Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Innalillahi, Rais NU Kota Bandung KH Tajudin Subki Wafat

Innalillahi, Rais NU Kota Bandung KH Tajudin Subki Wafat
KH Tajudin Subki (paling kiri). (Foto: dok istimewa)
KH Tajudin Subki (paling kiri). (Foto: dok istimewa)

Kota Bandung, NU Online

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

 

Selain dari Jakarta Timur, kabar duka juga datang dari PCNU Kota Bandung, Sabtu (23/1) malam ini. Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung KH Tajudin Subki bin KH  Ismail diberitakan meninggal dunia pukul 18.30 WIB. KH Tajudin wafat dalam usia 74 tahun. 

 

Sekretaris PCNU Kota Bandung, H Wahyul Afif al-Ghafiqi mengatakan KH Tajudin Subki adalah ulama yang dikenal sebagai tempat bertanya dan rujukan ilmu bagi warga NU Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung.

 

"Beliau fokus mengajar berbagai kitab kuning baik di pesantren beliau yakni Pesantren Khozanaturrohmah Pangkalan Cibolerang, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung maupun di pengajian Majelis Ta'lim Sabtuan di Kantor PCNU Kota Bandung. Santri beliau kebanyakan adalah para kiai dan ustadz di seputar Bandung," kata H Wahyul.


KH Tajudin Subki, lanjut dia, biasa dipanggil dengan sebutan 'Pangersa Aah' juga seorang yang sangat alim dan ketat dalam berfikih, serta ahli ibadah. Setiap kali ada yang bertanya tentang berbagai masalah, maka beliau akan ber-istikharah dan membukakan kitab kuning sebagai rujukan pendapatnya untuk menjawab masalah yang ditanyakan kepadanya.

 

Selain itu, KH Tajudin Subki dikenal sangat dekat dengan berbagai kalangan baik dari para pejabat hingga santri dan para aktivis NU. Sepanjang mengenal almarhum, Kiai Tajudin sangat berhat-hati dalam bersikap dalam kesehariannya.

 

"Tak terhitung banyaknya kebaikan beliau dalam memperjuangkan NU, dan doa beliau dikenal ampuh. Saya kalau mau ada acara minta doa kepada beliau agar lancar dan supaya tidak hujan saat acara. Dan, ajaib setelah beliau menulis kalimah doa di kertas lalu disuruh mengikat di pohon atau tempat yang tinggi maka biidznillah acara aman, lancar, dan tidak hujan," ujar H Wahyul mengisahkan.

 

Pernah satu ketika, ada juga kiai sedang memperluas pesantrennya, tetapi terkendala lahan yang sempit. "Setelah minta didoakan oleh KH Tajudin Subki biidznillah diberikan kemudahan," ujar H Wahyul.

 

Kepergian KH Tajudin Subki berselang dua hari setelah wafatnya sang istri Hj Imas binti Oba Sobarna. Almarhum meninggalkan tujuh orang anak.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asori


 

Posisi Bawah | Youtube NU Online