PEDULI COVID-19

New Normal di Pesantren, Gus Rozin: Pemerintah Harus Jadi ‘Dirijen’ Kebijakan Strategis

PCINU Sedunia membincang soal new normal di pesantren. (Foto: istimewa)
PCINU Sedunia membincang soal new normal di pesantren. (Foto: istimewa)
PCINU Sedunia membincang soal new normal di pesantren. (Foto: istimewa)

Berlin, NU Online
Pemerintah Indonesia diharapkan lebih serius mengomando kebijakan strategis dalam penerapan new normal di pesantren. Hal ini menjadi rekomendasi Talkshow #DiasporaNusantara yang disiarkan secara virtual di youtube 164 Channel, pada Sabtu (27/6) pukul 16.00 WIB/11.00 CEST.


Agenda talkshow diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) se-dunia bekerja sama dengan 164 Channel dan Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).


Talkshow ini menghadirkan narasumber Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozien) dan Baktiar Hasan (European Organization for Research and Treatment for Cancer (EORTC). Host-nya yakni M Rodlin Billah (Karsruhe Institute of Technology, Germany dan Ketua PCINU Jerman). 


Gus Rozin mengungkapkan, pemerintah seharusnya menjadi ‘dirijen’ dalam kebijakan strategis penanganan Covid-19, seraya mengomando semua pemerintah daerah.


“Di antara yang kami dorong, adalah pemerintah pusat melakukan upaya orkestrasi, menjadi dirigen pemerintah-pemerintah daerah supaya standar dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 di pesantren,” ungkap Rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati Jawa Tengah ini.


Ia menganggap banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah. Bahkan, dengan biaya yang seminimal mungkin. “Paling tidak, ada kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah. Misalnya, bisa dilakukan melalui puskesmas terdekat. Termasuk upaya melakukan standarisasi ruang karantina dan isolasi pesantren.”


“Dari laporan yang masuk ke RMI, pesantren itu pengennya sangat patuh terhadap protokol. Misalkan ingin buat ruang karantina dan isolasi. Tetapi hanya berdasar asumsi masing-masing. Maka, di sisi inilah, pemerintah bisa masuk untuk melakukan orkestrasi dan koordinasi. Bahkan, hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya ini,” ungkap Gus Rozin. 


Selama ini, pesantren telah mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah, serta sebagian membentuk satgas khusus. "Memang ada pesantren yang memiliki satgas khusus penanganan Covid-19, ada banyak juga. Tapi harus kita sampaikan, mayoritas pesantren tidak memiliki kemampuan mitigasi dan komunikasi publik yang luar biasa," terang Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati ini.


“Di antara langkah yang dipersiapkan, yakni membentuk tim satgas masing-masing pesantren. Nah, satgas pesantren yang paling mudah ya menginduk pada satuan gugus tugas di masing-masing pemerintah daerah. Ada banyak pemda yang sigap, misal di Banyuwangi, Pasuruan, Jombang, Jember dan beberapa kawasan lain," jelasnya.


Strategi baru
Baktiar Hasan yang juga perwakilan PCINU Belgia ini menjelaskan, memang harus ada strategi baru dalam pemberlakuan tatanan normal baru di pesantren dengan metode tes kesehatan khusus. Saat ini, ada beberapa metode baru yang sebagian telah terpublikasi secara ilmiah.


“Di antara cara untuk menghemat biaya, yakni dengan mengetes massal, untuk rapid tes, semisal 1000 orang dalam satu sampel tes. Jadi, itu penghematan besar, untuk clearance. Kalau negatif virus, jadi aman semua. Kalau terbukti ada yang kena Covid-19, nanti dites lagi berdasar kluster," ungkap pakar epidemiologi dan biostatistik itu.


Peneliti Karsruhe Intitute of Technology Germany dan Ketua PCINU Jerman M Rodlin Billah siap mendorong kolaborasi Nahdliyin Eropa dan komunitas pesantren. “Kami dari Nahdliyin Eropa siap menunggu arahan untuk mengabdi di pesantren,” ujarnya.


Koordinator Program Talkshow Diaspora Nusantara, Munawir Aziz, mengungkapkan bahwa agenda ini sebagai ruang silaturahmi dan sharing gagasan dari pakar, profesional dari Nahdliyyin se-dunia.


“Ada ratusan pakar, profesor, ilmuan, dan profesional yang tersebar di lintas negara. Selama ini mereka mengabdi di pelbagai kampus dan lembaga riset internasional, serta bergiat di PCINU di 31 negara. Kami membangun jembatan silaturahmi agar gagasan, kreativitas, dan energi diaspora ini menjadi semakin berkah dan maslahah," ungkap Sekretaris PCINU United Kingdom ini.


Kontributor: Hannan Zayn
Editor: Musthofa Asrori
 

BNI Mobile