Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Selain Pelajari Keteladanan, Haul Ajak Masyarakat Nostalgia ke Kota Masa Remaja Gus Dur

Selain Pelajari Keteladanan, Haul Ajak Masyarakat Nostalgia ke Kota Masa Remaja Gus Dur
Melalui Haul Gus Dur tahun ini, masyarakat juga diajak belajar dari proses perjalanan hidup Gus Dur yang membentuknya menjadi seorang humanis, toleransi, dan pluralisme. (Foto: NU Online)
Melalui Haul Gus Dur tahun ini, masyarakat juga diajak belajar dari proses perjalanan hidup Gus Dur yang membentuknya menjadi seorang humanis, toleransi, dan pluralisme. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Peringatan wafatnya KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang diadakan di tiga kota, Jakarta, Yogyakarta, dan Jombang secara online. Acara Haul ke-11 Gus Dur ini mengangkat tema Persatuan Solidaritas Satu Negeri Satu Cinta, Kamis (30/11).

 

Anita Wahid, perwakilan keluarga Gus Dur mengatakan, pemilihan tiga kota itu erat kaitannya dengan sejarah Gus Dur semasa hidup. "Bapak lahir di Jombang, menjalani masa kecil di Jakarta, dan menghabiskan masa remajanya di Yogyakarta," ujar Anita yang menjadi Ketua Pelaksana Haul Gus Dur tahun ini.


Pada acara yang berlangsung mulai pukul 18:00 WIB penonton diajak untuk bernostalgia. Tidak itu saja, masyarakat juga diajak belajar dari proses perjalanan hidup Gus Dur yang membentuknya menjadi seorang humanis, toleransi, dan pluralisme.


Sebagai sebuah negara multikultural, kata Anita, Indonesia tak jarang mengalami berbagai gejolak dan konflik. Salah satu sebab masih eksisnya negara Indonesia adalah karena persatuan dan solidaritas rakyatnya.

 

"Tema ini mengingatkan kita pada semboyan negara kita tercinta, yaitu Bhinneka Tunggal Ika," jelas Anita.

 

Menurutnya, Gus Dur memang sudah wafat sebelas tahun yang lalu. Tetapi, semangat persatuan dan solidaritas ini terus dijaga oleh keluarga, sahabat, pengikut, dan pengagum Gus Dur. Terbukti pada saat ini para pengikut Gus Dur yang menyebut dirinya sebagai Gusdurian menjadi salah satu elemen kekuatan masyarakat sipil untuk kemanusiaan.


"Ada ribuan penggerak Gusdurian yang terus menjaga nyala semangat yang ditinggalkan Gus Dur. Ada jutaan orang yang terinspirasi dengan laku Gus Dur dan kini sama-sama berjuang demi tegaknya Indonesia sebagai rumah bersama," kata Anita.


Anita menambahkan Haul Gus Dur ini dilakukan secara online karena menyesuaikan dengan kondisi pandemi saat ini yang mengaharuskan kita untuk beraktivitas di rumah saja, serta tidak boleh berkerumun dengan banyak orang. Kondisi pandemi saat ini menyadarkan masyarakat untuk memperkuat rasa kemanusiaan, solidaritas sosial, dan persatuan antaranak bangsa tanpa melihat latar belakang perbedaan yang ada.

 

"Seperti kata Bapak bahwa semakin berbeda kita, semakin terlihat titik-titik persamaan kita. Kami mengajak masyarakat untuk lebih keras mencari titik-titik persamaan daripada membenturkan perbedaan yang sudah menjadi fitrahnya," ujar Anita.
 

Kontributor: Joko Susanto
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online