Hanya 3 WNI yang Bisa Berhaji Tahun ini

Arab Saudi memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat di antaranya menerapkan physical distancing  dengan memberi tanda khusus sekitar Kabah di mana jamaah bisa melaksanakan shalat pada tanda yang sudah ditentukan. (Foto" Haramain)
Arab Saudi memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat di antaranya menerapkan physical distancing dengan memberi tanda khusus sekitar Kabah di mana jamaah bisa melaksanakan shalat pada tanda yang sudah ditentukan. (Foto" Haramain)
Arab Saudi memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat di antaranya menerapkan physical distancing dengan memberi tanda khusus sekitar Kabah di mana jamaah bisa melaksanakan shalat pada tanda yang sudah ditentukan. (Foto" Haramain)

Jakarta, NU Online
Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel menyebut hanya ada tiga Warga Negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi yang berhasil lolos seleksi untuk mengikuti ibadah haji pada tahun 2020 ini. Mereka terdiri dari satu orang pria yang merupakan guru di Sekolah Indonesia Riyadh dan dua orang perempuan.

 

Ketiganya berhasil lolos seleksi dan memenuhi beberapa poin persyaratan di antaranya belum pernah melaksanakan ibadah haji dan berumur 20-50 tahun. Mereka juga dinyatakan lolos kesehatan dan bebas virus Corona dengan bukti-bukti serta surat dari berbagai lembaga yang dibutuhkan, sebagai syarat administrasi.

 

"Ini sesuai dengan keputusan Pemerintah Arab Saudi  yang akan melaksanakan ibadah haji dengan amat sangat terbatas. Tidak lebih dari seribu orang yang diperbolehkan berhaji. Mulai tanggal 25 kemarin mereka sudah diberangkatkan menggunakan pesawat dari berbagai provinsi menuju Jeddah dan semuanya digratiskan oleh Pemerintah Arab Saudi," jelas Maftuh saat diwawancarai Metro TV, Selasa (29/7).

 

Saat ini menurutnya, para jamaah yang berhak melaksanakan haji sudah berada di Makkah dan menempati sebuah hotel khusus dengan peraturan sangat ketat. Di antara peraturan tersebut adalah satu orang jamaah menempati satu kamar. Jika didapati ada yang keluar kamar, maka akan dipulangkan alias batal melaksanakan ibadah haji.

 

"Hanya 30 persen calon jamaah haji yang merupakan warga Arab Saudi. Warga Saudi pun diprioritaskan untuk para tenaga keamanan dan tenaga medis," lanjutnya.

 

Pada tahun ini pun lanjut Maftuh, tidak ada jamaah haji istimewa (privilege) yang biasanya diberikan kepada tamu khusus atau undangan dari Kerajaan Arab Saudi atau pun perwakilan negara sahabat. Para jamaah ini akan melaksanakan Haji Ifrad yakni melaksanakan haji dan umrah secara terpisah atau sendiri-sendiri.

 

"Pada tanggal 29 jamaah akan meluncur untuk mengambil miqat karena saat masuk Makkah mereka belum memakai pakaian ihram," jelasnya.

 

Jamaah hanya akan mengambil miqat di satu tempat yakni Miqat Qarn al-Manazil yang terletak di timur laut Makkah. Ini akan menjadi pertama kalinya dalam sejarah. Jamaah Indonesia sendiri tidak pernah ada yang mengambil miqat dari tempat ini karena biasanya mengambil miqat dari Ya Lam-Lam.

 

Kebijakan lain yang dilakukan oleh Arab Saudi adalah melakukan protokol kesehatan dengan ketat di antaranya menerapkan physical distancing (jaga jarak antar jamaah). Ini diwujudkan dengan memberi tanda khusus di sekitar Kabah di mana jamaah hanya bisa melaksanakan shalat pada tanda yang sudah ditentukan.

 

Bagi siapa pun yang tidak memiliki izin untuk melaksanakan ibadah haji dan ketahuan ikut serta dalam rangkaian ibadah haji, Pemerintah Arab Saudi akan menindak tegas dan akan mendapatkan denda yang sangat besar.

 

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile