Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Berbagai Tradisi Masyarakat Bekasi jelang Ramadhan

Berbagai Tradisi Masyarakat Bekasi jelang Ramadhan
Suasana gotong royong warga di kawasan Bogo, Jimbe, Jenangan, Ponorogo membersihkan makam. (Foto: NU Online Jatim)
Suasana gotong royong warga di kawasan Bogo, Jimbe, Jenangan, Ponorogo membersihkan makam. (Foto: NU Online Jatim)
Bekasi, NU Online 
Masyarakat di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dan daerah sekitarnya memiliki beragam tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan yang masih mengakar kuat di tanah Sunda ini. Tradisi tersebut biasanya mulai dilakukan pada akhir bulan Sya'ban.
 
Sekretaris Nahdlatul Ulama (NU) Sumber Jaya, Bekasi, Saifulloh menyampaikan, beberapa tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat di wilayahnya di antaranya adalah bersih-bersih makam leluhur sekaligus berziarah. “Setiap menjelang Ramadhan di daerah Bekasi terkhusus wilayah Tambun Selatan kami melakukan tradisi tersebut," katanya saat dihubungi NU Online, Kamis (8/4).
 
“Selain bersih-bersih makam, kami juga melakukan bersih-bersih rumah sebagai syarat tidak hanya jiwa yang bersih tetapi juga rumah harus bersih. Di Masjid atau Mushola-pun diadakan kerja bakti,” imbuhnya.
 
Tradisi lain misalnya 'nyorog', yaitu mengantar makanan menggunakan rantang yang dilakukan oleh anak kepada orangtuanya masing-masing dan juga kepada saudara-saudaranya.
 
“Sampai hari ini tradisi 'nyorog' masih ada, tradisi tersebut bermakna menyambung silaturahim keluarga besar sambil membawa makanan. Menu makanan yang biasa dibawa yakni sayur bihun, ikan bandeng, daging, atau ayam dan ketupat,” bebernya.
 
Di samping itu, alumni FISIP Unisma Bekasi ini menambahkan, berbagai tradisi yang saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat sebenarnya adalah warisan leluhur. Dan hal itu merupakan wujud perasaan bangga masyarakat akan datangnya Ramadhan, bulan yang diyakini oleh umat Islam akan sejumlah keberkahannya.
 
"Termasuk tradisi saat menjelang sore masyarakat membuat pleduran (meriam dari bambu) itu," ungkapnya.
 
Ia kemudian menceritakan masa kecilnya yang masih sempat menikmati keseruan beberapa tradisi menjelang Ramadhan. Di antara yang olehnya tak bisa dilupakan adalah menyaksikan gemuruh suara tabuhan beduk dan bunyi pleduran.
 
“Waktu saya kecil bersama teman-teman setiap sore ada tabuhan beduk biasanya dilakukan di daerah udik (Bantar Gebang, Setu, Ciketing) dan daerah bawah (Tambelang dan Sukatani). Tabuhan beduk dan pleduran ini sebagai penanda atas datangnya bulan suci Ramadhan,” terang pria yang akrab disapa Bang Ipul ini.
 
Sementara itu, Ilok, Pengurus Lembaga Kebudayaan Orang Bekasi menambahkan dalam tradisi munggahan, orang Bekasi paling demen (suka) membeli ikan bandeng, kemudian dimasak bumbu kuning. Setelah matang diantar ke saudaranya sebagai tanda sambung maaf dan silaturahim.
 
“Selain itu ada tradisi nyekar sambil ngored (mengambil) tanah makam orangtua yang telah meninggal, tradisi rowahan, penutupan pengajian, sembahyang Nisfu Sya'ban dan keramas. Semua itu dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan,” tuturnya.
 
Kontributor: Suci Amaliyah
Editor: Syamsul Arifin
Posisi Bawah | Youtube NU Online