Pesantren, Covid-19, dan Pendidikan Era Milenial

Pesantren, Covid-19, dan Pendidikan Era Milenial
Berbeda dengan pesantren yang sejak awal sudah mengajarkan santrinya untuk hidup mandiri. Banyak kiai yang melibatkan santri-santrinya dalam kegiatan ekonomi kerakyatan.
Berbeda dengan pesantren yang sejak awal sudah mengajarkan santrinya untuk hidup mandiri. Banyak kiai yang melibatkan santri-santrinya dalam kegiatan ekonomi kerakyatan.
Oleh Taufiq Kurohman
 
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momentum ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, yang kemudian diberi gelar pahlawan nasional sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
 
Sebagaimana kita ketahui Ki Hajar Dewantara telah mengajarkan tiga filososi yang terkenal di dunia pendidikan yakni Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang artinya Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan.
 
Filosofi ini memberikan pesan secara umum kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya praktisi pendidikan, untuk senantiasa dan harus siap mejadi pemimpin di depan, mendampingi atau memberi bimbingan di tengah masyarakat, dan juga memberi dorongan atau motivasi dari belakang.
 
Tiga filosofi ini sangat kental dan sudah terbiasa diterapkan dalam pendidikan pesantren di Indonesia. Filosofi ini juga termaktub pada kitab monumental yang dikaji di pesantren yakni Kitab  Alfiyyah Ibnu Malik. Sebuah kitab yang memiliki 1002 bait, ditulis oleh Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad ibnu Abdullah ibnu Malik al-Tha’i al Jayyani al-Andalusi yang terkenal dengan sebutan Ibnu Malik dari Andalusia Spanyol pada tahun 600 H.
 
Salah satu nadzam dalam kitab ini berbunyi:

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّ نَا صَلَحْ  #  كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَحْ
 
Bait ini adalah penjelasan bahwa نا (na), bentuk muttashil dari نحن (nahnu) dapat ditempatkan sebagai dhamir muttashil rafa’, nashab, jar, dengan tetap menggunakan redaksi kata na, tanpa perubahan.
 
Hikmah dari nadzam ini menunjukkan bahwa setiap individu santri sebagai orang yang sedang menuntut ilmu di pesantren haruslah siap ditempatkan dalam posisi apapun, baik sebagai pemimpin masyarakat, diplomat atau mediator di tengah-tengah masyarakat, maupun sekedar menjadi penyemangat, pekerja teknis lapangan yang diposisikan di belakang.
 
Pesantren di Tengah Pandemi Covid-19
Sebagaimana diketahui, saat ini masih banyak masyarakat Indonesia bahkan yang mempunyai bekal ijazah sarjana dan bekerja di perusahan-perusahaan swasta khususnya, terancam menjadi korban PHK.
 
Peluang PHK menganga lebar di depan mata akibat pandemi Covid-19 yang memaksa perusahaan tertentu mengurangi bahkan menghentikan produksinya. Kemenaker dan BPJS Ketenagakerjaan merilis akan ada sekitar 2,8 Juta pekerja yang terdampak Covid-19 di Indonesia.
 
Disisi lain banyak sekali para sarjana yang secara kemampuan (skill) tidak siap ditempatkan di ranah-ranah teknis, sebagai praktisi di lapangan. Mereka lebih suka bekerja di belakang meja menjadi karyawan, daripada menjadi wiraswasta apalagi petani di kampung-kampung.
 
Hal ini tidak lepas dari model pendidikan di lembaga-lembaga umum yang masih minim dalam menerapkan kemampuan atau pengembanagan skill dan hanya terfokus pada kemampuan akademik.
 
Berbeda dengan pesantren yang sejak awal sudah mengajarkan santrinya untuk hidup mandiri. Banyak kiai yang melibatkan santri-santrinya dalam kegiatan ekonomi kerakyatan.
 
Santri sudah dididik untuk terlibat dalam pembangunan fisik pesantren, dari mulai tukang mengaduk semen misalnya, mengelola lahan pertanian, peternakan, bahkan industri rumahan yang dimiliki oleh pesantren di mana pengelolaan dan hasilnya dilakukan dari santri, oleh santri, dan untuk santri.
 
Di siang hari santri diberi tugas untuk mengelola usaha-usaha tersebut sebagai ikhtiar lahir, sementara di malam hari santri akan dibekali dengan ilmu-ilmu agama seperti fikih, tauhid, bahkan nahwu shorof. Tidak sampai itu saja, para santri juga digembleng jiwanya dengan aktivitas bangun tengah malam atau qiyamul lail sebagai ikhtiar bathin.
 
Bentuk pendidikan seperti ini lama kelamaan menjadikan santri menjadi sosok yang profesional sekaligus tahan banting menghadapi berbagai jenis ujian di antaranya pandemi Covid-19 ini.
 
Selain mampu bertahan disituasi sulit dengan membuka opsi-opsi ikhtiar lahir dan dengan besar hati mematuhi anjuran pemerintah, santri juga tidak lupa melaksanakan ikhtiar batin dengan terus berdoa agar cobaan ini segera berlalu.
 
Praktik pendidikan pesantren pun dengan cepat menyesuaikan kondisi dan anjuran pemerintah untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Pengajian-pengajian online semakin marak digelar, bahkan doa bersama dalam jaringan (daring) pun melangit setiap malam melalui mulut-mulut para santri seantero nusantara.
 
Penulis adalah Alumni Pesantren Darul A’mal Metro, Lampung dan ASN Kementerian Agama
BNI Mobile