Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Guru Mansur, Ulama Falak dari Tanah Betawi

Guru Mansur, Ulama Falak dari Tanah Betawi
Semasa hidupnya, Guru Mansur telah menulis 19 (sembilan belas) kitab berbahasa Arab sebagian besar tentang ilmu falak, juga puasa, waris, dan nahwu.
Semasa hidupnya, Guru Mansur telah menulis 19 (sembilan belas) kitab berbahasa Arab sebagian besar tentang ilmu falak, juga puasa, waris, dan nahwu.

Buku Profil Guru Mansur

Insya Allah, jika tidak ada halangan, pada hari Ahad, 2 Shafar 1442 H bertepatan dengan  tanggal 20 September 2020 ini, setelah shalat Shubuh akan diadakan haul salah seorang dari enam guru Betawi terkemuka, yaitu Guru Mansur Jembatan Lima di Masjid Al-Mansur, Sawah Lio, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.


Karena di DKI Jakarta masih berlaku Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), haul diadakan secara terbatas dengan pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19. Informasi ini saya peroleh ketika bersilaturrahim dengan salah seorang dzuriyahnya, KH Afif Ahmadi Mansur, Ketua DKM Masjid Al-Mansur dan juru bicara ahli waris ketika ada yang bertanya tentang Guru Mansur Jembatan Lima.


Saya sendiri sudah pernah meneliti dan menulis profil Guru Mansur Jembatan Lima yang sudah dibukukan dan diterbitkan oleh Jakarta Islamic Centre dengan judul Genealogi Intelektual Ulama Betawi.


Saat bersilaturrahim dengan KH Afif Ahmadi Mansur, saya ditunjukkan cetakan buku profil Guru Mansur Jembatan Lima yang diketik di atas kertas HVS dengan ejaan lama. Buku profil tersebut berjumlah 10 halaman yang berjudul Riwajat Hidup Guru Besar K.H. M. Mansur Djakarta yang disusun oleh Sanusi Hasan.


Buku ini diterbitkan untuk haul pertama almarhum Guru Mansur Jembatan Lima pada 5 Shafar 1388 H yang bertepatan dengan tanggal 3 Mei 1968 M. Bagi saya, buku ini merupakan sumber berharga karena diterbitkan satu tahun setelah Guru Mansur Jembatan Lima wafat dan ditulis oleh orang yang dekat dan bertemu langsung dengan Guru Mansur Jembatan Lima sehingga data dan informasi pada buku ini tingkat validitasnya tinggi.


Selain itu, ada informasi yang baru saya dapat yang belum saya ketahui karena buku ini belum pernah saya dapat dengan bersumber pada wawancara saya dari ahli waris sebelumnya, yaitu almarhum KH Fatahillah Ahmadi, kakak kandung dari KH Afif Ahmadi Mansur.


Nama lengkap Guru Mansur adalah Muhammad Mansur bin Abdul Hamid bin Damiri bin Abdul Muhid bin Tumenggung Tjakra Jaya (Mataram, Jawa). Ia dilahirkan di Kampung Sawah Jembatan Lima, Jakarta pada tahun 1878 H dan wafat pada hari Jumat sore, 2 Shafar tahun 1387 H bertepatan dengan tanggal 12 Mei 1967. Ia dimakamkan di halaman depan Masjid Al-Mansur.


Pada buku Riwajat Hidup Guru Besar KH M Mansur Djakarta, namanya ditulis dengan “Mansur”. Sedangkan dzuriyyah atau ahli warisnya, KH Fatahillah Ahmadi, menulis nama Guru Mansur dengan Manshur (dengan tambahan huruf “h” setelah huruf “s”). Sedangkan nama populernya adalah Guru Mansur Jembatan Lima. Nama Jembatan Lima adalah nama daerah tempat tinggalnya.


Ia adalah anak dari pasangan Al-Imam KH Abdul Hamid bin Damiri dan Hj Rofi`ah binti H Margan.


Guru pertama yang mengajar Guru Mansur dalam menuntut ilmu adalah bapaknya sendiri, KH Abdul Hamid. Setelah bapaknya meninggal, ia mengaji kepada kakak kandungnya, KH Mahbub bin Abdul Hamid, kakak misannya yang bernama KH Thabrani bin Abdul Mughni, dan juga kepada Syekh Mujtaba Mester (Guru Taba).


Semasa mudanya, guru Mansur sudah sangat tertarik sekali dengan ilmu falak. Setelah menginjak usia remaja, pada usia 16 tahun, tepatnya pada tahun 1894 M, ia bersama ibunya pergi ke Makkah, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji. Ia bermukim di Makkah selama empat tahun.


Selama bermukim di Makkah, ia berguru kepada sejumlah ulama, antara lain kepada Guru Muchtar, Guru Mujidin, Syekh Muhammad Hajath, Sayid Muhammad Hamid, Syekh Sa`id Jamami, Umar Al-Hadramy, Syekh Umar Sumbawa, dan Syekh Ali Al-Mukri.


Menurut ahli waris, KH Fatahillah Ahmadi, Gusu Mansur juga berguru kepada Syekh Mukhtar Atharid Al-Buguri, Syekh Umar Bajunaid Al-Hadrami, Syekh Ali Al-Maliki, Syekh Said Al-Yamani, dan Syekh Mujtaba Mester yang sedang berada di Makkah. Untuk ilmu falak, beliau belajar kepada Syekh Abdurrahman Al-Mashri.


