IMG-LOGO
Nasional

Santri dan Abangan, Hidup Berdampingan Tanpa Permusuhan

Rabu 13 Mei 2020 05:00 WIB
Santri dan Abangan, Hidup Berdampingan Tanpa Permusuhan
Ilustrasi santri dan abangan (http://manuruljadid.sch.id)
Jakarta, NU Online
Masyarakat pesantren sejak dahulu hidup berdampingan dengan kaum abangan. Meskipun di antara kedua kelompok ini terdapat perbedaan yang kentara, tetapi tidak menjadikan hal tersebut sebagai titik permusuhan. Keduanya tetap hidup berdampingan.

“Ada perbedaaan tapi tidak ada permusuhan. Ada koeksistensi damai,” kata Gus Ulil Abshar Abdalla saat menjadi narasumber dalam bincang bersama Sejarawan Bonnie Triyana di media sosial Instagram pada Selasa (12/5).

Gus asal Pati, Jawa Tengah itu lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren. Di sekitar tempat tinggalnya saat itu, terdapat masyarakat abangan yang sangat kental sekali dengan beragam tradisinya. Ia menyebut di antara ciri-cirinya adalah mengundang pementasan kesenian wayang dan kentrung dalam setiap hajatan, serta meletakkan sesaji saat menanam padi.

Saat kecil itu, setiap kali di sekitar terdapat hajatan, maka ia dikunci di kamar oleh orang tuanya. Hal itu dilakukan agar ia tidak dapat menonton wayang semalam suntuk. Namun, ia beberapa kali lolos dan bisa menikmati kesenian yang digemarinya tersebut.
 
Gus Ulil mengatakan bahwa perlakuan sang ayah terhadapnya sepertinya guna menegaskan identitas dirinya sebagai bagian dari kelompok santri, bukan abangan.

Pemersatu Santri dan Abangan
Menurutnya, KH Abdurrahman Wahid semakin membuka lebar-lebar dialog kedua kelompok tersebut. Bahkan, Gus Dur melindungi dan mendengarkan mereka. Sikap putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim itu memengaruhi warga Nahdliyin.

Bahkan, lanjutnya, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung membuat satu lembaga khusus untuk menjembatani kedua kelompok tersebut. “IAIN Tulungagung itu membuat satu center kajian Islam Santri dan Abangan dan berusaha mempertemukan dua kultur ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, pengajar di Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu juga menjelaskan bahwa meskipun kaum abangan dan kaum santri atau putihan ini merupakan kategorisasi budaya, memberikan dampak terhadap politik.
 
Ia menyebut bahwa ada dua jenis putihan, yakni yang akrab dengan budaya setempat berafiliasi ke NU, sedangkan yang tinggal di perkotaan, baik yang rasional maupun puritan berafiliasi ke Masyumi.

Gus Ulil juga ingat bahwa Bung Karno merupakan sintesis santri dan abangan. Sebab, Bapak Proklamator Indonesia itu dikagumi oleh orang NU, Muhammadiyah, Persis, juga kaum Abangan.
 
“Kita bersyukur punya tokoh Bung Karno yang menyatukan santri abangan karena dikagumi banyak kalangan,” katanya.

Pun ia menyebut penyanyi yang beberapa hari lalu meninggal, yakni Didi Kempot. Menurutnya, sosok pelantun lagu-lagu campursari itu penting sebagai pemersatu kultur abangan dan santri mengingat musiknya yang dinikmati oleh semua kalangan, termasuk dua kelompok tersebut.
 
“Jadi Indonesia punya khazanah kultural yang sangat kaya sekali,” katanya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi 
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG