Haji A. A. Achsien, Aktivis Awal GP Ansor yang Lahir dan Wafat 12 Juli

Haji A. A. Achsien, Aktivis Awal GP Ansor yang Lahir dan Wafat 12 Juli
Tokoh NU bepotret bersama. Dari kiri ke kanan: KH Zainul Arifin, AA Achsien, KH Masykur, Djamaluddin Malik
Tokoh NU bepotret bersama. Dari kiri ke kanan: KH Zainul Arifin, AA Achsien, KH Masykur, Djamaluddin Malik

Jakarta, NU Online  
Pada hari ini 12 Juli, ada salah seorang tokoh NU yang secara kebetulan lahir serta wafat pada tanggal yang sama pula. Sama-sama 12 Juli. KH Saifuddin Zuhri, sepertinya menganggap hal demikian terbilang unik.  


“Tidak banyak terjadi bahwa hari tanggal wafat seseorang bersamaan dengan hari tanggal lahirnya. Persamaan yang paling sempurna terjadi pada diri junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Hari dan tanggal wafat persis sama benar dengan hari dan tanggal lahir. Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal. Hanya tahunnya yang berbeda, tentu. Selisih 63 tahun,” ungkapnya sembari menukil Ibnu Hisyam Siratun Nabi 1/171, IV/332-333.


Ungkapan KH Saifuddin Zuhri ini merupakan pembuka pada tulisan yang untuk mengenang Haji A. A. Achsin, tokoh NU yang mengabdi dari ranting di daerah kelahirannya, Kudus, Jawa Tengah, turut serta menjadi pengurus Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO, sekarang menjadi Gerakan Pemuda Ansor), salah seorang pengurus NU di Jawa Barat, hingga menjadi tokoh NU di tingkat pusat (PBNU).  


A. A. Achsin wafat pada tahun 1979 pada usia 64 tahun. Kiai Saifuddin tidak menyebut tahun kelahirannya. Untuk mengetahuinya, Kiai Saifuddin Zuhri mungkin mempersilakan pembaca untuk menghitung sendiri. Ketika dihitung, sudah barang tentu pada 1915. 


Ditilik dari panjang usianya, 64, A. A. Achsien hanya selisih setahun dengan panjang usia  Nabi Muhammad SAW. Karena itulah, Kiai Saifuddin, menautkannya. Selain unik, beberapa persamaan itu sepertinya dianggap istimewa. 


Berita tentang wafatnya A. A. Achsien pada tahun itu, menurut Kiai Saifuddin mengejutkan sebagai besar kawan-kawannya di seluruh Indonesia. 


“A. A. Achsien memang mempunyai banyak kawan dan sahabat di seluruh Indonesia sejak puluhan tahun. Achsien telah mempunyai nama semenjak zaman pergerakan sebelum Indonesia merdeka,” tulis Kiai Saifuddin pada artikel H. A. A. Achsien; dari Angkatan Pionir Pejuang yang terdapat pada buku Secercah Dakwah yang diterbitkan PT Al-Ma’arif Bandung 1983. 


Pada Ensiklopedia NU, nama A. A. Achsien menjadi entri pertama di jilid kesatu. Jelas karena struktur namanya diawali dengan huruf A berjumlah tiga, secara berturut-turut pula. Ya, memang ensiklopedia disusun dengan berdasarkan abjad. Jadi nama A. A. Achsien pertama tanpa tertandingi karena jarang sekali ada struktur nama yang demikian.


Lalu apa A berderet dua di depan nama Achsien itu? KH Saifuddin Zuhri memberitahunya, yaitu A yang pertama adalah Alwi, nama kakeknya. A kedua adalah Abubakar, nama ayahnya. Jadi, nama lengkap dia adalah Alwi Abubakar Achsien. Kakek dan ayahnya diborong jadi satu dalam namanya. 


Alfatihah…


Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Alhafiz Kurniawan   

BNI Mobile