terancam karena berdekatan dengan Surabaya yang masuk zona merah penyebaran virus Corona. Apalagi hingga kini masyarakat bebas lalu-lalang keluar-masuk Surabaya-Madura. Itu harus disikapi secara bijak oleh keempat bupati di Madura," tukasnya.

 

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pamekasan Syafiuddin, mengapresiasi langkah cepat Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam dalam menangani kasus Covid-19. Terlebih, Baddrut Tamam turun langsung ke bawah, baik dalam memberikan edukasi kepada warga atau melakukan penyemprotan desinfektan.

 

"Kami mengapresiasi langkah beliau yang cepat melakukan pencegahan penyebaran virus corona," kata Syafiuddin.

 

Langkah cepat dinilai penting dalam menangani penyebaran Covid-19. Sebab, virus tersebut sudah masuk katagori pandemi; penyebarannya tak terbendung dan telah memakan ribuan jiwa di seluruh dunia.

 

"Beruntung Pamekasan cukup sigap menangantisipasi pandemi Corona. Kita berharap upaya tersebut berdampak positif bagi peningkatan kesadaran masyarakat," tambahnya.

 

Wakil Ketua DPRD Pamekasan itu juga mengimbau agar semua pihak mematuhi anjuran-anjuran pemerintah. Seperti tidak membuat acara yang menghadirkan banyak massa, tidak keluar rumah kecuali penting dan mendesak, serta menerapkan pola hidup sehat.

 

"Tentu saja selain ikhtiar, kita juga perlu memperbanyak doa, meminta pertolongan kepada Allah agar Indonesia segera terbebas dari wabah Corona," tegasnya.

 

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam memang telah melalukan beberapa langkah antisipatif terhadap penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan membentuk Satgas Pencegahan Covid-19. Di samping itu, Baddrut Tamam juga memberikan edukasi kepada warga melalui media massa, media sosial, pamflet, atau sarana informasi lainnya.

 

Berdasarkan data di Satgas Covid-19, hingga hari ini belum ada warga Pamekasan yang positif Corona. Untuk PDP satu orang, ODP 101 orang, dan ODR 1923 orang.

 

Kontributor: Hairul Anam

Editor: Aryudi AR

BNI Mobile