Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

WHO Jelaskan Vaksin Covid-19 yang Sedang Diuji Klinis

WHO Jelaskan Vaksin Covid-19 yang Sedang Diuji Klinis
WHO menyatakan jenis vaksin yang paling banyak dilakukan saat ini yakni imunisasi rubela, campak dan penyakit lain yang menyerang anak.
WHO menyatakan jenis vaksin yang paling banyak dilakukan saat ini yakni imunisasi rubela, campak dan penyakit lain yang menyerang anak.

Jakarta, NU Online

World Health Organization (WHO) Indonesia membeberkan manfaat imunisasi menggunakan vaksin Covid-19 untuk masyarakat. Vaksin saat ini menjadi satu-satunya solusi agar mata rantai Covid-19 dapat dihentikan. 

 

Petugas Medis WHO Indonesia, dr Vinod Kumar Bura mengatakan, manfaat vaksin Covid-19 bagi manusia di antaranya bisa meningkatkan imun tubuh dan mencegah masuknya virus Covid-19. Kata dia, vaksin telah terbukti membantu ratusan jiwa penduduk dunia sejak lima puluh tahun yang lalu. 

 

Jenis vaksin yang paling banyak dilakukan saat ini yakni imunisasi rubela, campak dan penyakit lain yang menyerang anak. Karena imunisasi, lanjut Vinod, dua sampai tiga juta angka kematian dapat dicegah setiap tahunnya. 

 

"Imunisasi terbukti efektif untuk mencegah penyakit dan mencegah kematian akibat penyakit tersebut," kata dr Vinod saat menjadi narasumber di Bahtsul Masail 'Kehalalan Vaksin Covid-19' yang diselenggarakan Lembaga Bahstul Masail Pengurus Besar Nahdatul Ulama (LBM PBNU), Kamis (15/10). 

 

Ia menjelaskan, imunisasi tidak hanya berguna untuk mencegah penyakit tetapi juga memberikan dampak yang positif untuk kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dengan melakukan imunisasi, anak menjadi sehat sehingga kegiatan mencari nafkah oleh orang tua menjadi produktif. Di situlah perputaran ekonomi terjadi. 

 

Dokter asal India ini menuturkan, proses pembuatan vaksin membutuhkan waktu yang cukup panjang bisa delapan sampai sepuluh tahun. Perkembangannya dapat dimulai dengan investigasi pre klinis, kemudian dilanjutkan keuji lab fase  satu dua dan tiga. Pada tahapa tiga inilah dilakukan pengembangan yang mendalam untuk dapat dilanjutkan ke produksi berskala besar, produksi berkala besar beresiko dan pengujian efektivitas. 

 

"Dilanjutkan dengan pengembangan vaksin secara paralel dan kesiapan suplai vaksin untuk distribusi berskala besar," tuturnya. 

 

dr Vinod mengakut ikut prihatin atas tingginya angka terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia. Menurut dia, tidak hanya Indonesia, seluruh dunia sedang menanti kehadiran vaksin Covid-19. Meski begitu dia bertutur bahwa vaksin yang saat ini dikembangkan hanya untuk mencegah terjangkitnya virus serta bermanfaat untuk meningkatkan imun tubuh. 

 

Artinya, vaksin bukanlah obat yang bisa melenyapkan virus dalam tubuh secara seketika. Dia hanya membantu melandaikan perkembangan virus, secara perlahan virus tersebut tidak lagi berkembang dalam tubuh manusia. Dari puluhan jenis vaksin yang dikembangkan oleh negara di dunia belum ada yang dinyatakan lulus uji lab.  

 

Saat ini pemerintah Republik Indonesia telah menargetkan akan mengamankan 350 juta dosis vaksin untuk disuntikkan kepada 170 penduduk Indonesia tahun ini. Kegiatan vaksinasi oleh pemerintah dijadwalkan pada November tahun ini. Total sudah ada 213,1 juta dosis vaksin yang telah dipesan pemerintah kepada produsen vaksin asal China dan Inggris.  

 

Berdasarkan penelusuran NU Online, dari tiga produsen vaksin China, Indonesia sudah mendapatkan komitmen 18,1 juta dosis vaksin khusus tahun ini, meliputi Cansino dengan jumlah 100 ribu dosis vaksin (single dose), G42/Sinopharm 15 juta dosis vaksin (dual dose) dan Sinovac 3 juta dosis vaksin. Tak hanya itu, Sinovac menyanggupi pengiriman 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk. 

 

Sementara untuk tahun depan, pemerintah sudah mengamankan 195 juta dosis vaksin, Sinopharm sebanyak 50 juta (dual dose), Cansino 20 juta (single dose), Sinovac 125 juta (dual dose). 

 

Single dose maksudnya satu orang cukup divaksin satu dosis saja sedangkan dual dose membutuhkan dua kali vaksinasi untuk satu orang. Kemudian, khusus vaksin yang berasal dari Inggris akan tiba  pada semester I-2021 secara bertahap.
 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile