Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARI SANTRI 2020

Santri Mandiri dan Relasi Kehidupan Sosial

Santri Mandiri dan Relasi Kehidupan Sosial
santri adalah sosok yang memiliki kharisma dan karakter kepemimpinan yang kuat. Karakter kemandirian santri sangat dibutuhkan agar kharisma dan kepemimpinan itu dapat diwujudkan.
santri adalah sosok yang memiliki kharisma dan karakter kepemimpinan yang kuat. Karakter kemandirian santri sangat dibutuhkan agar kharisma dan kepemimpinan itu dapat diwujudkan.

Jakarta, NU Online

Peran santri untuk mengisi kemerdekaan tak perlu lagi diragukan. Jiwa nasionalisme mereka selalu tumbuh seirama dengan pengembangan tatanan sosial bangsa Indonesia. Setelah ditetapkan Hari Santri oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden nomor 22 tahun 2015 lalu, sosok santri menjadi dambaan seluruh masyarakat agar mampu bersaing dengan pihak luar.

 

Santri sebagai penerus para kiai adalah sosok yang mengedepankan pemikiran keislaman yang komplek lengkap dengan gagasan manhaj empat imam yang diadopsinya. Tak hanya itu, santri adalah sosok yang memiliki kharisma dan karakter kepemimpinan yang kuat. Karakter kemandirian santri sangat dibutuhkan agar kharisma dan kepemimpinan itu dapat diwujudkan.

 

Menurut Dosen Sosiologi Politik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Amsar A Dulmanan, santri yang hidup era sekarang harus mampu merevitalisasi setiap apa yang diajarkan pesantren melalui peningkatan sifat mandiri. Kemandirian santri menjadi sesuatu yang harus melekat pada sosok santri sebagai bekal dia nanti ketika menjalani kehidupan di masyarakat.  

 

Amsar menambahkan, santri tidak boleh bergantung dengan institusi negara harus berjalan secara mandiri, memperkuat harga diri dan kedaulatannya. Nantinya,  jika pola tersebut tercipta maka selain mendapatkan ilmu pengetahuan agama Islam yang mendalam, secara perlahan konsep kehidupan manusia seutuhnya didapatkan sosok santri tersebut.

 

"Kemandirian santri merupakan proses menjadi manusia seutuhnya. Dimanapun dia harus hadir dan mendinamisasi keadaan," kata dosen Unusia Jakarta yang juga Koordinator Nasional (Koornas) Forum Komunikasi Generasi Nahdlatul Ulama (GMNU), Kamis (22/10) sore.

 

Amsar menerangkan, yang dimaksud kemandirian pada sosok santri adalah kemandirian sosial dan kemandirian ekonomi yang mendorong meningkatnya peran santri di masyarakat. Santri kini sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia, begitupun dengan ideologi yang dia miliki. Hal tersebut tidak lagi relevan dibicarakan, sebab, semua sudah tahu jika santri adalah bagian dari ideologi agama yang berkembang di Indonesia. 

 

"Jadi saat ini santri harus diberikan perspektif lain supaya muncul ruang kesadaran khusus mengenai kedaulatan dirinya dan kedaulatan negara. Santri adalah kelompok yang berpotensi mengisi tatanan negara ini karena itu sangat penting diberikan pemahaman yang luas termasuk soal ekonomi dan sosial," tuturnya. 

 

Harapan ini disampaikan Amsar A Dulmanan sebagai tanggapan diperingatinya Hari Santri, Kamis (22/10) hari ini. Hari santri yang ditetapkan pemerintah untuk mengingat lagi peran kiai, santri dan pondok pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. 

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile