Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kesehatan Mental Pelajar Terganggu Akibat PJJ, IPPNU Luncurkan Konseling Siber

Kesehatan Mental Pelajar Terganggu Akibat PJJ, IPPNU Luncurkan Konseling Siber
Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). (NU Online)
Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). (NU Online)

Jakarta, NU Online

Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang masih tinggi membuat proses pembelajaran masih dilangsungkan secara daring, yakni dari rumah masing-masing. Hal tersebut membuat kesehatan mental para pelajar cukup terganggu.


Melihat fakta tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) meluncurkan Cyber Counselling (Konseling Siber) Ruang Pelajar pada Ahad (9/8).


Ketua Umum PP IPPNU Nurul Hidayatul Ummah menyampaikan bahwa kondisi pandemi seperti ini tidak hanya kesehatan fisik yang harus dijaga, tetapi juga mental.

 

“Dikarenakan pelajar Indonesia tidak bisa belajar normal tapi harus belajar daring dan itu menimbulkan permasalahan di lingkungan pelajar,” katanya.


Menurutnya, perlu ada perlakuan khusus kepada mereka agar dapat mengelola kesehatan mentalnya. Hadirnya Cyber Counselling Ruang Pelajar tersebut, ia berharap dapat menjadi jawaban untuk teman curhat para pelajar. 

 

“Itu nanti bisa diakses nantinya di platform yang pada siang ini kita launching,” kata dara yang menamatkan studi masternya di Universitas Leicester, Inggris itu.


Nurul menyampaikan bahwa Ruang Pelajar yang bisa diakses melalui web dan aplikasi instagram bisa dijadikan teman curhat oleh rekanita pelajar IPPNU di seluruh Indonesia.


Senada dengan peluncuran program tersebut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyampaikan bahwa hasil survei KPAI 63 persen anak berusia 0 sampai 18 tahun merasa bosan,  5 persen cemas, dan 3 persen gelisah.


Di antara mereka, 13 persen memperbaharui status guna mencurahkan isi hatinya, dan 3 persen yang menghubungi platform konseling. “Menjadi PR untuk kita semua, menjadi pendamping bagi anak-anak di situasi pandemi seperti ini, terutama IPPNU yang nantinya dengan platform ini bisa diakses secara luas,” katanya.


Ia mengaku sangat mengapresiasi dengan gerakan yang diinisiasi oleh IPPNU ini. Pasalnya,  tren baru di masa pandemi, 56 persen pelajar dimarahi, 30 persen ditendang , dan 14 persen lainnya dibandingkan.


Sementara itu, Psikolog Muharini Aulia menjelaskan bahwa peran keluarga tidak berjalan semestinya saat sebelum pandemi karena semua anggota sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Pasalnya, kakak dan adik, misalnya, hanya bertemu ketika akan tidur.


“Tapi di masa pandemi ini, peran keluarga kembali pada porsinya. Maka akan terjadi perubahan di mana tidak semua anggota keluarga bisa menyesuaikan diri dengan perannya. Maka timbullah permasalahan internal,” jelasnya.


Adapun Komisioner KPAI Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan bahwa internet menjadi rumah bagi para pelajar dan remaja mengingat intensitasnya yang lebih banyak di sana.

 

“Rumah menjadi tempat utama dan akses internet anak lebih banyak, membuat anak menjadi rentan terkena mental healt,” terang Ketua Umum PP IPPNU 2009-2012 itu.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile