Kue Lebaran, Kiai Kampung, dan Doa Mustajab

Kue Lebaran, Kiai Kampung, dan Doa Mustajab
(Foto: NU Online/Faizin)
(Foto: NU Online/Faizin)
Pringsewu, NU Online
Aneka macam kue khas lebaran berjejer di atas meja. Toples lawas dengan tutup beda warna dan sudah tidak krep lagi menandakan keistiqomahan dan kesederhanaan dalam merayakan lebaran setiap tahunnya. Buah-buahan sederhana di piring makan ikut disajikan menyambut tamu yang datang.
 
"Nggak buat apa-apa lebaran tahun ini," kata Bu Nyai sambil mempersilakan NU Online menikmati kue yang terlihat masih penuh dalam toples.
 
Tak lama, pak kiai pun keluar dari dalam ruang keluarga sambil mengenakan baju. "Habis dari sawah. Persiapan mau tanam padi," katanya agak mengagetkan karena biasanya aktivitas lebaran dirayakan selama tujuh hari di daerah itu. Tapi hari itu, sang kiai sudah menjalankan aktivitas lainnya.
 
Pagi itu Rabu (27/5), di hari keempat Idul Fitri 1441 H, NU Online bersilaturahim ke salah satu tokoh agama, Kiai Nasruddin, di Desa Margodadi Kecamatan Sumberejo, Tanggamus, Lampung. Kiai Nas (panggilannya) menjadi imam tetap di Masjid Riyadlussholihin Margodadi yang tepat berada di samping rumahnya.
 
"Saya sudah umumkan pada jamaah, tahun ini saya tarawih di rumah bareng keluarga. Kegiatan jamaah harian masih tetap berjalan biasa, menggunakan standar protokol kesehatan," ungkapnya.
 
Untuk lebaran, Kiai Nasrudin juga menyampaikan pada jamaahnya agar tetap di rumah dan membatasi kontak fisik saat bertemu orang. Ia pun menutup pintu depan rumahnya dan menerima tamu khusus keluarga dari pintu belakang rumah.
 
"Tetap saja ada yang 'memaksakan' diri masuk. Tapi sudah saya siapkan tempat cuci tangan di depan rumah," tambahnya.
 
Inilah di antara sikap para kiai kampung yang tetap menjalankan perkhidmatannya tanpa banyak kata, tanpa banyak 'protes' dan tak perlu beradu dalil. Mereka dengan qanaah tetap membina umat  sekaligus patuh pada pemerintah sebagai ulil amri. Para kiai kampung tahu bahwa keteladanan menjadi kunci dalam memberi pencerahan pada umat.
 
Senada dengan Kiai Nas di Margodadi, suasana lebaran yang berbeda tahun ini juga terasa di kediaman Kiai Hudan, salah satu Kiai Kampung di Metro. Kiai Hudan melaksanakan shalat Id bersama keluarganya di kediamannya di kawasan 16 C Metro.
 
"Anak-anak saya yang jadi petugas imam dan khatib. Kita shalat di rumah sesuai anjuran pemerintah di musim Corona saat ini," katanya beberapa waktu lalu.
 
Kiai Hudan pun tak menggelar open house seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Selepas shalat para putra dan putrinya sungkem khusus keluarga dilanjutkan makan ketupat bersama di ruang keluarga.
 
Teladan para Kiai Kampung dalam melewati Ramadhan dan Lebaran tahun ini patut dijadikan contoh. Mereka mengedepankan kemaslahatan umat dan menjauhi sikap-sikap pertentangan yang bisa mengarah pada perpecahan. 
 
Inilah yang menjadikan para kiai kampung sangat istimewa di mata tokoh muda NU dari Jawa Tengah, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). Ia lebih yakin bahwa doa yang diimami oleh para kiai sepuh dari kampung lebih diijabah dari doa 'kiai kota' yang tampil di televisi.
 
"Kelihatannya sepele. Doanya pakai bahasa jawa. Simpel, tapi mustajab. Karena apa? Itu karena keikhlasan para kiai-kiai ini lah yang dilihat oleh Allah SWT," kata Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang ini.
 
Selain itu, doa mustajab dari para kiai kampung ini menurut Gus Yusuf adalah karena keistiqomahan para kiai kampung dalam beramal ibadah membimbing umat.
 
Jadi, melengkapi lebaran di tengah pandemi saat ini, tak ada salahnya menyapa para kiai-kiai dan ustadz di kampung yang sudah lama tak ada kabar, untuk mengucapkan selamat Idul Fitri sekaligus minta doa diberikan kesehatan dan keselamatan dalam melewati pandemi Covid-19. Tak lupa, dalam situasi saat ini, silaturahim tetap dilakukan dengan mengikuti protokoler pencegahan Covid-19.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile