Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Pesilat NU di Blitar Diingatkan Jaga Aswaja dan Pancasila

Pesilat NU di Blitar Diingatkan Jaga Aswaja dan Pancasila
Sejumlah pesilat Postigal saat latihan sebelum wabah Corona. (Foto: NU Online/Istimewa)
Sejumlah pesilat Postigal saat latihan sebelum wabah Corona. (Foto: NU Online/Istimewa)

Blitar, NU Online

Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah adalah salah satu azas  Porsigal (Pendidikan Olahraga Silat Garuda Loncat) di samping Pancasila. Dengan, demikian, anggota Porsigal di manapun berada dituntut untuk mengembangkan dan mempertahankan azas itu.  

 

Penegasan disampaikan Kepala Corps Provost Banser Nasional, H Imam Kusnin Ahmad di hadapan ratusan anggota Porsigal. Hal tersebut dikemukakan saat latihan bersama para pesilat se-Blitar Selatan, Rabu (29/7).                              

 

"Dengan demikian warga Porsigal di manapun berada harus melaksanakan dua azas itu dalam beragama, berbangsa dan bernegara," kata H Kusnin yang juga sebagai Pembina Porsigal Pusat.

 

Porsigal didirikan para ulama dan kiai serta tokoh terdahulu untuk membentengi Pancasila dan Aswaja sekaligus membentengi Indonesia dari pihak yang akan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. 

 

"Kita anggota Porsigal sebagai santri para ulama dan kiai, harus sadar bahwa Pancasila dan Aswaja saat ini sedang dihantam oleh lawan dengan berbagai cara,” katanya. 

 

Untuk menghadapi itu, seluruh anggota Porsigal harus waspada dan jangan mudah terpancing dengan berita bohong dan palsu. Juga harus selalu membantu aparat keamanan untuk menciptakan stabilitas keamanan di lingkungan masing-masing.

 

Ndan Kusnin, panggilan akrabnya mengingatkan bahwa anggota Porsigal harus meningkatkan sumber daya manusia dalam olah kanuragan atau bela diri agar bisa berprestasi maksimal di kancah dunia persilatan. Dikemukakan bahwa salah satu tujuan didirikannya Porsigal di samping untuk mempertahankan budaya bangsa, juga sebagai sarana pendidikan generasi muda yang unggul dan berprestasi. 

 

“Untuk itu harus latihan dengan sungguh-sungguh agar bisa berprestasi," harapnya. ​​​​​​​Porsigal telah mengajarkan kepada kita bersama, lanjut Kang Kusnin Apa itu? Yakni mengajarkan tentang akhlakul karimah kepada sesama dalam mengarungi kancah kehidupan. 

 

“Akhlak yang baik bagi anggota Porsigal adalah wajib karena kita semua meneladani akhlak para kiai dan ulama sebagai pewaris para nabi,” kata mantan Kasatkorwil Banser Jatim ini.                                                  

Porsigal adalah organisasi pencak silat yang didirikan para kiai dan ulama pada 2 Maret 1978. Silat ini merupakan kelanjutan dari pencak silat Sentono yang didirikan oleh Mbah Kasan Wintono. 
Para pendiri Porsigal yakni KH Abdul Mustaqim yang juga Pengasuh Pesantren Peta Tulungagung. Juga ada H Atimiyanto, salah seorang pendiri Banser, KH Cholil Thohir dari Kerjen Blitar. Pernah duduk sebagai pengurus adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Haiman Gunardo dari Parakan, KH Satibi dan lainnya. 

 

Disampaikan Imam Kusnin, Porsihgal adalah silat milik keluarga Nahdliyin. Maka begitu NU mendirikan pencak silat NU Pagar Nusa, Porsigal langsung mendukungnya bersama Gasmi, NH Perkasa, Al-Hikmah dan puluhan perguruan lain di kalangan pencak silat Nahdliyin.

 

Pria yang juga Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Blitar ini menyinggung bahwa saat ini sedang ada musibah Covid-19. 

 

“Untuk itu, saya meminta kepada seluruh anggota untuk mematuhi semua protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Hal tersebut sebagai ikhtiar agar semua tetap sehat dan tidak terinfeksi virus yang mematikan ini,” ungkapnya. 

 

Diingatkan para anggota harus mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah. Selain itu bagi yang mampu membantu saudara yang kesusahan akibat dampak Corona, hendaknya ringan tangan dengan tampil sebagai relawan, semisal.

 

“Jadilah relawan yang berguna bagi masyarakat bersama dengan komponen warga yang lain,” pintanya. 

 

Wartawan senior ini mengemukakan hingga kapan Corana berakhir, belum ada yang bisa memastikan. Untuk itu dirinya juga minta semua berdoa kepada Allah agar selalu terlindung dari mara bahaya.

 

“Termasuk Covid-19 ini," pungkasnya.          

 

Kegiatan yang berlangsung di Desa Tambaksari Tambakrejo Panggungrejo Kabupaten Blitar itu diikuti sekitar 500 anggota. Mereka menerapkan protokol kesehatan. 

 

Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 

BNI Mobile