Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kenalkan NU Sejak Dini, Lesbumi MWCNU di Jember Gelar Lomba Membuat Layang-layang

Kenalkan NU Sejak Dini, Lesbumi MWCNU di Jember Gelar Lomba Membuat Layang-layang
Ketua Lesbumi MWCNU Ledokombo, Kabupaten Jember, Lefand (paling kanan) memperhatikan hasil lomba membuat layang-layang berlogo NU. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua Lesbumi MWCNU Ledokombo, Kabupaten Jember, Lefand (paling kanan) memperhatikan hasil lomba membuat layang-layang berlogo NU. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Untuk menanamkan kecintaan generasi  muda terhadap NU, tak harus selalu dengan penjejalan doktrin, ceramah, dan sebagainya. Tapi bisa jadi dengan menyuguhkan lomba yang terkait dengan logo NU. Inilah yang dilakukan oleh Lesbumi MWCNU Ledokombo,  Kabupaten Jember, Jawa Timur.


Titelnya remeh:  lomba membuat layang-layang. Bukan layang-layang biasa, tapi wajib dicantumkan  logo NU di layang-layang tersebut. Pesertanya mencapai 56 orang, yang merupakan murid MI Nuruzzaman, Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, dan  anak-anak di sekitar madrasah tersebut.


Lomba yang bekerja sama dengan Ranting NU Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo itu dipusatkan di  gedung MI Nuruzzaman,  Ahad, (5/7).


Menurut Ketua Lesbumi MWCNU Ledokombo, Muhammad Lefand, lomba tersebut untuk mengenalkan NU lebih dekat  kepada generasi yang masih belia itu. Ia meyakini pengenalan NU dengan cara menggelar lomba seperti itu lebih pas untuk anak-anak.


“Setidaknya mereka bertanya apa NU  itu, dan kami menjelaskan apa makna logo itu di sela-sela penilaian,” ucapnya.


Lefand menambahkan,  dewasa ini waktu anak-anak nyaris  habis untuk bermain dan nonton televisi, atau bahkan bermain gawai. Jangankan untuk mengenal NU, buat  belajar  mengaji saja, waktunya sudah banyak tersita untuk bermain. Buktinya, mushala sudah jauh berkurang  santrinya. Tidak sesemarak dulu.  Apalagi sampai nginep di mushala, itu sudah tidak ada.  Anak-anak seusia Sekolah Dasar, lebih memilih pualng ke rumah agar bisa nonton televisi  dan bermain.


“Padahal  dulu kalau santri mushala  nginep, itu paginya masih diajari mengaji sebentar, dan subuhnya dijaga. Itu zaman saya dulu, tapi sekarang, kebiasaan itu tinggal cerita,” kenangnya.


Oleh karena itu, lanjut Lefand, orang tua dan para pemangku kepentingan harus pandai-pandai berkreasi untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada anak-anak, termasuk memperkenalkan NU.  Sebab, NU tidak boleh lewat dari pengalaman dan memori anak-anak  agar NU sekian puluh tahun kedepan tetap hidup di bumi pertiwi  ini.


“Mari NU kita tanamkan sejak dini kepada anak-anak kita bagaimanapun caranya,” harap alumnus Universitas Islam Jember itu.


Di tempat yang sama, Ketua Ranting NU Desa Sumbersalak, Muhammad Ali menegaskan, lomba tersebut  sangat bermanfaat, tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi orang tua agar sekali-kali mengenalkan NU kepada anaknya.


“Insyaallah lomba seperti ini akan kami laksanakan secara rutin. Tapi bukan layang-layang tok agar tidak monoton. Yang penting ada logo NU-nya,” jelasnya.


Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Lesbumi NU Jember, H Rasyid  Zakaria memberikan apresiasi terhadap  pelaksanaan lomba tersebut. Menurutnya, syiar  lomba cukup mengena. Apalagi nanti layang-layang itu juga dinaikkan ke udara.


“Syiar NU-nya dapat. Lomba membuat layang-layang cukup efektif untuk kenalkan NU sejak dini,” ungkapnya.


Sekadar diketahui, bermain layang-layang  setiap sore saat ini booming di desa-desa di Ledokombo. Di tengah serbuan wabah Corona yang tak tahu kapan berakhir nya,  bermain dan menonton permainan  layang-layang  rupanya menjadi altenatif  hiburan tersendiri bagi masyarakat.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile