Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Temuan Penting Survei Unversitas Indonesia terkait Vaksin Covid-19

Temuan Penting Survei Unversitas Indonesia terkait Vaksin Covid-19
Penyebab munculnya keraguan masyarakat terhadap vaksin Sinovac dan vaksin merah putih karena belum mendapatkan informasi lebih detail mengenai vaksin.
Penyebab munculnya keraguan masyarakat terhadap vaksin Sinovac dan vaksin merah putih karena belum mendapatkan informasi lebih detail mengenai vaksin.

Jakarta, NU Online

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) merilis hasil survei ‘pemahaman dan keyakinan warga terhdap vaksin Covid-19’. Salah satu tujuan survei tersebut untuk mengetahui seberapa besar masyarakat mengenal vaksin Covid-19, baik vaksin Sinovac maupun vaksin merah putih buatan dalam negeri. 


Hal yang mengejutkan, survei yang dilakukan pada 22 September sampai dengan 3 Oktober lalu itu yakni 52,20 persen masyarakat Indonesia tidak mengenal dan tidak pernah mendengar sama sekali vaksin merah putih. Vaksin yang dikembangkan lembaga biologi molekuler dan Bio Farma. Sedangkan 47,80 persen masyarakat sudah pernah mendengar dan mengenal vaksin merah putih tersebut. 


Kolaborator Ahli Lapor Covid-19 Universitas Indonesia, Dicky Pelupessy, mengatakan, pihaknya menyodorkan dua nama vaksin kepada masyarakat. Pertanyaan yang diajukannya adalah ‘Apakah Anda pernah mendengar tentang vaksin Sinovac dan vaksin merah putih?. 


Jawabannya, kata dia, 32,39 persen masyarakat belum mengetahui vaksin Sinovac. Sedangkan 67,61 persen masyarakat sudah mengenal dan mengetahui vaksin Sinovac produksi PT Sinovac dan Bio Farma. Selain itu, lanjut Dicky, 52,20 persen masyarakat tidak mengenal vaksin merah putih dan 47,80 persen sudah mengenal. Alasannya karena vaksin merah putih belum banyak muncul dan diungkapkan di media massa atau media sosial.


“Lebih banyak masyarakat yang mendengar vaksin Sinovac dan Bio Farma dibandingkan dengan vaksin merah putih,” katanya saat menjadi narasumber di Webinar Nasional ‘Vaksin Covid-19: Antara Keraguan dan Keyakinan, Rabu (18/11) malam.


Selanjutnya, 32 persen masyarakat tidak setuju atau tidak menerima vaksin Sinovac untuk disuntikan kepada masyarakat. 27 persen ragu-ragu dan 23 persen setuju. Sedangkan untuk vaksin merah putih 35 persen setuju dan 37 persen ragu-ragu.


“Penerimaan atau persetujuan terhadap vaksin merah putih lebih besar yang saat ini masih proses,” tuturnya.


Dari survei tersebut masih ditemukan keragu-raguan yang cukup besar dari masyarakat untuk menerima vaksin Covid-19 terutama vaksin Sinovac yang diproduksi oleh China. Di Jakarta sendiri jumlah masyarakat yang meragukan hal ini mencapai 34,72 persen. 


Penyebab munculnya keraguan masyarakat terhadap vaksin Sinovac dan vaksin merah putih karena belum mendapatkan informasi lebih detail mengenai vaksin. Edukasi dan sosialisasi mengenai hal ini belum masif digerakan di akar rumput.


“Kita belum tahu keamanan vaksin yang dikembangkan, ini menurut saya penyambung dengan poin kedua tadi bahwa ketika janji ketersediaan vaksin yang lebih awal dikemukakan ditanggapi negatif, Memang penting bahwa keyakinan masyrakat harus diyakinkan berbasis temuan ilmiah,” tuturnya.


“Faktor lain yang juga menyebabkan masyarakat ragu terhadap vaksin yakni sentimen halal tidak halal vaksin,” tambahnya.


Di sisi lain, meski penelitian menemukan angka tidak mengenal vaksin merah putih secara signifikan, pengetahuan yang cukup baik dari masyarkat terkait Covid-19 menjadi temuan penting dan menggemberikan. 


Kebenaran menjawab terkait gejala-gejala orang terpapar Covid-19, cara penularannya Covid-19 dan cara penyembuhan Covid-19. Skor diagramnya mendekati 450, dari 500 angka yang dijadikan ukuran. 


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile