Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kelompok Salafi-Jihadi Musibah Besar bagi Umat Islam​​​​​​​

Kelompok Salafi-Jihadi Musibah Besar bagi Umat Islam​​​​​​​
Sekretaris Umum PP ISNU, M. Kholid Syeirazi. (Foto: dok. istimewa)
Sekretaris Umum PP ISNU, M. Kholid Syeirazi. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Aksi teror yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pada Jumat (27/11) pekan lalu, di Sigi, Sulawesi Tengah, yang menewaskan empat orang dalam satu keluarga sangat melukai rasa kemanusiaan bangsa Indonesia.


Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) M. Kholid Syeirazi menyebut bahwa aksi biadab dan keji itu merupakan musibah besar bagi umat Islam. Sebab kini, Islam menjadi tersangka dari berbagai aksi yang dilakukannya.


“Kelompok ini (MIT) terafiliasi dengan ISIS. ISIS ini (berideologi) salafi jihadi yang menurut saya adalah salah satu musibah umat Islam sekarang ini dengan pemahamannya yang sesat, sehingga umat Islam menjadi tersangka dan masalah. Jadi musibahnya di situ,” ungkapnya kepada NU Online melalui sambungan telepon, pada Selasa (1/12) sore.


Pemahaman kelompok salafi-jihadi yang takfiri itu adalah musibah besar bagi umat Islam. Karena itu menurutnya, kelompok semacam MIT yang berafiliasi dengan ISIS harus diperangi pemikirannya.


“Karena kita semua (sekarang) menjadi tersangka, seolah-olah Islam menjadi identik dengan mereka. Dan di level struktural, negara harus memberikan atensi kepada kelompok ini dengan penegakan hukum yang terukur sekaligus memberikan ruang untuk dilakukannya deradikalisasi,” tegas penulis buku Wasathiyah Islam ini.


Ia menegaskan bahwa upaya deradikalisasi harus dilakukan dengan terus menebarkan konsep wasathiyah Islam. Konsep Islam moderat menurut Kholid telah ditafsirkan menurut prinsip-prinsip yang telah diajarkan para nabi dan ulama.


“Semangatnya (wasathiyah Islam) adalah moderasi, termasuk memahami nash. Moderasi dalam menafsirkan teks (berarti) tidak dilepaskan dari konteks termasuk teks-teks terkait dengan jihad,” tuturnya.


Ia menerangkan bahwa kelompok salafi-jihadi itu menafsirkan jihad seolah-olah adalah qital atau perang. Itulah yang menjadi musibah bagi umat Islam kekinian. Padahal, lanjut Kholid, Rasulullah sudah banyak memberikan contoh terkait jihad yang tidak hanya dimaknai sebagai perang secara fisik.


“Banyak sekali (makna) jihad itu. Kemudian dielaborasi oleh banyak kitab fiqih. Misalnya Fathul Muin menyatakan bahwa menjawab salam itu jihad,” terangnya.


Dalam konteks daulah Islamiyah, menurutnya, jihad itu adalah daf’u dharari ma’shumin atau melindungi orang yang ma’shum seperti kafir dzimmi. Hal itu adalah jihad untuk melindungi kehormatan dan martabat mereka.


“Sementara dalam konteks berbangsa dan bernegara, mereka adalah warga negara yang dijamin oleh kesepakatan kita sebagai bangsa. Mereka kedudukannya setara dengan kita yang wajib dilindungi dan saling melindungi,” terangnya.


Sebelumnya telah diberitakan, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU) Imdadun Rahmat menegaskan bahwa aksi biadab yang dilakukan MIT merupakan bentuk terorisme yang terencana.


“Menurut saya, kasus ini memang sengaja direncanakan. Tidak ada satu ‘amaliyah’ yang dilakukan oleh terus yang tidak diperhitungkan,” katanya.


Imdad menjelaskan bahwa kesengajaan aksi itu terlihat dari mereka memperhitungkan strategi pelaksanaannya, kemungkinan keberhasilannya, dan dampak apa yang menguntungkan mereka. Termasuk risiko kemungkinan yang akan diterima dan keuntungan yang diperolehnya.


“Itu dihitung betul sama mereka. jadi, saya melihat kasus Sigi ini memang direncanakan untuk tujuan tertentu,” ungkap Ketua Komnas HAM 2016-2017 itu.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile