Kisah Mbah Moen saat Ka'bah Dikelilingi Kurang dari 600 Ribu Jamaah Haji

Kisah Mbah Moen saat Ka'bah Dikelilingi Kurang dari 600 Ribu Jamaah Haji
Almaghfurlah KH Maimoen Zubair. (Foto: NU Online)
Almaghfurlah KH Maimoen Zubair. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online
Suatu hari KH Maimoen Zubair membaca kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghozali. Sampailah beliau pada redaksi:

قال صلى الله عليه وسلم: إن الله عز وجل قد وعد هذا البيت أن يحجه كل سنة ستمائة ألف، فإن نقصوا أكملهم الله عز وجل من الملائكة


Dalam redaksi ini beliau menjelaskan bahwa Allah Swt telah berjanji kepada Ka'bah bahwa setiap tahunnya akan dikelilingi dengan berhaji oleh orang sebanyak enam ratus ribu. 


Bila kurang dari jumlah tersebut, Allah akan menggenapkan kekurangan tersebut dengan Rijalul Ghaib atau Malaikat. Bila lebih dari jumlah itu, maka Allah akan melakukan sesuai dengan kehendaknya. 


"Nek luwih, Akeh sing mati". (Bila lebih dari jumlah itu, maka banyak yang mati)," jelas Mbah Maimoen Zubair mengutip dawuh Mbah Ahmad bin Syu'aib, kakek beliau.


Peristiwa haji dengan jamaah kurang dari enam ratus ribu pernah dialami langsung oleh Mbah Maimoen pada tahun 1950 saat beliau berhaji pada umur 23 tahun. Kala itu Mbah Maimoen berhaji bersama KH Ahmad bin Syu'aib, kakek beliau dari jalur ibu. 

Suasana sekitar Ka'bah saat Masjidil Haram ditutup untuk umum akibat pandemi Covid-19 (Foto: Basem.t.d)


Pada waktu itu Mbah Ahmad bin Syu'aib tiap malam selalu melakukan thawaf dan beliau mendapati banyak Rijalul Ghaib ikut thawaf.


"Dan bila orang yang haji kali ini kurang dari enam ratus ribu, maka akan banyak Rijalul Ghaib yang turun untuk berhaji, wali-wali Allah akan banyak terlihat," kata Gus Taj Yasin Maimoen, Selasa (23/6) mengisahkan hal ini melalui akun Facebooknya.


Selain sebagai Fardu Ain bagi setiap orang yang mampu dan belum berhaji, ibadah haji juga merupakan ibadah fardu kifayah bagi seluruh orang Islam di penjuru dunia. Hal ini lanjutnya, dari segi menghidupkan Ka'bah dengan ibadah thawaf.


"Bila sudah ada satu orang saja di dunia ini yang melakukan haji, maka fardu kifayah tersebut telah gugur dari seluruh orang di dunia," jelasnya.


Walaupun saat ini Pemerintah Indonesia tidak memberangkatkan haji pada tahun 2020, umat Islam di Indonesia tetap tidak terkena dosa karena sudah ada negara lain yang membuka pintu haji walaupun terbatas.


"Dan kita akan menyaksikan peristiwa turunnya Rijalul Ghaib yang mungkin seumur hidup kita hanya terjadi satu kali. Peristiwa itu dulu terjadi pada tahun 1950, dan kemungkinan akan terjadi tahun 2020 ini, yaitu tujuh puluh tahun setelah peristiwa yang dialami," pungkasnya.

 

Baca Juga: Haji 2020 Digelar Terbatas, Menag Apresiasi Keputusan Saudi


Pembatasan Haji 2020
Pada tahun ini, Pemerintah Arab Saudi membuka haji terbatas dan hanya untuk warga Arab Saudi saja. Itu pun dengan persyaratan yang sangat ketat. Sehingga dimungkinkan jumlah orang yang haji kali ini kurang dari enam ratus ribu.


Berdasarkan keterangan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Ibadah Haji tahun ini dapat diikuti oleh ekspatriat yang telah bermukim di Arab Saudi dengan jumlah sangat terbatas.


Keputusan tersebut mempertimbangkan masih adanya pandemi dan risiko penyebaran virus Corona di seluruh negara.


Pembatasan jumlah jamaah ini untuk menjamin keamanan dan keselamatan dengan menerapkan semua langkah pencegahan penyebaran virus Corona demi melindungi setiap orang dari risiko terjangkitnya wabah. Hal ini juga merujuk kepada ajaran Islam yang memprioritaskan keselamatan umat manusia.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin

BNI Mobile