Regulasi Diri Atasi Kecemasan terhadap Covid-19

Regulasi Diri Atasi Kecemasan terhadap Covid-19
Regulasi diri menjadi cara ideal masyaraat dalam menghadapi Covid-19, dimulai dari menata kognisi, lalu emosi, perbaiki moral diri, dan berdoa. (ilustrasi)
Regulasi diri menjadi cara ideal masyaraat dalam menghadapi Covid-19, dimulai dari menata kognisi, lalu emosi, perbaiki moral diri, dan berdoa. (ilustrasi)
Jember, NU Online
Hingga saat ini masyarakat masih diresahkan oleh adanya wabah Covid-19 atau virus Corona. Guru Besar Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Abdul Mujib menyampaikan bahwa cara menghadapi Covid-19 justru jangan cemas, tetapi juga jangan meremehkan apalagi sombong. 
 
"Dalam perspektif Psikologi, namanya regulasi diri. Dimulai dari menata kognisi, lalu emosi, perbaiki moral diri, dan berdoa," ujar Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islam pada Himpunan Psikologi Indonesia.
 
Kognisi misalnya harus diiisi dengan positif thinking. Jangan sampai punya pikiran negatif tentang Covid-19.
 
"Demikian juga dengan menata emosi. Menata emosi sangat penting, karena di situ kuncinya," katanya saat Talkshow Online dan Khotmil Qur'an secara live di Instagram @mn_harisudin dan @abdul.mujib.ismail, Selasa (31/3) malam.
 
Pada talkshow bertema Regulasi Diri dalam Merespons Musibah Covid-19,
Prof Mujib juga mengatakan bahwa masyarakat harus patuh pada Pemerintah Indonesia. Ia menyebut dalam penanganan Covid-19, Pemerintah Indonesia jauh lebih baik daripada misalnya Malaysia.
 
"Jangan dianggap pemerintah kita tidak bekerja. Jauh lebih baik dari Malaysia. Saya Februari dari Malaysia. Mereka tidak ketat. Kalau Indonesia, sangat ketat," imbuhnya.
 
Talkshow yang terselenggara oleh Fakultas Syariah IAIN Jember, Aspirasi, Majelis Taklim Bengkel Kalbu, dan Pesantren Darul Hikam. Diikuti oleh lebih dari 500 pengguna Instagram baik yang berada di Indonesia maupun negara tetangga. 
 
Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember, M Nur Harisudin mengatakan untuk mengatasi kecemasan akibat wabah Corona, agar  mengembalikan pada hati.
 
"Man arafa qalbahu faqad arafa nafsahu. Waman arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Barangsiapa tahu hati maka tahu dirinya. Barangsiapa tahu dirinya maka tahu Tuhannya," ujar Pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli, Kaliwates, Jember ini.
 
Menurut Prof Kiai Haris, sapaan akrabnya, benteng dengan menata hati itu akan menguatkan dalam persoalan apa pun.
 
"Kata wabassyiris shabirin dalam Al-Qur'an itu artinya orang-orang yang sudah tahan banting hatinya. "Kalau sudah tahan banting, tentu seseorang tidak tergantung pada situasi di luar. Karena hatinya sudah terjaga," ujar Prof Haris yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia.
 
Prof Harisudin juga menambahkan pandangan terhadap masyarakat bahwasannya pemerintah telah berusaha memberikan yang terbaik kepada masyarakat.
 
"Pemerintah telah berusaha memberikan yang terbaik kepada masyarakat, termasuk gratis pembayaran listrik PLN selama tiga bulan untuk kalangan tidak mampu, kredit yang ditoleransi, dan lain-lain," jelas Prof Haris yang juga Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur.
 
 
Kontributor: Endang Agoestian
Editor: Kendi Setiawan
 
 
BNI Mobile