Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Cetak Biru Indonesia Emas 2045 Perlu Disambut dengan Profesionalitas

Cetak Biru Indonesia Emas 2045 Perlu Disambut dengan Profesionalitas
"Indonesia 2045 harus disongsong dengan profesionalitas masing-masing," kata Ketum IKA PMII, H Ahmad Muqowam saat menjadi pembicara pada Muktamar Pemikiran Dosen PMII di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, Jawa Timur, Senin (5/4). (Foto: istimewa)
"Indonesia 2045 harus disongsong dengan profesionalitas masing-masing," kata Ketum IKA PMII, H Ahmad Muqowam saat menjadi pembicara pada Muktamar Pemikiran Dosen PMII di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, Jawa Timur, Senin (5/4). (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

Indonesia memiliki cita-cita Indonesia Emas 2045. Cetak Biru menuju hal tersebut perlu dikonseptualisasikan. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia H Ahmad Muqowam menyampaikan bahwa masa tersebut harus disambut dengan peran masing-masing.

 

"Indonesia 2045 harus disongsong dengan profesionalitas masing-masing," katanya saat menjadi pembicara pada Muktamar Pemikiran Dosen PMII di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, Jawa Timur, Senin (5/4).

 

Cetak biru mengenai Indonesia Emas 2045, menurutnya, bukan hanya harus didiskusikan melainkan juga harus dirumuskan berdasarkan visi ke depan.

 

Sementara itu, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sony HB Harmadi menyampaikan bahwa kesuksesan di masa yang akan datang harus sudah dibayangkan sejak dini. Dalam beberapa kesempatan dengan mahasiswanya, ia pernah menanyakan kepada mereka perihal 25 tahun ke depan. Namun, tak sedikit yang tidak memiliki kemampuan untuk membayangkan hal itu. Menurutnya, memperkirakan 25 tahun ke depan itu seperti halnya melihat 25 tahun yang lalu.

 

"Jangan harap kamu punya masa depan yang hebat kalau kamu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan," tegasnya.

 

Oleh karena itu, penting kiranya untuk mengembangkan kurikulum pendidikan yang lebih tidak menekankan pada pencapaian nilai, melainkan pencapaian hasil Bersama-sama. "Ini perlu dikembangkan," katanya.

 

Apalagi, lanjut Sony, PMII memiliki kekuatan pada pendidikan karakter, penguasaan agama, hingga tradisi kultural orang-orang NU. Hal tersebut, menurutnya, akan membawa Indonesia dengan jati dirinya yang kuat. "Itu yang harus menjadi pemikiran kita di 2045 dengan indikator yang jelas," ujarnya.

 

Karenanya, ia menyampaikan agar konsepsi mengenai Indonesia Emas 2045 dari IKA PMII itu harus disiapkan dari sekarang. Sebab, ia melihat gotong royong sebagai salah satu karakter bangsa Indonesia dalam kacamatanya saat ini belum mengakar pada generasi di bawah usia 40 tahun. Kapital sosial tersebut, kata Sony, perlu ditularkan dan itu menjadi tantangan ke depan.

 

Sementara  itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menegaskan bahwa pembangunan Indonesia 2045 bisa dimulai dari desa-desa. Sebagaimana diketahui, sejak zaman Joko Widodo sudah ada dana desa. Ia menyebut banyak cerita sukses yang berhasil membawa kemajuan desanya berkat pengelolaan dana desa yang optimal, tepat pemanfaatan dan sasarannya.

 

Artinya, tidak ada penyimpangan dalam penggunaan dananya, bisa dipertanggungjawabkan secara benar. Pun dengan arah sasarannya harus menempatkan permasalahan prioritas untuk diselesaikan. Gus Halim, sapaan akrabnya, juga menyampaikan bahwa dana desa tidak menafikan kearifan lokal sebagai sebuah karakter dan kekuatan sosial desa. Bahkan, hal itu harus dilestarikan agar kebinekaan Indonesia tetap diberdayakan di desa-desa.

 

Adapun Direktur Pascasarjana UIN KH Achmad Shiddiq (KHAS) Jember Halim Subahar menegaskan bahwa Indonesia 2045 tetap eksis jika tetap merangkul kalangan moderat. Sebab, kaum tengah ini dapat menarik mereka yang berada di posisi kanan dan kiri.

 

Meskipun demikian, kelompok tengah yang memiliki jumlah anggota cukup besar, sangat rentan digerogoti. Pasalnya, secara kualitas Sumber Daya Manusianya masih rentan mengingat pendidikannya yang rendah. Pun dengan penguasaannya pada ilmu pengetahuan dan teknologi masih rendah. Sementara di kelompok kanan dan kiri, pendidikannya cukup tinggi. 

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya