Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Prof AS Hikam: Sejarah PKI Jangan Jadi Alat Menakut-nakuti Masyarakat

Prof AS Hikam: Sejarah PKI Jangan Jadi Alat Menakut-nakuti Masyarakat
AS Hikam mengatakan 30S/PKI adalah bagian dari sejarah dunia yang tidak dapat diingkari. (Foto: Istimewa)
AS Hikam mengatakan 30S/PKI adalah bagian dari sejarah dunia yang tidak dapat diingkari. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

Tragedi Gerakan 30 September selalu menjadi isu hangat yang diperbincangkan publik. Apalagi saat musim Pemilu, isu kebangkitan PKI kerap menghiasi beranda media sosial masyarakat. 

 

Presiden Republik Indonesia kelima Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam wawancara khusus dengan Andy F Noya di salah satu stasiun televisi tahun 2008 lalu pernah sekilas mengungkap bagaimana sebenarnya tragedi G30S/PKI terjadi. Gus Dur pun mengurai sejumlah alasan mengapa dirinya mencabut Ketetapan Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR) no 25 tahun 1966 soal PKI.  

 

Menteri Riset dan Teknologi Era Gus Dur, Prof Muhammad Atho'illah Shohibul Hikam atau biasa disapa Prof AS Hikam ikut memberikan komentar terkait pandangan Gus Dur terhadap G30S/PKI dan rekonsiliasi tersebut. Kata dia, PKI menurut Gus Dur bukan sesuatu yang menakutkan. 

 

Begitupun dengan G30S/PKI, tragedi tersebut bagian dari sejarah dunia yang tidak dapat diingkari. Karena itu, G30S/PKI tidak boleh dijadikan alat untuk menakut-nakuti masyarakat sebab sejarah bisa menjadi pelajaran penting untuk warga bangsa supaya menemukan solusi terbaik.  

 

"Jadi masyarakat tidak boleh takut, atau menakutkan PKI atau justru malah menjadikan PKI untuk menakut-nakuti bangsa Indonesia. Karena tragedi itu fakta sejarah yang tidak dapat diingkari adanya, tetapi memang perlu dicarikan solusi dalam rekonsiliasi bagi bangsa Indonesia. Bagi kemajuan bangsa dan bagi kelestarian kita sebagai bangsa," kata Prof AS Hikam saat menjadi narasumber pada Kongkow Virtual yang diselenggarakan Konsorsium Kader Gus Dur, Rabu (7/10) malam. 

 

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) 1981 ini menambahkan, masyarakat tidak boleh terjebak upaya-upaya politisasi dan ideologisasi PKI yang dilakukan oleh siapapun. PKI sebaiknya dihadapi sebagai sejarah bangsa sama halnya seperti sejarah bangsa di negara-negara lain misalnya saja tragedi Nazi di Jerman tahun 1960-an. 

 

"Seperti kata filsuf George Santayana yang mengatakan, siapa pun manusia yang tidak mau belajar sejarah dia akan dikutuk untuk melakukannya kembali. Jadi sejarah itu harus dipelajari seksama dan dipakai untuk memperbaiki keadaan, jangan sampai terulang lagi," tuturnya.

 

Diskusi mengangkat mengusung tema Tragedi G30S dan Rekonsiliasi ala Gus Dur. Hadir pada diskusi itu Ketua Umum Konsorsium Kader Gus Dur Yenny Wahid sebagai pembicara kunci dan Mantan Asisten Gus Dur Al-Zastrow Ngatawi, Sekjend Brigade Gus Dur Pasang Haro Raja Gukgak sebagai pemateri diskusi. Tak lupa ratusan tokoh pemuda mahasiswa dari berbagai lintas suku agama. 

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile