Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Al-Quran di Tanah Betawi (2)

Al-Quran di Tanah Betawi (2)
Umumnya orang-orang tua di Betawi dulu dan sampai sekarang sangat memperhatikan pendidikan baca Al-Qur’an bagi anak-anaknya.
Umumnya orang-orang tua di Betawi dulu dan sampai sekarang sangat memperhatikan pendidikan baca Al-Qur’an bagi anak-anaknya.

Alunan Suara Al-Qur'an Nyi Mas Subang Larang Menggetarkan Lawan

Berita kedatangan dan kegiatan Syekh Quro di Karawang terdengar oleh Prabu Anggalarang yang kemudian mengutus utusannya untuk menutup Pesantren Syekh Quro. Utusan yang datang itu dipimpin oleh putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa.


Sampai di Pesantren Syekh Quro, Raden Pamanah Rasa tertarik oleh alunan suara merdu pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangankan oleh Nyi Mas Subang Larang sehingga ia mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Syekh Quro.


Selain itu, Raden Pamanah Rasa jatuh hati kepada Nyi Mas Subang Larang. Akhirnya, keduanya menikah setelah Raden Pamanah Rasa masuk Islam. Dari pernikahan ini mereka mendapatkan tiga orang putra-putri, yaitu Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang, dan Raja Sangara.


Raja Sangara terkenal dengan nama Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat) penyebar agama Islam di tanah Sunda. Bahkan menurut Ridwan Saidi, Kian Santang juga penyebar agama Islam di tanah Betawi, khususnya di daerah Karawang. (Ridwan Saidi, Potret Budaya Manusia Betawi, [Jakarta, Perkumpulan Renaissance Indonesia: 2011], cetakan ke-1, halaman 13).


Menjelang akhir hayatnya, Syekh Quro melakukan uzlah atau menyepi diri dari pesantrennya ke salah satu Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, yang sekarang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Lemahabang yang masih berada di wilayah Karawang.


Ada keterangan yang menarik mengenai letak kuburan Syekh Quro. Menurut pengakuan salah satu imam Masjid Agung Karawang. Syekh Quro wafat dan dikuburkan persis di depan Masjid Agung Karawang kini yang kini ditutupi oleh tembok. Hal ini dilakukan agar orang tidak ramai menziarahi kuburannya dan mengultuskannya. (Wawancara dengan salah satu imam Masjid Agung Karawang, Senin, 18 Oktober 2010, nama dirahasiakan).


Namun, buku Ikhthisar Sejarah Singkat Syekh Qurotul`ain mengatakan bahwa makam Syekh Quro berada di Pulobata sehingga banyak orang yang datang menziarahinya untuk berbagai keperluan.


Dari pengakuan E Sutisna (keturunan dari Raden Somaredja yang menemukan malam tersebut), makam Syekh Quro yang berada di Pulobata adalah ”maqam” atau petilasan, bukan kuburannya sehingga dapat dikatakan bahwa yang berada di Masjid Agung Karawang adalah kuburan dari Syekh Quro, bukan yang berada di Pulobata. (Wawancara dengan E Sutisna, Kepala Desa Pulokalapa, Lemahabang, Karawang di kediamannya. Senin, 18  Oktober 2010).


Baca Alquran Metode Baghdadiyah oleh Syekh Quro dan Murid-Muridnya

Di Betawi, istilah membaca Al-Qur’an adalah mengaji. Dulu, anak-anak Betawi tidak diajarkan yang lain sebelum dapat mengaji karena bagi orang Betawi, tidak bisa ngaji adalah aib. Umumnya orang-orang tua di Betawi dulu dan sampai sekarang sangat memperhatikan pendidikan baca Al-Qur’an bagi anak-anaknya.


Sebelum ada metode Iqra dan yang sejenisnya, metode yang digunakan guru mengaji di Betawi adalah metode Baghdadiyah. Disebut metode atau kaidah Baghdadiyah karena metode ini berasal dari Baghdad, muncul pertama kali pada masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah(132 H/750 M s.d 656 H/1258 M). Selain itu, karena tidak atau belum diketahui pasti siapa penyusun dari metode ini maka oleh para penggunanya metode ini dinamakan dari tempatnya berasal, Baghdad.


Menurut saya, Syekh Quro dan murid-muridnya menggunakan metode Baghdadiyah ketika mengajarkan Alquran bagi para pemula. (tps://republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/n7gb8726/alquran-di-bumi-betawi).


Di zaman sekarang, masih banyak guru ngaji di Betawi yang tidak mau menggantikan metode Baghdadiyah ini dengan metode lain. Ada beberapa alasan yang membuat mereka tetap menggunakan metode Baghdadiyah ini.


Di antaranya, yaitu pertama, metode ini merupakan metode yang telah diajarkan oleh guru mereka secara musalsal (tersambung dari guru-guru sebelumnya), memiliki sanad, dan mereka merupakan pelanjut dari guru mereka yang telah diijazahi untuk mengajarkan metode ini.


Kedua, metode Baghdadiyah diyakini lebih baik, lebih unggul, dari metode-metode lainnya karena metode ini bukan menargetkan murid bisa cepat mengaji, tetapi yang sangat penting, si murid bisa mengaji dengan makhraj dan tajwid yang benar.


Keyakinan para guru ngaji di Betawi bahwa metode Baghdadiyah lebih baik dan lebih unggul dari metode-metode lainnya bukan tanpa alasan. Secara didaktik, materi-materi Baghdadiyah diurutkan dari yang konkret ke abstrak, dari yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang terperinci.


Secara garis besar, metode Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. Tiga puluh huruf hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema sentral dengan berbagai variasi.


Oleh karena itu, metode Baghdadiyah memiliki beberapa kelebihan, yaitu materi pelajaran disusun secara sekuensif, 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh sebagai tema sentral, pola bunyi dan susunan huruf atau wazan disusun secara rapi, keterampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri, dan  materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah.


Namun demikian, metode Baghdadiyah memiliki beberapa kekurangan, di antaranya, adalah penyajian materi terkesan menjemukan, penampilan beberapa huruf yang mirip menyulitkan murid, dan memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur’an. (selesai...)


Penulis: Rakhmad Zailani Kiki

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile