Dobrak Sistem Ijon, Santri Sukorejo Situbondo Rintis Pabrik Kopi

Ustadz Bukhari dengan dua unit mesin sangrai di belakangnya. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ustadz Bukhari dengan dua unit mesin sangrai di belakangnya. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ustadz Bukhari dengan dua unit mesin sangrai di belakangnya. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Salah satu skema pembiyaan yang  masih berlangsung di kalangan petani adalah sistem ijon. Pembiayaan dengan cara ini cukup mencekik leher tapi sering tak bisa dihindari karena masyarakat  butuh biaya cepat tanpa ruwet administrasi.


Cara kerjanya adalah pengijon memberi pinjaman uang kepada petani untuk membiayai produksi pertaniannya. Nanti saat panen,  petani harus menjual hasil panennya kepada pengijon, tentu dengan harga miring. Yang menentukan harga bukan lagi petani, tapi pengijon.


Itulah salah satu hal yang cukup lama menjadi kegundahan Imam Bukhari. Pria yang tinggal di Dusun Sumbercanting, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, Jember, Jawa Timur ini, naluri kesantrinnya bergerak saat menyaksian kondisi petani kopi banyak menggantungkan pembiayaan kopinya pada sistem ijon. Ustadz Bukhari  tahu persis kondisi petani kopi karena ia memang tinggal di desa yang  hampir semuanya bergantung  pada tanaman kopi sebagai mata pencahariannya.


Tugusari adalah sebuah desa di kaki gunung Argopuro yang  tanahnya sangat cocok untuk tanaman kopi Robusta.


“Alhamdulillah, saya akhirnya mempunyai usaha pembuatan kopi bubuk, sehingga bisa membeli kopi petani dengan harga wajar. Ini sekaligus untuk menghindarkan petani dari jebakan pengijon,” ujar  Ustdaz Bukhari di kediamannya, Ahad (5/7).


Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo ini mendirikan pabrik kopi bukan untuk memperkaya diri sendiri, tapi juga untuk memberdayakan petani kopi. Caranya adalah menjauhkan mereka dari pengijon.

 

“Bukan produksi kopi menurun, tapi karena rata-rata petani sudah terjerumus dalam permainan pengijon sehingga mereka tidak berdaya. Bahkan kalau harga kopi lagi turun, buat biaya produksi saja tidak imbang,” terangnya.


Ia menegaskan, kebiasaan petani kopi adalah mengambil uang dulu kepada pengijon, bukan cuma untuk ongkos produksi tapi juga untuk kehidupan sehari-hari. Sehingga saat panen tiba, kopi habis ‘terjual’ kepada pengijon, dan uang juga amblas.


“Petani sangat tidak berdaya,” ungkapnya.


Ustadz Bukhari  ingin mengubah kebiasaan itu. Ia membeli kopi petani dengan harga di atas biasanya. Selisihnya Rp3 ribu perkilogram. Jika harga di pasar (pengijon), Rp20 ribu/kilogram, maka ia membeli dengan harga Rp23 ribu/kilogram. Begitu seterusnya.


Dikatakannya, jumlah petani kopi di Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari sekitar 1000 orang. Meskipun tidak semuanya bisa diakomodasi oleh Ustadz Bukhari dalam pembelian kopi, tapi paling tidak ia sudah memelopori pembelian kopi dengan harga yang wajar sekaligus melepas mereka dari jebakan pengijon.


Selain membeli kopi, Ustadz Bukhari juga membeli rempah dari masyarakat. Rempah tersebut untuk campuran kopi.  Tanaman rempah yang selama ini tumbuh tak terawat di pekarangan dan kebun, kini punya nilai ekonomis.


“Kami berdayakan petani. Juga rempah yang selama ini tak berharga, kami beli,” ujarnya.


Salah seorang petani kopi, Wahyudi mengaku sangat terbantu dengan adanya usaha (pabrik) kopi milik Ustadz Bukhari. Sebab petani kopi bisa menjual hasil panennya dengan harga wajar.


“Kami petani cukup terbantu dengan adanya pabrik itu (milik Ustadz Bukhari),” ungkapnya.


Pabrik kopi yang dikelola oleh Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Ihya’us Sunnah  Al-Hasany tersebut berlokasi di Dusun Sumbercanting, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, Jember. Koppontren tersebut  memproduksi kopi bubuk dua varian: kopi jantan dan kopi rempah, dengan merk BIKLA.  


BIKLA merupakan  akronim dari Barokah Ibrahimy Kopi Lereng Argopuro. Sebuah nama yang mengisyaratkan keterkaitan dengan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Raden Ibrahim adalah nama asli KH Syamsul Arifin, pendiri pesantren tersebut sekaligus ayahanda KH As’ad Syamsul Arifin.


Saat ini setiap hari Koppontren Ihya’us Sunnah Al-Hasany menghabiskan 3.000 paket kopi BIKLA. Setiap  paket dengan berat 125 gram. Pemasaran dan pemesanannya dilakukan secara manual  dan  dalam jaringan atau Daring.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile