Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ketua Jam’iyah Ruqyah Aswaja Jabar Soroti Pembelajaran Jarak Jauh

Ketua Jam’iyah Ruqyah Aswaja Jabar Soroti Pembelajaran Jarak Jauh
Ketua JRA Jabar KH Luthfi al-Maghribi dalam sebuah acara. (Foto: Istimewa)
Ketua JRA Jabar KH Luthfi al-Maghribi dalam sebuah acara. (Foto: Istimewa)

Subang, NU Online
Agar dapat memahami ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sejak 14 abad silam, perlu berguru kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang sambung menyambung sampai Rasulullah. Sebab, tanpa adanya sanad ilmu bisa berpotensi akan merusak ajaran Islam itu sendiri.


Demikian disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Jam`iyah Ruqyah Aswaja (PW JRA) Jawa Barat, KH Luthfi al-Maghribi, usai menggelar kegiatan Manaqib Kubro dan Istighotsah di Pesantren Al-Fattah, Kalijati, Subang, Kamis (23/7) malam.


“Sanad ilmu dalam Islam itu hukumnya wajib. Bahkan, Syekh Abu Yazid al-Busthami menyatakan bahwa barang siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya itu adalah setan,”tegas pria yang biasa disapa Gus Luthfi itu.


Wakil Katib PCNU Subang itu mengutip pernyataan Syaikh al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi yang mengatakan bahwa umat Islam diperintah untuk membetulkan bacaan Al-Qur`an dan huruf-hurufnya dengan cara bertemu langsung dengan para imam ilmu Qiraat yang sanadnya bersambung kepada Nabi.


“Makanya kita diajarkan oleh para guru untuk mondok supaya ilmunya berkah dan bersanad. Jadi, dalam Islam bukan hanya bisa membaca dan menulis saja,” tambahnya.


Mengenai hal ini, Gus Luthfi menyoroti gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang rencananya akan dipermanenkan. Karena hal itu memiliki masalah yang masih beririsan dengan pernyataan Syekh Jalaluddin as-Suyuthi.


“Transfer ilmu mungkin bisa dilakukan melalui jarak jauh. Sebab, itu domain kognitif. Akan tetapi, saya kira tidak bisa untuk melakukan transfer akhlakul karimah,” tandasnya.


Karena, lanjut dia, akhlak masuk domain afektif dan psikomotorik yang tidak hanya bekerja di wilayah akal saja, melainkan harus diikuti dengan praktek langsung di bawah bimbingan guru.


“Pembelajaran akhlak secara jarak jauh bisa saja kalau untuk sekali atau dua kali. Tapi kalau sampai menjadi permanen, saya kira akan membawa dampak buruk bagi generasi penerus bangsa,”tambah Pengasuh Pesantren Al-Fattah itu.


Gus Luthfi pun menceritakan pengalamannya dalam melakukan ruqyah yang sering dilaksanakan secara jarak jauh. Namun, untuk memaksimalkan atau untuk menangani masalah tertentu, pelaksanaan ruqyah tetap harus dilakukan melalui jarak dekat.


“Apalagi belajar ruqyah-nya. Tidak bisa itu dilakukan melalui jarak jauh. Harus langsung di bawah bimbingan guru,”tegasnya.


Saat ini, kata dia, tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan pola pembelajaran jarak jauh, salah satu hal yang dikeluhkan adalah ketika anak-anak memegang gadget durasinya lebih banyak dipakai untuk main game daripada untuk belajar.


“Jadi, tidak semua hal bisa didigitalisasi. Contohnya, makan dan minum yang tidak bisa dilakukan melalui digital jarak jauh. Begitu pun dengan ‘makan dan minum’ untuk akal dan hati kita,” pungkasnya.


Kontributor: Aiz Luthfi
Editor: Musthofa Asrori

BNI Mobile