Gus Wachid Mahfudz Wafat, Tebuireng dan NU Jatim Berduka

Gus Wachid Mahfudz Wafat, Tebuireng dan NU Jatim Berduka
Almarhum H Mochamad Abdul Wachid bin KH Mahfudz Anwar. (Foto: NU Online/istimewa)
Almarhum H Mochamad Abdul Wachid bin KH Mahfudz Anwar. (Foto: NU Online/istimewa)

Jombang, NU Online
Keluarga besar Pesantren Tebuireng Jombang dan Nahdlatul Ulama Jawa Timur berduka. H Mochamad Abdul Wachid bin KH Mahfudz Anwar, salah satu cucu Nyai Khoiriyah Hasyim berpulang ke rahmatullah pada Sabtu (27/6) malam. Innalillahi wainna ilahi rajiun.

 

Pria yang akrab disapa Gus Wachid tersebut merupakan adik kandung Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Sebelum wafat, Gus Wachid sempat dirawat beberapa hari di Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya.

 

Lulusan pascasarjana teknik maritim di Technische Universiteit Delft Belanda ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Petrogras Jatim Utama sejak 30 Juli 2019. Sebagai dzurriyah pendiri Nahdlatul Ulama, Gus Wachid juga mengabdikan diri menjadi Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim sejak 2018.

 

Meski belum terlalu lama terlibat dalam kepengurusan, banyak kenangan yang diungkap oleh para pegiat NU Jawa Timur. Hal itu dipicu oleh sosok Gus Wachid yang supel dan cepat akrab dengan siapa pun.

 

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jatim, A Afif Amrullah menceritakan. Bahwa ketika awal merebaknya wabah Covid-19, Gus Wachid dalam kapasitas sebagai Dirut BUMD mengalokasikan bantuan satu unit bilik disinfektan untuk PWNU Jawa Timur. 

 

"Sampai saat ini, bilik disinfektan tersebut masih terpasang di depan pintu lantai dua PWNU Jatim," tuturnya.

 

Ustadz Ahmad Muntaha, salah seorang PW dari Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jatim menyebut Gus Wachid sebagai sosok istimewa dan sangat bersahaja. 

 

"Nasabnya mulia, profesionalitas kerjanya terbukti nyata, dan totalitas pengabdiannya menjadi teladan aktivis muda," tulis Ustadz Muntaha di akun Facebook-nya.

 

Ustadz Muntaha menambahkan, sejauh pergaulannya yang sangat terbatas dalam pertemuan formal maupun informal di PWNU Jatim, dia menemukan teladan nyata dalam pengabdian senyap Gus Wachid.

 

Pengakuan senada disampaikan oleh Ketua PW Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jatim, Fauzi Priambodo. Branding specialist beberapa perusahaan ternama ini menceritakan kenangannya berdiskusi dengan Gus Wachid beberapa bulan sebelum pandemi menyambangi negeri ini.

 

"Terakhir beliau meminta saya menyiapkan strategic plan untuk pengembangan ekonomi NU. Sayangnya saya belum sempat menindaklanjuti permintaan itu. Keburu disibukkan oleh pandemi," kenang pria yang juga sempat diajak Gus Wachid ikut membantu pengembangan BUMD Jatim tersebut.

 

Gus Wachid, kata Fauzi, ingin kompleks PWNU dikembangkan menjadi tower atau gedung perkantoran profesional dan modern. Lengkap dengan hotel syariah, pusat bisnis dan fasilitas pendukung lainnya. 

 

"Karena kalau dilihat lokasinya dekat Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya sangat strategis dan lahan yang tersedia masih luas," jelasnya.

 

Paryono Nur Abdillah, salah satu pegiat NU yang hampir tiap hari beraktivitas di gedung PWNU Jatim menuturkan pengalamannya berinteraksi dengan Gus Wachid. 

 

"Setiap ketemu, beliau selalu ngajak ngobrol," ungkapnya.

 

Gus Wachid dimakamkan di kompleks makam keluarga Pesantren Seblak, Jombang Ahad (28/6) dinihari. Menurut KH Abdul Halim Mahfudz (Gus Iim) yang merupakan kakak kandung Gus Wachid, pemakaman berjalan lancar.

 

Jenazah dikabarkan datang dari Surabaya pukul 00:30 WIB dan prosesi pemakaman berakhir sekitar pukul 01:30 WIB dengan prosedur sesuai protokol kesehatan oleh Satgas Covid Kabupaten Jombang c.q. BPBD Jombang. Jenazahnya bersanding dengan makam ayahanda, KH Mahfudz Anwar.

 

"Keluarga dan santri Seblak salat jenazah sebelum dimakamkan, lengkap dengan adzan dan talqin," kata Gus Iim. 

 

Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 

BNI Mobile