Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Wawasan Kebangsaan Harus Menyatu dalam Kiai Wahab Chasbullah Foundation

Wawasan Kebangsaan Harus Menyatu dalam Kiai Wahab Chasbullah Foundation
Aspek wawasan kebangsaan KH Abdul Wahab Chasbullah harus terkover dalam gerakan organisasi Kiai Wahab Chasbullah Foundation.
Aspek wawasan kebangsaan KH Abdul Wahab Chasbullah harus terkover dalam gerakan organisasi Kiai Wahab Chasbullah Foundation.

Jombang, NU Online
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengusulkan agar aspek wawasan kebangsaan KH Abdul Wahab Chasbullah terkover dalam gerakan organisasi yang baru didirikan putra-putrinya, Kiai Wahab Chasbullah Foundation. Pasalnya ia memandang aspek itu sekarang masih sangat penting untuk terus digelorakan guna memupuk jiwa nasionalisme generasi saat ini.

 

Pengusulan tersebut menyusul karena program yang menjadi garapan Kiai Wahab Chasbullah Foundation belum memasukkan aspek wawasan kebangsaan. Adapun program-programnya meliputi sosial-budaya, ekonomi, dan pendidikan. Tiga program itu akan digarap dengan serius dengan membawa semangat yang dilakukan Mbah Wahab di masanya.

 

"Jika saya masih bisa usul, apakah masih dimungkinkan fokus (juga) di bidang wawasan kebangsaan," katanya saat menyampaikan sambutannya melalui virtual, pada Ahad (30/8) malam.

 

Perempuan yang juga Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU itu menegaskan, wawasan kebangsaan harus dibawa NU pada lingkaran yang lebih luas lagi. "Karena kalau di NU kebangsaan itu sudah menyatu pada dedikasi proses keumatan, kebangsaan, dan keagamaan, hubbul wathan minal iman," jelasnya.

 

Hampir pasti persoalan kebangsaan dan keagamaan sudah selesai di kalangan warga NU. Demikian juga dengan hubungan antara keduanya itu yang saling menguatkan. Bukan sebaliknya, apalagi dipertentangkan. 

 

"Yang hubbul wathan minal iman itu ya NU, Banomnya, pesantrennya. Tapi yang lainnya ada yang tidak hubbul wathan minal iman, bahkan ada yang memiliki cita cita ingin mendirikan sendiri," ucapnya. 

 

Demikian itu adalah pekerjaan rumah (PR) tersendiri, bahwa NU harus bisa mengubah tekad pihak yang semula ingin mendirikan negara sendiri menjadi cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sarat dengan perjuangan.

 

"Kita seringkali melihat, pokoknya kebangsaan itu menyatu dalam spiritualitas dalam kajian keagamaan, keumatan, kebangsaan, dan Pancasila. Karena kita memang punya hubbul wathan ini menyatu. Nah, yang tidak punya hubbul wathan minal iman ini harus kita intervensi," ucapnya. 

 

Unwaha sebagai Pusat Studi
Khofifah menginginkan wawasan kebangsaan Mbah Wahab nantinya dilembagakan di Universitas KH Abdul Wahab Chasbullah (Unwaha). Bahkan dalam perjalanannya, Unwaha harus bersiap diri menjadi pusat studi wawasan kebangsaan Mbah Wahab. 

 

"Apa yang didirikan oleh Mbah Wahab, Nahdlatul Wathan di Surabaya, maka perwujudannya barangkali masih dimungkinkan format kajian kebangsaan, bahkan bisa menjadi pusat di Unwaha," ungkapnya.

 

Menurutnya, dunia kampus sangat tepat menjadi pusat studi yang konsen dalam kajian-kajian kebangsaan. Dengan dukungan ide para akademisi yang ada di Unwaha, Khofifah meyakini segala proses untuk menjadikan Unwaha sebagai pusat wawasan kebangsaan Mbah Wahab akan berjalan dengan cukup cepat.

 

"Pasti akan dapat banyak pengayaan yang akhirnya menjadi kekuatan tersendiri siapa yang akan mencari referensi hubungan antara agama dan negara, pancasila dan negara, rasanya Unwaha akan punya pusat studi kebangsaan itu," jelasnya.

 

Sekadar informasi, Kiai Wahab Chasbullah Foundation resmi diluncurkan Ahad (30/8) malam di Ndalem Kasepuhan Pesantren Kiai Wahab Chasbullah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 

 

Hadir dalam acara ini, di samping para dzurriyah Mbah Wahab, juga dihadiri Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), dan beberapa perwakilan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) serta badan otonom dan lembaganya.

 

Pewarta: Syamsul Arifin
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile