Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Petani Terdampak Covid-19, Negara Diminta Kurangi Peranan Tengkulak

Petani Terdampak Covid-19, Negara Diminta Kurangi Peranan Tengkulak
Harga kebutuhan rumah tangga yang melambung tinggi di pasaran tidak seimbang dengan harga yang dibeli tengkulak dari para petani.
Harga kebutuhan rumah tangga yang melambung tinggi di pasaran tidak seimbang dengan harga yang dibeli tengkulak dari para petani.
Jakarta, NU Online
Covid-19 yang mewabah Indonesia sejak dua bulan terakhir berakibat fatal terhadap perekonomian masyarakat salah satunya kepada para petani holtikultura.
 
Harga kebutuhan rumah tangga yang melambung tinggi di pasaran tidak seimbang dengan harga yang dibeli tengkulak dari para petani. Hal itu pula yang  menyebabkan para petani berputus asa karena terus mengalami kerugian. 

Ketua Paguyuban Petani Gunung Sumbing, Wonosobo, Fuad Bahary menuturkan, sejak beberapa pekan terakhir, harga-harga kebutuhan dasar rumah tangga seperti cabai dan sayuran melambung tinggi di pasaran.
 
Kejadian itu bertolak belakang dengan harga penjualan oleh para petani yang dijualnya dengan harga yang rendah. 

“Saya contohkan hari ini harga cabai kriting di petani Wonosobo Rp2000 per kg, kemudian gubis Rp1500 per kg, itu diambil apanya. Untuk ongkos pemetikan dari kebun sampai rumah saja tak cukup,” katanya kepada NU Online, Rabu (29/4). 

Ia menambahkan, atas berbagai masalah-masalah tersebut maka negara harus berani menghilangkan, mengurangi, dan meminimalisir peran tengkulak. Sebab, harga-harga yang dibeli dari petani dengan harga di pasaran jauh berbeda perbandingannya.

Persoalan tersebut telah membunuh para petani, dia meyakini persoalan-persoalan itu menimpa hampir kepada petani di seluruh Indonesia. 

“Negara harus melakukan  sesuatu yang kongkrit terhdap produksi pertanian, jalur distribusinya seperti apa, dari desa ke masyarakat. Dan negara harus berani menghilangkan, mengurangi, meminimalisir peran-peran tengkulak,” tuturnya. 

Contoh lain, labu, di pasaran harganya dijual Rp7000 harga sementara harga di petani Rp2500. Dalam situasi pandemi Covid-19, lanjut Fuad Bahary, harus ada gerakan nyata dari pemerintah dalam rangka melindungi para petani Indonesia. 

Selanjutnya, agar jutaan penduduk Indoensia tetap hidup di tengah pandemi Covid-19, tidak ada solusi lain kecuali meningkatakan produksi pangan oleh para petani Indonesia. 

Sebab kegiatan impor secara otomatis terhenti, pemerintah perlu mendukung penuh para petani tersebut dengan memberikan intensif, mendorong produksi oleh para petani serta mengangkat daya beli hasil pertanian.  

Fuad Bahary menjelaskan, saat ini ujung tombak ketersediaan pangan secara nasional adalah petani Indonesia. Impor pangan yang biasanya dilakukan pemerintah dimungkinkan tidak terjadi sampai setahun kedepan sebab hampir semua negara terkena dampak Covid-19. 

“Dan pangan kita harus disediakan oleh petani nasional kita. Negara harus memberikan keleluasaan, memberikan intensif terhadap petani karena kita hanya bergantung kepada mereka,” kata Bahary yang juga Pengurus Pusat Gerbang Tani Indonesia. 

Disis lain, para petani harus dipastikan terlindungi dari Covid-19, meski perkebunan atau ladang cenderung aman. Pemerintah wajib memastikan para petani tersebut tidak terkena virus.  

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile