Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kegiatan Pesantren Durrotu Aswaja Semarang Berubah di Masa Pandemi

Kegiatan Pesantren Durrotu Aswaja Semarang Berubah di Masa Pandemi
Kegiatan rutin cek suhu badan santri Durotu Aswaja Semarang di masa pandemi Covid-19 (Foto: NU Online/Rifqi Hidayat)
Kegiatan rutin cek suhu badan santri Durotu Aswaja Semarang di masa pandemi Covid-19 (Foto: NU Online/Rifqi Hidayat)

Semarang, NU Online 

Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 memiliki dampak yang cukup signifikan di dunia pendidikan, terlebih pesantren yang setiap hari semua santri berkumpul bersama untuk berjamaah, mengaji, tadarus, dan berbagai kegiatan lain. 

 

Meski telah melakukan penyemprotan secara mandiri, menyediakan sabun cuci tangan, Pesantren Durrotu Ahlissunnah wal Jamaah (Durrotu Aswaja) yang berada di Desa Banaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah juga harus menggeser beberapa agenda kegiatan.

 

"Banyak agenda yang berubah, akhirusanah dilaksanakan tertutup untuk umum, biasanya akhirussanah juga ada santunan yatim piatu. Karena pandemi, santunan kita geser kemarin waktu 10 Muharram bersamaan dengan ijazah mushafahah (bersalaman)," kata Pengasuh Pesantren Durrotu Aswaja Kiai Agus Ramadhan kepada NU Online, di kediamannya, Jumat (2/10).

 

Ijazah mushafahah lanjutnya, memiliki banyak manfaat. Salah satunya dengan penjelasan hadits Nabi yang menerangkan orang yang bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW atau bersalaman dengan orang yang bersalaman dengan Nabi, akan masuk surga. 

 

"Jadi, ijazah bersalaman itu juga penting untuk memperjelas sanad atau silsilah guru bersalaman sampai pada Rasulullah," tuturnya.

 

Meski demikian, ia menuturkan substansi dari ijazah musafahah sebagaimana mujalasah dengan para orang alim. "Intinya berkumpul dan bersalaman dengan orang alim. Ini salah satu indikator orang baik. Orang baik pasti berkumpul dengan orang baik, dan kelak di akhirat akan dikumpulkan dengan orang baik di tempat yang baik, yaitu surga," terangnya.

 

Selain kegiatan santunan dan ijazah, Sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kota Semarang ini juga melakukan adaptasi dengan era kenormalan baru yang mengutamakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. 

 

"Sebelum pulang dan kembali ke pesantren, santri bawa surat keterangan bebas Covid-19 dari puskesmas atau rumah sakit," ungkapnya.

 

Perubahan lain, agenda penerimaan santri baru dan orientasi pengenalannya secara online karena pada umumnya santri Durrotu Aswaja berlatar belakang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). 

 

Lurah Pesantren Durrotu Aswaja Putri Himmatul Ulya Alfiana menjelaskan, panitia Penerimaan Santri Baru atau PSB bertugas untuk mengurus administrasi pendaftaran, memperkenalkan pondok, pengadaan jas dan sarung pondok. 

 

"Pengenalan pondok secara online dari website, instagram, dan facebook. Pendaftaran online dengan googleform," terangnya.

 

Dikatakan, pengenalan pondok yang sasarannya mahasiswa baru belum bisa maksimal. Tidak seperti sebelum pandemi yang bisa mengajak calon mahasiswa ketika mencari informasi di kampus.

 

Sedangkan kedatangan santri yang kembali ke pondok diatur sesuai kesepakatan pribadi, tidak ada jadwal yang tertentu. 

 

"Beberapa pengurus santri tahfidz dan poskestren kembali lebih awal kemudian berangsur angsur santri non tahfidz dan non pengurus. Alhamdulillah sudah mulai banyak sudah kembali ke pondok," pungkasnya. 

 

Lurah Pesantren Durrotu Aswaja Putra, Moh Dinar Amin menambahkan, adanya fasilitas pengecekan suhu di poskestren dan ketentuan kebersihan sesuai protokol kesehatan masih terapkan. Selain itu, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unnes menegaskan pentingnya isolasi mandiri sebelum berangkat ke pesantren. 

 

"Untuk santri yang datang juga diminta membawa surat keterangan bebas Covid-19," pungkasnya. 

 

Kontributor: Ahmad Rifqi Hidayat
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile