Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Memahamkan NU kepada Kader Butuh Proses

Memahamkan NU kepada Kader Butuh Proses
Kegiatan pengkaderan pelajar dan mahasiswa Demak (Foto: NU Online/A Shiddiq Sugiarto)
Kegiatan pengkaderan pelajar dan mahasiswa Demak (Foto: NU Online/A Shiddiq Sugiarto)

Demak, NU Online

Untuk memahamkan dan mengenalkan ajaran Islam Ahlussunnah  Wal Jama'ah (Aswaja) kepada kaum yang belum mengenalnya perlu proses panjang dan sabar, telaten, juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih kepada mereka yang belum pernah dimasuki aliran Islam dengan paham lain.

 

Pengurus Wilayah Aliansi Dosen NU Jawa Tengah Thoriqul Huda menjelaskan, perlunya pemahaman yang sama dalam ideologi Islam Aswaja dengan terlebih dulu melalui proses pengenalan, pemahaman, dan ajakan secara berkesinambungan.

 

“Mestinya kita perlu bersyukur sebagai umat dan warga NU. Dalam beragama dan ajaran aswaja, bermadzhab tinggal makan makanan yang sudah matang tinggal menikmati. Beda halnya dengan nenek moyang kita dulu dalam berjuang menegakkan dan menyebarkan akidah aswaja,” terangnya.

 

Hal itu disampaikan saat memberikan materi pengkaderan ke-NU-an pada pelajar dan mahasiswa Demak bertempat di Masjid Al-Mubarokah Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota, Jawa Tengah, Ahad (12/7).

 

Menurutnya, sebagai pemateri diskusi pada tahap pengenalan NU kepada kaum muda, penting memahamkan sejarah NU, penjabaran sejarah asal muasal berdirinya Nahdlatul Ulama yang dinahkodai Rais Akbar KH Muhammad Hasyim Asy’ari hingga merdekanya bangsa Indonesia sampai sekarang.

 

 

Dirinya juga menyinggung  pada perkembangannya hingga cara berfikir madzhab dalam berakidah, berfikih, dan berakhlak sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah.

 

“Keberhasilan ini  tidak bisa hanya dengan pertemuan formal saja, akan tetapi belajar tentang Islam Aswaja An-Nahdliyah juga dengan mengikuti tahap pengkaderan seperti yang dilakukan IPNU, IPPNU, Ansor, dan Fatayat," tegasnya.

 

Di samping itu lanjutnya, juga harus masih diikuti dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh NU.


Sementara itu, sehari sebelumnya di tempat yang sama, sebagai upaya untuk mewariskan tradisi Islam nusantara yang berhaluan ahlusunnah wal jamaah an-nahdiyah kepada generasi muda mudi Desa Kedondong, NU Ranting Kedondong mengambil inisiatif untuk memperkenalkan sebuah organisasi yang mewadahi usia pelajar (IPNU dan IPPNU).

 

Ketua Pengurus Ranting NU Kedondong Kiai Abdul Rozaq kepada NU Online, Senin (13/7) mengatakan, dirinya selalu menyampaikan pesan kepada kaum terpelajar tidak malu dan segan mengakui sebagai kader NU. 

 

"Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengingatkan kepada anak muda NU untuk tidak malu mengaku sebagai anak idelogis maupun biologis NU," tegasnya.

 

Dirinya meminta para kader NU untuk membaca dan memahami sejarah awal mula tujuan dibentuk dan didirikannya organisasi Islam terbesar di dunia ini dengan cara belajar sejak dini sehingga mereka juga bisa menghormati dan menghargai para ulama.

 

“Jangan segan-segan sebagai pemuda dan pelajar untuk mengatakan kami pemuda NU, kami pelajar NU dan kami anak-anak NU,” tegasnya.

 

Usai diskusi digelar dilanjutkan dengan reorganisasi IPNU-IPPNU Ranting Kedondong. Dalam kesempatan itu terpilih sebagai Ketua IPNU Lukman Hakim, sedangkan Indah Arifatul Muawanah sebagai Ketua IPPNU Ranting Kedondong.

 

Kontributor : A Shiddiq Sugiarto
Editor: Abdul Muiz
 

BNI Mobile