Patuhi Protokol Kesehatan, Shalat Idul Adha WNI di Victoria Park Dibagi Dua Sesi

Suasana shalat Idul Adha di di Victoria Park, Jumat (31/7). (Foto: NU Online/Ridwan)
Suasana shalat Idul Adha di di Victoria Park, Jumat (31/7). (Foto: NU Online/Ridwan)
Suasana shalat Idul Adha di di Victoria Park, Jumat (31/7). (Foto: NU Online/Ridwan)

Australia, NU Online
Kedisiplinan dan kepatuhan warga negara Indonesia (WNI) di negeri rantau terhadap protokol kesehatan,  laik diacungi jempol.  Hal ini setidaknya terlihat  saat umat Muslim di Wetern Australia menggelar  shalat Idul Adha di Victoria Park, Jumat (31/7).


Kendati wabah Corona masih belum  hilang, namun minat warga Muslim Indonesia tetap tinggi untuk melaksanakan shalat Idul Adha.  Sekitar 700 umat Islam sejak pagi mendatangi Victoria Park untuk melaksanakan shalat tersebut.  Karena kapasitas gedung  tidak mencukupi untuk tempat shalat orang sebanyak itu dengan penerapan phisycal distancing ,  maka  shalat Idul Adha dibagi dua sesi.  Yaitu pukul 08.00-09.00 dan 09.30-10.30. Masing-masing sesi diikuti oleh 300  jemaah.


Imam Djalil selaku khatib dalam sesi pertama mengurai kisah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim dalam  peristiwa  yang menjadi cikal bakal disyariatkannya shalat  Idul Adha dan yang melingkupinya itu. Katanya, peristiwa tersebut  mengandung  pesan yang cukup agung, dan itu perlu dihidupkan di masa kini.


“Di antara pesan itu adalah  semangat  berkurban  demi perintah agama,” jelas tokoh NU asal Aceh tersebut.


Sementara itu, khatib shalat Idul Adha di  sesi kedua, Nanda Avalist  menekankan pentingnya kesetiaan  manusia dalam menghamba kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim  dalam peristiwa kurban itu.  Katanya, betapapun besarnya rasa sayang dan cinta Nabi Ibrahim kepada anaknya, Nabi Ismail, namun  cinta dan kesetiannya kepada Allah, jauh lebih besar. Demikian  juga anaknya, Nabi Ismail, begitu datang perintah ‘menyembelih’ itu, tanpa pikir panjang, langsung mengiyakan karena begitu cintanya kepada Allah.


“Kesetiaan  kepada perintah agama,  wajib kita lakukan  di era sekarang,” harapnya.


Dalam acara  tersebut, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI)  Perth,  Dewi Gustina Tobing sempat memberikan sambutan, yang intinya adalah mengajak warga Indonesia di Autralia untuk saling asah, asuh, dan asih serta menjaga persatuan. Katanya, itu (asah, asih, asuh) adalah budaya Indonesia  yang  perlu terus dipegang di manapun berada.


“Kalau kita bisa saling mengasah, asih dan asuh,  persatuan mudah dilakukan,” ucapnya.


Hal tersebut juga diamini oleh  Ketua PCINU Wetern Australia, Dody Adibrata.  Menurutnya,  komitmen kebangsaan NU sejak dulu sampai sekarang dan kedepan, tak akan pernah  berubah. Komitmen tersebut diantaranya  adalah menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan setia kepada Pancasila. Di luar itu,  NU terus menebar perdamaian, hidup berdampingan dengan siapapun, dan tentu menjujung tinggi toleransi.


“Di manapun Nahdliyin hidup,   selalu menemukan teman bergaul,” ungkapnya.


Shalat Idul Adha itu diselenggarakan oleh  panitia bersama (Panbers) KJRI Perth. Panbers merupakan kolaborasi NU, Ormas dan masyarakat Muslim  Perth dengan dukungan penuh KJRI Perth.  Forum inl terus menggalakkan kegiatan-kegiatan bersama  guna menjalin kerukunan dan keakraban sesama  WNI, khususnya.


“Kita ingin tetap rukun, dan kompak,”  tutur Ketua Panbers, Tulus Mudjiono.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile