Status Pembatasan Kegiatan, Santri Darus Sa'adah Semarang Pilih Karantina Mandiri

Status Pembatasan Kegiatan, Santri Darus Sa'adah Semarang Pilih Karantina Mandiri
Pengasuh Pesantren Darus Sa'adah Semarang KH Ahmad Muthohar As'ad (Foto: NU Online/Samsul Huda)
Pengasuh Pesantren Darus Sa'adah Semarang KH Ahmad Muthohar As'ad (Foto: NU Online/Samsul Huda)
Semarang, NU Online
Beberapa santri Pesantren Darus Sa'adah Tlogosari Kulon Pedurungan memilih melakukan karantina mandiri di saat Kota Semarang, Jawa Tengah menyandang status Pembatasan Kegiatan Masyarakat non Pembatasan Sosial Berskala Besar (PKM-PSBB).
 
Pengasuh Pesantren Darus Sa'adah Semarang KH Ahmad  Muthohar As'ad mengatakan, semula sejak pemerintah mengumumkan status darurat Corona dan merumahkan para peserta didik untuk belajar dengan sistem daring, seluruh santri dipersilahkan untuk pulang kampung atau mudik.
 
"Namun dari 60 orang santri yang ada, tujuh di antaranya memilih tetap bertahan untuk melanjutkan ngaji posonan pada bulan ramadhan ini sekalian melakukan karantina mandiri di pondok," kata Kiai Muthohar kepada NU Online di Semarang, Selasa (28/4).
 
Menurutnya, mereka memilih bertahan untuk tidak mudik pada saat pandemi Covid-19 karena mereka merasa lebih aman, nyaman, dan dapat meningkatkan konsentrasi dalam mendalami kitab kuning dan tabarukan pada bulan ramadhan.
 
"Karena Semarang berstatus zona merah, maka kontrol terhadap aktivitas santri diperketat. Mereka tidak boleh keluar dari komplek pondok," ungkapnya.
 
"Selain itu, saat mengikuti kegiatan pengajian harus mengikuti prosedur physical distance. Protokol kesehatan dan keamanan yang digariskan pemerintah harus dipenuhi," tambahnya.
 
Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang KH Hanief Ismail mengatakan, bagi santri, bulan ramadhan adalah salah satu saat istimewa untuk mencari berkah, sehingga kadang-kadang mereka ingin tetap dekat dan ngaji kepada kiainya, meski di saat libur pada bulan ramadhan.
 
"Kami dapat informasi ada beberapa santri di sejumlah pesantren di Semarang yang tetap bertahan di pondok untuk ngaji posonan sekaligus tabarukan dan mengkarantina diri. Kami memahami pilihan mereka meski di saat pandemi Corona," ujarnya.
 
Terlebih saat ini lanjutnya, dalam upaya memotong mata rantai wabah Corona  Kota Semarang statusnya dinyatakan menjadi Pembatasan Kegiatan Masyarakat non Pembatadan Sosial Berskala Besar (PKM-PSBB), maka pesantren harus mendukung kebijakan ini.
 
"Tepat sekali langkah para kiai pesantren NU di Semarang memulangkan santrinya di saat pandemi Covid-19 dan memperketat kontrol santri yang masih bertahan ngaji posonan," pungkasnya.
 
Kontributor: Samsul Huda
Editor: Abdul Muiz
BNI Mobile