Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Sekjen PBNU Dorong IPNU Perkuat Kapasitas Pelajar di Indonesia

Sekjen PBNU Dorong IPNU Perkuat Kapasitas Pelajar di Indonesia
Peluncuran Teras Pelajar IPNU, Kamis (1/10). (Foto: PP IPNU)
Peluncuran Teras Pelajar IPNU, Kamis (1/10). (Foto: PP IPNU)

Jakarta, NU Online

Pada 2018, Programme for International Student Assesment (PISA) melakukan riset mengenai tingkat pendidikan di seluruh dunia. Dalam hal ini, pendidikan di Indonesia menduduki peringkat ke-74 dari 79 negara di dunia. 


Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Helmy Faishal Zaini dalam peluncuran Gerakan Teras Pelajar yang diselenggarakan secara virtual oleh Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), pada Kamis (1/10).


Untuk melihat kualitas pendidikan sebuah negara dalam hitungan PISA, lanjutnya, terdapat tiga indikator. Pertama, kemampuan matematika. Kedua, sains atau wawasan pengetahuan. Ketiga, minat membaca. Dari ketiga indikator tersebut, Indonesia sangat lemah dalam minat baca. 


“Sebagai sebuah bangsa kita masih terbelakang sekali dari negara-negara lain. Sementara di sisi lain, secara global dan regional, kita sedang menghadapi tiga tantangan besar,” lanjut Sekjend PBNU kelahiran Cirebon, Jawa Barat ini.


Ia menjelaskan, tantangan pertama adalah maraknya pengaruh narkoba di kalangan pelajar Indonesia. Kedua, Kang Helmy mengutip survey yang dilakukan Pew Research Center yang menyatakan bahwa empat persen pelajar Indonesia terpapar virus radikalisme. 


“Jadi tantangan kita adalah bagaimana kita, pelajar Indonesia, melakukan deradikalisasi,” jelas pria yang mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Gunung Djati, Bandung ini.


Ketiga, tantangan para pelajar Indonesia adalah menghadapi era revolusi industri 4.0 yang kini menjadi budaya baru. Segala proses perniagaan, pendidikan, dan dakwah sekalipun saat ini menghadapi tantangan di era disrupsi ini.


“Sekarang orang lebih suka prosesnya dipercepat, lebih ringkas secara waktu, dan pembiayaan lebih murah. Ini era baru sekali. Menurut saya, kita perlu punya terobosan,” katanya.


Oleh karena itu, atas peluncuran Gerakan Teras Pelajar ini IPNU diharapkan mampu menjadi katalisator berbagai upaya untuk melakukan kecepatan-kecepatan. IPNU, katanya, sebagai sayap pelajar NU harus punya peran penting, terutama dalam konteks penguatan kepelajaran.


Sementara itu Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Amich Alhumami juga berharap kepada kader IPNU agar menjadikan organisasi sebagai kawah candradimuka untuk melakukan berbagai penempaan diri.


“(Dan) menjadikan organisasi sebagai tempat untuk menggali dan terus belajar dalam rangka memperluas wawasan serta menambah ilmu pengetahuan,” katanya.


Di dalam organisasi ini, lanjut Amich, kader IPNU memiliki kesempatan luar biasa untuk ke depan bisa membangun dan mengonsolidasikan kekuatan sosial-kapital, untuk perbaikan pendidikan bangsa.


“Dengan berhimpun di organisasi, menjadi sebuah strategi kebudayaan dalam gerakan Islam sebagai bagian dari orang-orang terpelajar di lingkungan komunitas muslim,” tutur Amich.


Ia menuturkan bahwa dalam kurun waktu 30 terakhir, para santri terpelajar mulai bangkit. Mereka kemudian membentuk new social formation (tatanan sosial baru) yang melahirkan kebangkitan educated middle class groups (kelompok kelas menengah terpelajar).


“Kelompok itu dalam jumlah sangat banyak diwakili oleh para santri yang lahir dari NU. Di antaranya melalui penggemblengan di IPNU. Jadi berbahagialah anda yang berhimpun di sini (IPNU) karena telah menjadi wakil dari santri yang terpelajar,” pungkasnya.


Pada kesempatan tersebut, hadir pula secara virtual Ketua Komisi X DPR RI H Syaiful Huda, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Muhammad Ali Ramdhani, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Jumeri, dan Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Abdul Kahar.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile