Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

PBNU Ungkap Problem Utama Vaksin Covid-19 bagi Negara Berkembang

PBNU Ungkap Problem Utama Vaksin Covid-19 bagi Negara Berkembang
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Foto: iStockphoto)
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Foto: iStockphoto)

Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesehatan dr Syahrizal Syarif mengatakan bahwa semua produsen vaksin Covid-19 pasti berasal dari negara-negara maju. Ia kemudian menyebutkan beberapa perusahaan farmasi internasional yakni Moderna, AstraZeneca, dan Sinovac Biotech.


“Apa pun vaksin yang kita sebutkan, tidak ada yang berasal dari negara berkembang. Problemnya adalah bagaimana vaksin dari negara maju bisa sampai ke negara-negara berkembang yang berpenghasilan sedang dan rendah,” ungkapnya dalam webinar nasional bertajuk Vaksin Covid-19, Antara Keyakinan & Keraguan, pada Rabu (18/11) malam.


Lebih lanjut, Syahrizal menyebut vaksin Pfizer yang belakangan sering disebut-sebut. Ia menuturkan bahwa vaksin tersebut membutuhkan wadah bersuhu minus 75 derajat celcius. Wadah seperti itu, katanya, sangat mahal untuk didatangkan dari negara maju.


“Syukurnya Sinovac misalnya mengatakan hanya dibutuhkan wadah dengan 2 hingga 4 derajat celcius. Saya rasa ini lebih toleran lah dengan situasi di negara berkembang,” ungkap Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) ini.


Selanjutnya, Syahrizal juga menyoroti soal harga vaksin yang bisa mencapai sekitar 4 hingga 30 US Dollar. Dengan demikian, problem utama vaksin di dunia saat ini adalah soal akses keadilan terhadap vaksin.


“Ini (harga) akan menjadi problem besar. Saat ini hampir semuanya dua dosis vaksin, tapi masih belum jelas bahwa berapa lama sebenarnya proteksi itu bisa dipunyai oleh mereka yang mendapat vaksin. Apakah setahun atau dua tahun, selama ini belum jelas,” tutur Wakil Rektor I Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta ini.


Problem lain yang menjadi sorotan utama dr Syahrizal adalah aspek penerimaan vaksin Covid-19 di masyarakat Indonesia. Sebab menurutnya, kultur bangsa Indonesia belakangan ini meningkat religiusitasnya. 


“Sehingga selalu muncul pertanyaan halal atau haram. Vaksin ini merupakan harapan tapi kerap muncul berbagai keraguan. Nah kalau dari sisi keamanan saya jamin aman karena sudah melalui fase atau tahapan uji klinis,” ucap dr Syahrizal.


Kesadaran protokol kesehatan


Sebelumnya, Ketua Satgas NU Peduli Covid-19 dr Muhammad Makky Zamzami mengatakan bahwa dalam kondisi apa pun, masyarakat harus terus meningkatkan kesadaran untuk menerapkan protokol kesehatan.


“Menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan diri ini lah yang sangat sulit dilakukan masyarakat. Bahkan, masalahh ini menjadi tantangan tersendiri Satgas NU di lapangan. Padahal kunci agar tidak terhindar dari Covid-19 adalah menerapkan protokol kesehatan,” ungkap dr Makky.


Soal protokol kesehatan, pihaknya mengaku telah melakukan berbagai gerakan sosialisasi kepada masyarakat agar mampu bersama-sama terhindar dari Covid-19. Menurutnya, cara penyelesaian Covid-19 harus dengan benar, kesadaran, dan peduli dengan protokol kesehatan.


“Kami menghadapi berbagai tantangan di masyarakat. Sejak hadirnya Covid-19 di Indonesia Satgas NU langsung merespons dengan ragam pendekatan di masyarakat. Di antara hal yang paling gencar dilakukan adalah kegiatan sosialisasi kepada masyarakat bersama UNICEF Indonesia,” katanya.


Webinar nasional yang juga disiarkan secara langsung melalui Kanal Youtube 164 Channel ini juga dihadiri oleh Kolaborator Ahli Lapor Covid-19 Dicky Pelupessy, Sekretaris LBM PBNU KH Sarmidi, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia, dan perwakilan Bio Farma Indonesia Neny Nuraini.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile