Ketua NU Surabaya Berbagi Cara Berlebaran Saat Pandemi

Ketua NU Surabaya Berbagi Cara Berlebaran Saat Pandemi
H Achmad Muhibbin Zuri, Ketua PCNU Surabaya. (Foto: NU Online/istimewa)
H Achmad Muhibbin Zuri, Ketua PCNU Surabaya. (Foto: NU Online/istimewa)
Surabaya, NU Online
Belum jelas kapan akan berakhirnya pandemi Corona. Bahkan kalau diperhatikan, angka mereka yang positif mengidap Covid-19 terus bertambah. Saat Idul Fitri seperti sekarang, ujian akan ketaatan terhadap anjuran untuk menjaga jarak dan menghindari kontak langsung benar-benar diuji. Tradisi anjangsana dan bersalaman dengan tetangga dan kerabat, harus ditanggunghkan. Bagaimana model berlebaran saat pandemi Corona?
 
“Itu juga pernah ditanyakan kawan kepada saya, bagaimana cara bersilaturahim pada lebaran tahun ini, demikian pula tentang kesunnahan bersalaman di tengah situasi pandemi,” kata Achmad Muhibbin Zuhri, Ahad (24/5). 
 
Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya tersebut menjelaskan bahwa meminta maaf adalah kewajiban sebagai syarat menghapus dosa yang terkait dengan haqqul adami. Memaafkan adalah pelaksaan perintah Allah khudzil-afwa dan mencerminkan akhlak yang mulia. 
 
“Menyambung tali persaudaraan adalah tuntunan agama dan pencerminan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Semua itu hakikatnya adalah ibadah dalam konteks hablum minan-nas atau hubungan dengan  manusia,” ungkapnya.
 
Tata caranya bisa macam-macam. Salah satunya seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang datang, mengakui kesalahan, memohon maaf dan kehalalan, serta bersalaman atau cara lain yang makruf.
 
“Mushafahah atau bersamalan sendiri adalah tuntunan Rasulullah yang berarti mengandung kemaslahatan bagi pelakunya karena ada banyak hikmah di sana,” terang dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.
 
Dalam hal situasi tidak memungkinkan, bisa diganti dengan cara lain yang makruf, sesuai dengan nilai-norma kebaikan yang tumbuh dalam masyarakat. “Saling memberi hadiah, juga merupakan tuntunan cara silaturrahim yang baik,” jelasnya.
 
Dalam hal tidak memungkinkannya bersalaman, ada uzur atau bahaya jika dilaksanakan misalnya bagaimana? “Dalam kondisi pandemi yang terdapat unsur risiko atau bahaya jika melakukan kontak fisik, maka menghindarkan bahaya itu didahulukan dari mengambil maslahat,” urainya.
 
Jadi, dalam pandangannya yang tepat untuk saat ini adalah tetap menjalin komunikasi, mempererat silaturrahim dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi. 
 
“Kontak audio atau audio-video, teleconference atau semacamnya yang bersifat interaktif dapat menjadi pengganti pertemuan fisik dan tidak mengurangi nilai silaturahim di lebaran ini,” katanya. 
 
Malah pilihan cara seperti ini adalah lebih baik sesuai penerapan kaidah yang ada. Lebih bagus lagi kalau tetap dapat saling memberi hadiah. 
 
“Yang terakhir ini tidak terhalang oleh pandemi bukan? Kita tetap dapat memanfaatkan fasilitas jasa pengiriman atau transfer lewat rekening,” katanya sembari tertawa. 
 
Dikemukakan bahwa agama menjanjikan kemudahan yang menyajikan berbagai pilihan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karenanya yang harus dilakukan hendaknya memperluas pengetahuan agama dengan terus belajar, sehingga tidak formalistik dan kaku. 
 
“Agama ini menyelematkan, tidak memberatkan yang melarang kita melemparkan diri ke dalam kebinasaan, dengan nekad melakukan sesuatu yang mengandung bahaya yang nyata,” pungkasnya.
 
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 
BNI Mobile