Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Keluarga Maslahah, Pelengkap Bahtera Rumah Tangga ‘Samara’

Keluarga Maslahah, Pelengkap Bahtera Rumah Tangga ‘Samara’
Acara Kiswah Interaktif di TV9 bekerja sama dengan LKKNU. (Foto: Dok. LKK PBNU)
Acara Kiswah Interaktif di TV9 bekerja sama dengan LKKNU. (Foto: Dok. LKK PBNU)

Magelang, NU Online
Menikah adalah sunnah yang bisa menyempurnakan separuh iman setiap individu. Umumnya, laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah, tentu berharap bahtera rumah tangganya akan selalu ‘samara’ (sakinah, mawaddah wa rahmah). Tetapi, menikah dan membina bahtera rumah tangga tidak cukup dengan ‘samara’ atau sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta kasih), wa rahmah (dan kasih sayang).


Hal tersebut dikatakan KH Faqih Abdul Qodir dalam Kajian Islam Ahlusunnah wal Jamaah (Kiswah) bertema Konsep Keluarga Maslahah. Dialog interaktif ini ditayangkan secara live streaming di TV9 Official, Jumat (26/6).


“Keluarga maslahah adalah keluarga yang seluruh anggotanya mampu berperilaku dan berpandangan hingga menghadirkan kebaikan dan kemanfaatan dalam keluarga tersebut. Minimal, dimulai dari masing-masing individu, pasangan suami istri, anak, maupun sampai di titik lingkungan sekitar anggota keluarga tersebut,” tuturnya.


Keluarga maslahah, lanjut Kiai Faqih, menjadi unsur sentral dalam membentuk generasi yang baik. Maslahah berasal dari kata shaluha yang secara harfiah berarti baik, manfaat, dan penting. Sebagai unit terkecil dalam lingkup bersosial di masyarakat, tentu tidak mungkin jika setiap anggota keluarga hanya hidup dan disibukkan dengan aktivitas domestik rumah tangga.


“Ada juga kalanya setiap keluarga harus srawung bersama tetangga atau lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) menerapkan konsep Keluarga Maslahah sebagai pelengkap bahtera rumah tangga yang samara,” ungkapnya.


Menurut penulis buku Qira’ah Mubaadalah ini, konsep Keluarga Maslahah tentu bukan sekedar konsep biasa. Mengingat konsep ini digagas pada tahun 1970-an ketika Indonesia menghadapi tantangan tidak sedikit keluarga yang mengalami problem banyak anak. Namun, memiliki gizi buruk serta sulit mendapatkan akses pendidikan.


NU sebagai ormas Islam terbesar, lanjut dia, tentu diharapkan kontribusinya oleh pemerintah untuk membantu menghadapi tantangan ini. Waktu itu, KH MA Sahal Mahfudh bersama alim ulama lainnya menggagas konsep ini berdasarkan maqashid al-syari'ah.


“Yaitu, lima pilar yang harus dijaga keberlangsungannya oleh setiap makhluk hidup untuk meraih kemanfaatan atau menolak kesulitan dalam hal memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta,” papar Kiai Faqih.


Dari lima pilar tersebut, kata dia, Keluarga Maslahah masuk pada kategori hifdzun nasl (memelihara keturunan) baik perlindungan terkait reproduksi anggota keluarga, perlindungan terhadap wanita, maupun perlindungan terhadap anak.


Empat pondasi
Menurut pria yang juga pengurus Litbang LKKNU ini, ada empat pondasi khas yang dimiliki oleh Keluarga Maslahah. Pertama, relasi antara suami-istri untuk saling berbakti satu sama lain yang mengantarkan keduanya pada sosok individu dengan karakter yang shaleh maupun shalehah.


“Kedua, relasi antara orang tua dan anak di mana orang tua mengupayakan yang terbaik untuk tumbuh-kembang dan masa depan anak, sehingga anak pun berbakti terhadap orang tuanya tanpa perlu diminta,” terang pria asal Cirebon ini.


Ketiga, lanjut Kiai Faqih, pergaulan yang baik terhadap keluarga inti maupun lingkungan sekitar. Keempat, memiliki kapasitas yang memadai dalam mencukupi kebutuhan papan, sandang, dan pangan serta pengetahuan. LKKNU tentu hadir dan berkomitmen dalam seluruh pondasi yang telah disebutkan dalam Keluarga Maslahah khususnya pondasi terakhir.


Menurut dia, beberapa contoh komitmen LKKNU dalam memberdayakan keluarga masyarakat NU menuju Keluarga Maslahah adalah mengadakan kelas pranikah bekerja sama dengan Kemenag RI, dan sejumlah pelatihan seperti mengelola perencanaan keuangan keluarga, kepenulisan, pengelolaan sampah skala rumah tangga dan pesantren, serta pelatihan pencegahan ekstrimisme dalam rangka cinta Tanah Air.


Di sesi terakhir, Kiai Faqih berharap melalui pelatihan-pelatihan dan konsep tersebut, setiap anggota keluarga dapat berbuat baik dan bermanfaat minimal untuk dirinya sendiri terlebih untuk keluarga dan sekitarnya.


“Karena, keluarga yang baik akan menjadi kebaikan untuk tatanan masyarakat dan bangsa ini. Mencetak generasi dzurriyatan thayyibah, mewujudkan masyarakat khairu ummah hingga mengantarkan Indonesia pada tujuan akhir yaitu baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya.


Kontributor: Karimah Iffia Rahman
Editor: Musthofa Asrori
 

BNI Mobile