Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Israel Larang Gubernur Yerusalem Menghubungi Presiden Abbas

Israel Larang Gubernur Yerusalem Menghubungi Presiden Abbas
Gubernur Palestina untuk Yerusalem, Adnan Ghaith, (tengah) ketika berada di pengadilan Israel. (Foto: WAFA)
Gubernur Palestina untuk Yerusalem, Adnan Ghaith, (tengah) ketika berada di pengadilan Israel. (Foto: WAFA)

Yerusalem, NU Online
Otoritas Israel membatasi pergerakan Gubernur Palestina untuk Yerusalem, Adnan Ghaith, ke kampung halamannya, Silwan. Lebih dari itu, Israel juga melarang Ghaith berhubungan dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh.


“(Otoritas pendudukan Israel) melarangnya berhubungan dengan lebih dari 50 orang, termasuk Presiden Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh,” demikian pernyataan yang dikeluarkan Kantor Gubernur Yerusalem, seperti dikutip NU Online dari laman kantor berita Palestina, WAFA, Jumat (11/9).


Kantor Gubernur menilai, keputusan itu merupakan sebuah tindakan yang berbahaya dan belum terjadi sebelumnya terhadap gubernur Yerusalem—yang mewakili Presiden Abbas. Dikatakan, Israel memaksakan kedaulatannya atas wilayah Yerusalem yang diduduki dengan cara mengakhiri dan menghapus kehadiran rakyat Palestina di Kota Suci itu.


Semenjak diangkat menjadi Gubernur Yerusalem pada dua tahun lalu, Ghaith ditahan Israel lebih dari 17 kali dengan berbagai macam tuduhan seperti keterlibatannya dalam kegiatan politik di Yerusalem yang diduduki Israel, penjualan tanah, melakukan kegiatan ilegal, dan lainnya. Ghait juga pernah dilarang empat kali oleh militer Israel untuk memasuki wilayah Tepi Barat, menghubungi tokoh-tokoh nasional, dan mengikuti acara-acara sosial.  


Ghaith pertama kali ditangkap Israel pada Oktober 2018 lalu bersama dengan Kepala Badan Intelijen Palestina Jihad al-Faqih. Saat itu, dia dituduh berupaya mempublikasikan nama-nama yang terlibat dalam proses penjualan rumah untuk para pemukim Yahudi di lingkungan Muslim di Yerusalem.


Sejak menduduki wilayah Tepi Barat dan Gaza pada 1967, Israel secara sepihak dan ilegal terus berusaha mengubah demografi dan karakter kota yang diduduki. Mereka juga terus melakukan serangan kepada warga Palestina di Yerusalem dengan meningkatkan ekspansi kolonial-pemukiman di kota dan menolak hak mereka untuk menentukan nasibnya sendiri. 


Israel melakukan berbagai macam upaya seperti penahanan, pengusiran, penutupan lembaga, larangan kegiatan, untuk mencegah setiap kegiatan warga Palestina di wilayah yang didudukinya.


Pewarta: Muchlishon
Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile