Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

BLA Jakarta Gali Nilai Kebangsaan dari Manuskrip Keagamaan

BLA Jakarta Gali Nilai Kebangsaan dari Manuskrip Keagamaan
Kepala BLA Jakarta Nurudin Sulaiman (kedua dari kiri) saat membuka resmi seminar Manuskrip Keagamaan dan Nilai Kebangsaan di Bogor. (Foto: Dok. BLAJ)
Kepala BLA Jakarta Nurudin Sulaiman (kedua dari kiri) saat membuka resmi seminar Manuskrip Keagamaan dan Nilai Kebangsaan di Bogor. (Foto: Dok. BLAJ)

Bogor, NU Online
Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) menggali Nilai Kebangsaan dari Manuskrip Keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menghadirkan kembali nilai-nilai positif dari khazanah tersebut. Upaya ini dituangkan melalui penyusunan Pedoman Naskah Tematik tentang Nilai Kebangsaan berdasarkan Manuskrip Keagamaan.


Hal tersebut dikatakan Kepala BLA Jakarta Balitbang Diklat Kemenag, Nurudin Sulaiman, saat membuka resmi seminar Manuskrip Keagamaan dan Nilai Kebangsaan yang digelar di Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/9) malam.


"Melalui kegiatan ini, kita ingin menghadirkan pedoman atau naskah tematik terkait dengan nilai-nilai kebangsaan dan aspek penguatan karakter bela negara. Utamanya yang terkandung dalam manuskrip keagamaan," kata Nurudin. 


Doktor Kebijakan Publik Universitas Indonesia ini menegaskan, bahwa poin utamanya adalah manuskrip membedah pada aspek nilai-nilai kebangsaan. "Saya kira di sana sangat aktual. Nah, bagian yang aktual ini saya kira penting untuk direspons. Salah satu aspek yang bisa kita lakukan yaitu melalui proses pengkajian terhadap manuskrip itu sendiri," tegasnya.


Menurut dia, manuskrip keagamaan menjadi salah satu sumber pengetahuan untuk menegaskan nilai-nilai kebangsaan kita. "Jadi, kita belajar dari ilmu pengetahuan, utamanya dari manuskrip yang telah ada sejak sekian waktu. Itu yang perlu dihadirkan lagi nilai-nilainya," kata Nurudin.


Pria asal Banyuwangi ini menambahkan, nilai-nilai kebudayaan dan nilai-nilai keagamaan bukanlah sesuatu yang dikotomis, tetapi kontinum, saling terikat dan terkait, serta saling menguatkan.


"Karena itu, jika melihat permasalahan akhir-akhir ini yang mendikotomikan atau mengontraskan aspek-aspek kebudayaan dengan keagamaan tentu sangat tidak baik. Makanya, harus kita sama-sama menjawab bahwa harmoni kebersamaaan, kerukunan, dan kerja sama menjadi nilai yang melekat dalam masyarakat kita," imbuhnya.


Masukan kebijakan
Melalui kegiatan tersebut, Nurudin menyatakan pihaknya hendak memberikan masukan kebijakan bagaimana agar nilai-nilai tersebut bisa masuk dalam proses-proses pendidikan dan pembelajaran peserta didik.


"Karena kita pahami bahwa nilai ini tidak serta-merta akan mewujud dalam perilaku apabila tidak diawali dengan membangun pengetahuan yang cukup. Baru kemudian setelah itu bisa diinternalisasi dalam nilai dan karakter," ujarnya.


Aspek yang tidak kalah penting, lanjut dia, adalah membiasakan dan mempraktikkan pengetahuan yang melekat dalam aspek sikap dan perilaku. Jadi, jika sekarang misalnya kita dengar ada kelompok masyarakat tertentu yang mungkin kategorinya rendah nilai-nilai kebangsaannya penting untuk diperhatikan.


"Saya pikir, kalau sudah bentuknya menjadi aksi intoleransi kepada masyarakat ataupun kelompok tertentu yang dianggap berbeda itu berarti sudah masuk pada ranah perilaku," ujar Nurudin.


"Dan ingat, bahwa aspek perilaku tidak serta-merta berdiri sendiri. Dia selalu diawali dari pengetahuan yang ada dalam dirinya. Pengetahuan yang terus dipahami kemudian diresapi itu lalu menjadi sikap menolak ketika harus berdampingan dengan kelompok atau komunitas lain yang berbeda, itu diawali dari pengetahuan yang kemudian menjadi sikap yang mewujud dalam bentuk perilaku," sambungnya.


Oleh karena itu, kata dia, kajian manuskrip menjadi penting untuk menjadi bahan baku pengetahuan bagi para peserta didik, sehingga di masyarakat ada semacam arus utama nilai-nilai yang penting untuk aspek kebangsaan.


Nurudin kembali mengingatkan, praktik kebangsaan dan nilai-nilai keagamaan harus senantiasa dicarikan pola atau model yang efektif sehingga masyarakat kita juga memiliki pijakan yang kuat.


Selain Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat Jumari, hadir dalam seminar tersebut sejumlah narasumber, antara lain Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Munawar Holil, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Ahmad Ginanjar Sya’ban.


Hadir juga Dosen Universitas Islam al-Ihya Cigugur Kuningan Dedi Slamet Riyadi, Dosen Universitas Padjajaran Bandung Titin Nurhayati Ma'mun, dan Ahmad Baso dari Lakpesdam NU. Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan juga hadir. Acara ini juga diikuti para penyuluh dari sejumlah provinsi secara daring.


Pewarta: Musthofa Asrori
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile