Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Prediksi Puncak Covid-19 Diperlukan untuk Efektivitas Penanganan

Prediksi Puncak Covid-19 Diperlukan untuk Efektivitas Penanganan
Sebelum wabah berakhir, penting dikemukakan perkiraan tentang waktu puncak wabah. Faktor terpenting yang memengaruhi puncak wabah adalah seberapa efektif intervensi dilakukan. (Ilustrasi)
Sebelum wabah berakhir, penting dikemukakan perkiraan tentang waktu puncak wabah. Faktor terpenting yang memengaruhi puncak wabah adalah seberapa efektif intervensi dilakukan. (Ilustrasi)
Jakarta, NU Online
Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia dr Syahrizal Syarif menyatakan perlu adanya perkiraan data kumulatif dari para ahli supaya dimanfaatkan untuk menyiapkan berbagai kebutuhan fasilitas kesehatan dan penunjangnya yang dibutuhkan.
 
Para ahli Matematika dan Biostatistik biasa membuat prediksi tentang waktu berakhirnya Covid-19 berdasarkan jumlah kasus baru yang muncul berurutan dalam serial waktu. Yaitu, dengan menggunakan sifat kecepatan penambahan kasus dan dapat juga diperkirakan jumlah total kasus pada waktu tertentu.
 
"Terutama untuk menyiapkan kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan: baik jumlah ventilator, ruang isolasi, jumlah alat pelindung diri, jumlah bed (tempat tidur) baik untuk rumah sakit rujukan bagi pasien positif yang serius dan berat, rumah sakit khusus untuk pasien dengan gejala sakit ringan dan sedang, serta pusat karantina untuk merawat ODP dan PDP yang sedang menunggu hasil diagnostik yang sampai saat ini masih tiga hari untuk wilayah Jawa dan 8 sampai 10 hari untuk luar Jawa," kata Syahrizal, Rabu (8/6).

Syahrizal menyatakan bahwa sebelum wabah berakhir, penting dikemukakan perkiraan tentang waktu puncak wabah. Sebab menurutnya, faktor terpenting yang memengaruhi puncak wabah adalah seberapa efektif intervensi dilakukan.
 
Selain itu, ada dua faktor yang perlu menjadi perhatian, yakni angka pada saat puncaknya, dan lama hari yang dibutuhkan. "Tentu yang baik rendah dan cepat, jika tidak bisa, rendah dan lama, sehingga beban terhadap fasilitas kesehatan tidak terlalu berat," ujarnya.
 
Saat Wuhan, China melakukan lockdown pada 23 Januari 2020, ia menilai langkah tersebut akan efektif. Tentu, disertai penerapan ketat tinggal di rumah, pembangunan 2600 bed RS khusus Covid19, surveilans aktif dari pintu ke pintu pada 9 juta warga, mendirikan pusat karantina ribuan bed untuk ODP dan PDP bahkan kasus konfirmasi yang ringan, menurunkan 40 ribu tenaga kesehatan bantuan dari 29 provinsi dan 1400 tenaga kesehatan angkatan.
 
Jumlah 38 ribu tenaga kesehatan Wuhan yang bekerja siang sampai malam tidak cukup karena yang ditangani tidak hanya yang ada di RS, tetapi juga di pusat karantina dan petugas surveilans yang bekerja memantau setiap rumah setiap hari.

"Strategi intervensi yang sangat ketat membuat saya berani memberi prediksi pada tanggal 27 Januari 2020 bahwa wabah di China akan selesai pada awal Mei 2020. Sampai saat ini wabah di China sudah terkendali, namun belum selesai karena masih ada laporan kasus baru," ucapnya. 

Sementara pemerintah Indonesia berdasarkan prediksi Badan Intelijen Negara (BIN) memperkirakan puncak wabah akan terjadi pada 60 hari setelah kasus pertama dilaporkan, yakni pada 2 Maret 2020. Namun, ia menegaskan, perkiraan itu dapat terwujud bergantung pada intervensi berupa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini berjalan dengan efektif.

Ia mengemukakan data bebarapa negara sebagai jumlah kasus baru hari tersebut dan berapa jarak puncak wabah dihitung dari hari pertama pelaporan. Data yang ada ini berbeda-beda sejalan dengan efektivitas intervensi yang dilakukan oleh negara masing-masing. 
 
Korea Selatan dengan 851 kasus dan puncaknya terjadi pada hari ke-13. Swiss terdapat 1.394 kasus dan puncaknya terjadi pada hari ke-17. Australia ada 537 kasus, puncaknya hari ke-21. Spanyol terdapat 8195 kasus, dan puncaknya hari ke-21. Philipina terdapat 358 kasus, dan puncak hari ke-23. Belgia ada1850 kasus, dan puncaknya hari ke-24. Thailand ada 188 kasus, dan puncaknya hari ke-25. Prancis dengan 23.060 kasus, puncaknya hari ke-27. 
 
Sementara Malaysia dengan 235 kasus, dan puncaknya hari ke-28. UK ada 5903 kasus, puncaknya hari ke-29. German dengan 6813 kasus, puncaknya hari ke-32. Saudi dengan 253 kasus, puncaknya hari ke-32. China dengan 3884 kasus, puncaknya hari ke-34. Italia dengan 3186 kasus, puncaknya pada hari ke-36. Iran dengan 3186 kasus, dan puncaknya pada hari ke-45. Singapore dengan 120 kasus, puncaknya hari ke-48. USA dengan 34196 kasus, puncaknya hari ke-49, dan  Indonesia diprediksi puncaknya terjadi setelah 60 hari saat pengumuman pertama kali kasus positif Covid-19 di Indonesia.
 
Karena itu, menurut Syahrizal, Korsel dan Wuhan adalah contoh yang relatif rendah dan cepat. Sementara Singapore adalah contoh yang rendah dan lama.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile