Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Percaya Diri Jadi Modal Awal Wartawan saat Wawancara

Percaya Diri Jadi Modal Awal Wartawan saat Wawancara
"Wartawan wajib menambah wawasan tiap hari; jangan sungkan buka portal untuk dibaca, supaya tidak ketinggalan bahan informasi," kata Syamsul Huda saat Tadarus Jurnalistik NU Online secara virtual, Ahad (25/4).
"Wartawan wajib menambah wawasan tiap hari; jangan sungkan buka portal untuk dibaca, supaya tidak ketinggalan bahan informasi," kata Syamsul Huda saat Tadarus Jurnalistik NU Online secara virtual, Ahad (25/4).

Pamekasan, NU Online

Wawancara harus diawali dengan kepercayaan diri. Kalau tidak ada rasa kepercayaan diri, hasil wawancara pasti kurang bagus.

 

Demikian ditegaskan Syamsul Huda saat menjadi pemateri Teknik Wawancara dalam Tadarus Jurnalistik sesi ketiga yang diadakan NU Online secara virtual Ahad (25/4).

 

"Berjurnalistik adalah membangun kepercayaan diri. Mentalitas yang kuat penting dimiliki oleh seorang wartawan. Harus percaya diri. Supaya tidak seperti robot. Dengan begitu, pertanyaan yang disuguhkan tidak kaku, bisa berkembang," tegas wartawan senior NU Online tersebut.

 

Di samping menjaga penampilan dengan baik dan selalu wangi, tegasnya, wartawan mesti selalu mengasah wawasannya. Wartawan wajib menambah wawasan tiap hari; jangan sungkan buka portal untuk dibaca, supaya tidak ketinggalan bahan informasi.

 

"Untuk membangun kepercayaan diri saat wawancara, naluri jurnalisme kita harus diasah dengan mengetahui banyak hal; sering membaca, terlibat aktif dalam sebuah diskusi, ikut seminar dan halaqoh, dan sejenisnya. Wartawan yang memiliki banyak jam terbang dalam hal mengasah wawasan, tidak akan kesulitan membangun kepercayaan dirinya," tegas Syamsul Huda. 

 

Mantan wartawan ekonomi tersebut menambahkan, media-media besar saat ini kerap mengandalkan wartawannya yang berwawasan luas dan jago dalam bertanya atau melakukan wawancara, bisa menyajikan informasi-informasi mendalam dan lugas. 

 

"Itu diperoleh pasokannya dari wartawan yang piawai dalam menggali berita. Pisaunya wartawan itu, terletak pada Why and How. Kedua pertanyaan tersebut harus dikejar. Karena itu, wartawan barus punya bahan untuk ditanyakan dan didiskusikan. Jika menjadi wartawan tapi malas mendengarkan dan tidak semangat update informasi, mending berhenti jadi wartawan. Sebab, tidak akan pernah berkembang," tegasnya.

 

Di tengah-tengah menyampaikan materi, Syamsul Huda berbagi pengalamannya saat dihadapkan dengan narasumber yang memberi jawaban mengambang yang menjurus pada bohong. Karena punya kepercayaan diri dengan pengetahuan yang memadai serta memahami pokok persoalan, jawaban bohong tersebut dapat diluruskan.

 

"Saat itu saya menjadi wartawan desk ekonomi. Liputan neraca keuangan bank. Ketika ditanya laba, narasumber mengaku masih mau menghitung. Saya jawab: di neraca keuangan yang dipublis di media, begini Pak. Akhirnya narasumber tersebut mau terbuka terkait laba neraca keuangan bank yang dipimpinnya," ungkap Syamsul Huda. 

 

Selain itu, menurut dia biasanya ada narasumber menguji wartawan dengan tidak langsung memberikan jawaban yang benar. Di situlah manfaatnya jika wartawan mengetahui suatu hal lebih banyak dan lebih luas daripada sekadarnya.

 

Syamsul Huda menekankan agar wartawan mesti menyimpan baik data hasil wawancara. Hal itu agar nantinya bisa membandingkan data sekarang dengan sebelumnya. Menguasai persoalan, tidak harus mengetahui semua persoalan. Tapi, memahaminya. 

 

"Kuasai persoalan sebelum wawancara, supaya tidak dikibuli narasumber, agar narasumber bisa diarahkan ketika berkelit. Kalau tidak menguasai persoalan, pasti hasil wawancaranya jelek. Kuasai persoalan kunci," urainya.

 

Tiga model wawancara

Menurut Syamsul Huda, sedikitnya terdapat tiga model wawancara yaitu terjadwal atau konferensi pers, wawancara cegat (doorstop), dan wawancara tatap muka. 

 

Dalam wawancara terjadwal, terdapat delapan hal yang mesti diperhatikan wartawan. Pertama, disiplin waktu, datang 15 menit sebelum acara dimulai. Kedua, memahami suatu kegiatan dengan mengidentifikasi nara sumber, akses, dan lain-lain. Ketiga, merekam atau mendokumentasikan dengan rapi catatan, foto, suara, dan gambar. Keempat, memperkenalkan identitas diri. Kelima, menerapkan kode etik jurnalistik. Keenam, menyiapkan materi pertanyaan spesial (di luar konferensi pers). 

 

"Selanjutnya, mencatat alamat dan nomor telepon nara sumber. Terakhir, menyelaraskan kembali pertanyaan dan jawaban yang multitafsir," paparnya.

 

Sementara itu, model doorstop mengetengahkan banyak ketentuan: memahami materi yang akan ditanyakan; mengenalkan identitas diri; mencari posisi yang tepat agar tercipta suasana komunikatif dengan narasumber; mengajukan pertanyaan dengan suara lantang, jelas, lugas, ringkas namun tetap santun (menarik perhatian narasumber).

 

"Dalam doorstop, perlu juga kita menyiapkan jawaban dan melanjutkan pertanyaan; mengikuti pertanyaan wartawan lain untuk mendapat informasi baru atau tambahan; membuat catatan atau rekaman yang rapi," ujarnya.

 

Di samping itu, menguasai forum dengan menjadi dirijen yang mengendalikan alur pertanyaan agar tetap fokus pada topik yang diinginkan jika ada wartawan lain mengajukan pertanyaan berbeda topik; menerapkan KEJ; gigih, kreatif dan inovatif dalam menggali informasi; konfirmasi ulang tentang identitas narasumber.

 

"Dalam wawancara tatap muka, kita mesti berpenampilan sopan dan percaya diri; menciptakan suasana dialogis; menjelaskan ke narasumber maksud, tujuan dan materi wawancara; menerapkan pertanyaan dengan menerapkan prinsip 5W + 1H; mengendalikan alur pembicaraan agar tetap fokus pada materi wawancara; menciptakan suasana komunikasi dua arah (ada suasana tatap muka)," tegasnya. 

 

Pertanyaan berdaya

Syamsul Huda juga berbagi pertanyaan berdaya. Ia bisa menghasilkan bobot berita yang diminati banyak pembaca. Terdapat tujuh teknis pertanyaan berdaya. Pertama, ajukan pertanyaan yang relevan. Kedua, pertanyaan berdasar pada acuan yang valid. Ketiga, ringkas, lugas, dan dapat dimengerti sumber berita.

 

"Keempat, ajukan pertanyaan berorientasi masa depan. Kelima, ajukan pertanyaan yang konseptual, sesuai dengan posisi narasumber. Keenam, ajukan pertanyaan yang meminta narasumber untuk berpikir, diawali dengan pertanyaan mengapa (why)," urainya.

 

Terakhir, memposisikan diri sebagai dirijen: sedikit komando (pertanyaan), narasumber menjawab panjang lebar, tetapi tetap dalam bingkai pertanyaan yang diajukan. 

 

"Jangan terbawa arus narasumber, tapi narasumber yang mengikuti arus kita. Inilah pentingnya wartawan menjadi dirijen," tegas Syamsul Huda.

 

Siapkan pertanyaan spesial

Menyiapkan pertanyaan spesial saat konferensi pers, menurut Syamsul Huda, sangat penting diperhatikan oleh wartawan. Dilontarkan tidak di forum, bisa sebelum atau setelah acara. Itu ekslusif. Misal saat berjalan, ditempel dengan satu-dua pertanyaan kunci. 

 

"Itu lantas dijadikan lead. Dengan begitu, narasumber maupun wartawan lainnya akan memperhitungkan kita," kata Syamsul Huda.

 

Khusus di wawancara cegat, Syamsul Huda menyarankan wartawan agar bisa mencuri perhatian. Itu bisa disiasati dengan pernyataan pancingan. Contoh "Satu pertanyaan penting, Pak" atau "Satu pertanyaan untuk dua juta pembaca NU Online, Pak."

 

Hadirkan juga pertanyaan sedikit nakal yang menyita perhatian narasumber. Misal satu pertanyaan ke Panglima terkait kapal musibah tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402: "Apakah nanti akan diadakan audit perkapalan atas kapal selam yang menyelam tapi tidak naik kembali?"

 

"Perlu saya tekankan di sini: bawa buku catatan itu penting. Sekuat-kuat memori kita, perlu tetap mencatat. Apa yang kita pikirkan, suatu-suatu kadang berubah," tegasnya. 

 

Termasuk dalam wawancara cegat, kata Syamsul Huda, wartawan mesti punya skala inti berita dua-tiga pertanyaan. Karena wawancara cegat akan banyak tantangannya bila banyak wartawan.

 

"Apalagi narasumbernya dikawal Banser. Apabila ada instruksi amankan dari Kiai, Banser akan satu komando, tidak mau tahu meskipun wartawannya NU Online," paparnya.

 

Bagi Syamsul Huda, kini NU Online mempunyai kriteria kelayakan tersendiri. Sehingga, nilai kompetitifnya sangat tinggi. Tidak semua tulisan wartawan dinaikkan bila tidak sesuai dengan standarisasi berita NU Online. Berita yang ditayangkan sudah benar-benar terseleksi.

 

"Kendati demikian, setiap ada berita rilis, oleh NU Online tidak langsung ditolak. Meskipun tulisannya jelek dan datanya kurang lengkap. Press rilis merupakan ujian kesabaran. Tiap kami menerimanya, tidak langsung ditolak maupun diterima. Tapi, masih diperbaiki untuk selanjutnya dikembalikan kepada pengirimnya. Tidak jarang pengirim press rilis mengucapkan banyak terima kasih karena press rilis-nya makin bagus," tandasnya.

 

Pewarta: Hairul Anam
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya