PEDULI COVID-19

Wujudkan Pembelajaran Daring Menyenangkan, Ini Trik Guru RANU di Kudus

Wujudkan Pembelajaran Daring Menyenangkan, Ini Trik Guru RANU di Kudus
Orang tua murid RANU Kaliwungu, Kudus, sedang mendampingi anaknya mengaji. (Foto: Istimewa)
Orang tua murid RANU Kaliwungu, Kudus, sedang mendampingi anaknya mengaji. (Foto: Istimewa)
Kudus, NU Online
Dalam rangka menjalankan imbauan pemerintah Di Rumah Saja, termasuk belajar di rumah, Raudlatul Athfal Nahdlatul Ulama (RANU) Nur Robithoh Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah, memiliki trik khusus. Melalui sistem daring, para guru tetap menjalankan pembelajaran di rumah yang tidak kalah menyenangkan.

Guru RANU Nur Robithoh, Siti Nailul Muna, mengatakan meski pembelajaran berlangsung di rumah, ia tetap mengutamakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak meski tugas diberikan setiap hari kecuali Jumat.

“Setiap hari anak-anak diberikan tugas. Namun, yang sekiranya tidak memberatkan dan tetap menyenangkan mereka. Karena mereka masih kecil, sehingga jangan sampai anak merasa terbebani dalam belajar,” ungkap Nailul kepada NU Online, Kamis (2/4).

Di hari pertama mengajar sistem daring, pihaknya terlebih dahulu memberi pengetahuan tentang virus Covid-19. Termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai libur 14 hari yang diberlakukan sekolah. Pembelajaran diberikan melalui gambar-gambar dan video yang dikirimkan kepada wali murid.

“Pembelajaran kami pada awal liburan dengan memberi pengetahuan mengenai Covid-19 dan alasan diliburkan. Kami mengirimkan foto dan video menarik kepada orang tua melalui grup WhatsApp yang telah dibuat. Kemudian orang tua menjelaskan kepada anak sambil memperlihatkan gambar dan video tersebut,” jelas Kepala RANU Nur Robithoh ini.

Selain itu, ia juga memberikan materi di hari selanjutnya yaitu gerakan mencuci tangan, dan juga materi sains jari anti merica sebagai pembuktian mencuci tangan dengan sabun 90% lebih efektif membunuh kuman dibanding menggunakan cairan pembersih tangan.

Nailul menambahkan, orang tua harus memberikan laporan pembelajaran di rumah  dan mengumpulkan tugas yang telah diberikan kepada anak melalui foto dan video. Kemudian guru mengumpulkan tugas murid-murid menjadi satu yang kemudian didokumentasikan dengan diunggah di akun YouTube dan Facebook milik RA tersebut. 

Pembelajaran menggunakan sistem daring diakuinya kurang berjalan baik. Dikarenakan tidak semua orang tua memiliki telepon pintar. Di sisi lain, meski orang tua memiliki telepon pintar, namun belum mengetahui benar sistem pembelajaran daring yang diberlakukan.

Guru lulusan Madrasah Banat NU Kudus tersebut juga mengungkapkan, tidak semua anak mengikuti tugas dengan baik. Sebagian orang tua tidak mengirimkan tugas meskipun memiliki telepon pintar. 

“Banyak kendala pembelajaran menggunakan sistem daring. Banyak orang tua yang tidak mengerti sistem daring sendiri atau bahkan tidak memiliki telepon pintar. Kami menyadari dan tidak memaksakan anak juga orang tua, karena anak usia RA memang waktunya untuk bermain,” ungkapnya.

Ia juga menekankan, pada saat sebelum liburan orang tua telah dibekali pengetahuan untuk tetap memberikan pengawasan kepada anak selama di rumah. “Kami juga berpesan agar wali murid membimbing anak untuk tetap belajar di rumah,” pungkasnya.

Kontibutor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori
BNI Mobile