Dari guru-gurunya itu, Guru Mansur mempelajari ilmu qira’atul Quran, tajwid, nahwu, sharaf, tauhid, fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, faraid, mantiq, bayan, falak, dan lain-lain. Di Makkah, selain belajar, Guru Mansur juga diangkat menjadi katib atau sekretaris pribadi gurunya, Syekh Umar Sumbawa, karena ia dianggap cukup cakap, cerdas, dan memiliki tulisan yang indah dan rapi.


Setelah empat tahun di Mekkah, Guru Mansur kembali ke tanah air dengan singgah terlebih dahulu di beberapa daerah dan negara mengikuti singgahnya kapal laut yang ditumpaginya, yaitu; Aden, Benggala, Kalkutta, Birma, Ranggun India, Malaysia, dan Singapura.


Ia membuka majelis taklim dengan ilmu falak sebagai pelajaran tama. Murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Betawi adalah KH Abdullah Syafi`i (As-Syafi`iyyah) dan Mu`allim KH Abdul Rasyid Ramli (Ar-Rasyidiyyah). Kini yang meneruskan keahlian falaknya adalah KH Fatahillah Ahmadi yang merupakan salah seorang buyutnya. Sedangkan buyutnya yang lain kini dikenal oleh masyarakat sebagai dai kondang, Ustadz Yusuf Mansur.


Kumpulan Karya Tulis Guru Mansur

Sekembalinya ke Tanah Air, seperti guru-gurunya, Guru Mansur mulai mengajar. Mengenai aktivitas mengajarnya ini, ia sudah melakukannya sejak muda. Ia mengajar jika ada waktu luang untuk membantu ayahnya, Al-Imam KH Abdul Hamid di rumahnya yang sifatnya masih untuk “melatih diri”.


Setelah dari Makkah, ia mulai aktif mengajar di tempatnya sendiri dan juga di Madrasah Jamiat Kheir, Pekojan, Jakarta Barat. Ia juga mendirikan pesantren dan pengajian kaum ibu. Selain itu, ia membuat beberapa majelis daras atau halaqah, antara lain di Kenari dan Cikini. Murid-muridnya terutama berasal dari berbagai tempat di Jakarta dan di luar Jakarta, seperti Bekasi.


Semasa hidupnya, Guru Mansur telah menulis 19 (sembilan belas) kitab berbahasa Arab sebagian besar tentang ilmu falak, juga puasa, waris, dan nahwu yaitu:


a. Sullam An-Nayrain

b. Khulashoh Al-Jadawil

c. Kaifiyah Al-Amal Ijtima

d. Mizan Al-`Itidal 

e. Washilah At-Thulab

f. Jadwal Dawair Al-Falakiyah

g. Majmu` Arba` Rasail fi Mas`alah Hilal

h. Rub`u Al-Mujayyab

i. Mukhtashar Ijtima` An-Nairain

j. Tadzkirotun Nafi`ah fi Shihah `Amal Ash-Shaum wa Al- Fithr

k. Taudih Al-Adillah fi Shihah Ash-Shaum wa Al-Fithr

l. Jadwal Faraid

m. Al-Lu`lu Al-Mankhum fi Khulashoh Mabahits Sittah `Ulum

n. Irobul Jurumiyah An-Nafi` Lil Mubtadi

o. Silsilah As-Sanad fi Ad-Din wa Ittisholuha Sayyid Al-Musalin

p. Tashrif Al-Abwab

q. Limatan Bina

r. Jadwal Kiblah

s. Jadwal aw Khut Ash-Sholah Tathbiq Amal Al-Ijitma` wa Al-Khusuf wa al Kusuf.  


Murid-murid Guru Mansur dari Betawi antara lain adalah Mu`allim Rojiun Pekojan, KH Firdaus (mendalami ilmu falak darinya dan kemudian diangkat menjadi mantu), Syekh KH Muhadjirin Amsar Ad-Dary (ahli falak dari Bekasi), Mu`allim Rasyid (KH Abdul Rasyid, Tugu Selatan, Jakarta Utara), Muallim KH M. Syafi`i Hadzami, dan KH. Abdul Khoir (Krendang, Jakarta Barat).


Salah seorang cucunya, KH Ahmadi Muhammad, menyusun kalender hisab Al-Manshuriyah di mana susunan tersebut bersumber dari hasil pemikiran Guru Mansur Jembatan Lima. Kini, kalender hisab Al-Manshuriyah masih tetap eksis dan digunakan baik oleh murid-muridnya maupun oleh sebagian masyarakat Betawi maupun umat Islam lainnya di sekitar Jabotabek, Pandegelang, Tasikmalaya, bahkan sampai ke Malaysia.


Kitab karangan Guru Mansur yang terkenal sampai sekarang ini adalah Sullam An-Nayrain. Ia merupakan kitab ilmu falak yang menjadi rujukan dan dipelajari di sebagian pesantren di Tanah Air, bahkan sampai di negara tetangga.

 

Ustadz Djabir Chaidir Fadhil, muballigh Betawi yang sering diundang ke beberapa negara bagian di Malaysia, mengatakan bahwa Kitab Sullam An-Nayrain masih dipelajari pada banyak majelis taklim di negara bagian Terengganu, Malaysia, bahkan dijadikan rujukan oleh ulamanya melihat hilal untuk menentukan awal puasa, `Idul Fithri, dan 1 Dzulhijjah. Kitab Sullam An-Nayrain juga mendapat perhatian khusus dari para astronom modern untuk dipelajari.


Penulis: Rakhmad Zailani Kiki

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile