Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Dubes Agus Maftuh Ungkap Popularitas Istilah dan Tradisi NU di Arab Saudi

Dubes Agus Maftuh Ungkap Popularitas Istilah dan Tradisi NU di Arab Saudi
Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel saat bertemu dengan Raja Salman. (Foto: Istimewa)
Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel saat bertemu dengan Raja Salman. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Prinsip-prinsip beragama dan istilah-istilah yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama saat ini sudah mendunia. Di Arab Saudi, istilah tasamuh (toleran), i’tidal (konsisten), dan tawasuth (moderat) yang merupakan ciri utama ajaran Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah sudah sangat populer. 


Ini terjadi sejak Pangeran Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS) menyampaikan sebuah pidato pada 2017 dengan kata-kata yang sangat tegas menyebut istilah tersebut. ‘Nahnu faqad na’udu ila ma kunna alaihi minal islam al-wasati al mu’tadili al mutasamihi al munfatihi ‘alal alam wa ’ala jami’il adyan’ (Kita pasti akan kembali kepada Islam yang moderat, yang lurus, yang toleran. yang terbuka ke seluruh dunia dan semua agama).


Budaya dan tradisi Indonesia dan Nahdlatul Ulama pun sudah bergema di Arab Saudi dengan menjadikan Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam sebuah pameran budaya tahun 2018 dan 2019 di wilayah Janadriyah. Pameran ini merupakan dialog antarperadaban Nusantara dan Timur Tengah yang orang Arab Saudi sendiri menyebutnya sebagai dialog peradaban terbesar di Abad 21.


Dalam pameran budaya selama satu bulan ini, bergemuruh lantunan Shalawat Badar yang merupakan tradisi Nahdlatul Ulama. Dalam ajang tersebut, para pendekar Pencak Silat NU (Pagar Nusa) juga tampil memainkan kehebatan jurus-jurusnya di atas panggung besar yang dibuka langsung oleh Raja Salman.


Hal ini diungkapkan Duta Besar RI untuk Arab Saudi H Agus Maftuh Abegebriel saat berbicara pada Silaturahmi NU Se-Dunia Ke-19 yang digagas oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi, Sabtu (25/7).


“Sekarang kata i’tidal juga sudah dijadikan sebuah nama lembaga yang sangat terhormat di Arab Saudi yaitu i’tidal limukafahah al-fikri al-mutatharrif (sebuah lembaga yang memerangi pemikiran-pemikiran dan ideologi ekstrem),” tambah Agus Maftuh.


Fakta ini tentunya akan menjadi semangat tersendiri bagi umat Islam di Indonesia yang mayoritas merupakan warga NU untuk terus menggaungkan Islam yang moderat dalam kehidupan. Ini juga, menurut Maftuh, menjadi sejarah dahsyat yang akan terus menguatkan persahabatan Saudi dan Indonesia.


Spirit para kiai dan ulama Nahdlatul Ulama juga memberi inspirasi dan semangat sesuai syair milik Abul A'la al-Ma’arri: Wa inni in kuntu al-akhira zamanuhu laatin bima lam tastatihul awailu (walau kita datang terakhir kita akan memunculkan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh para pendahulu).


Silaturahmi NU sedunia ke-19 yang dilakukan secara daring ini mengangkat tema ‘Penguatan Ukhuwah An-Nahdliyyah di Tengah Pandemi Covid-19 dan Ancaman Disintegrasi Bangsa Menuju Perdamaian Dunia’. Hadir pada acara tersebut seluruh perwakilan PCINU sedunia mulai dari Asia Tengah, Eropa, dan Timur Tengah.


Selain Dubes Agus Maftuh, hadir juga para tokoh NU yakni Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, dan Ketua PCINU Arab Saudi KH Imron Masyhudi. Hadir juga Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Rosa Machrusah dan pengurus NU di Arab Saudi serta Indonesia.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Musthofa Asrori

BNI Mobile