Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tak Ingin Dustakan Agama, GP Ansor Pamekasan Santuni 87 Anak Yatim

Tak Ingin Dustakan Agama, GP Ansor Pamekasan Santuni  87 Anak Yatim
Ketua PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan, Syafiuddin, saat memberikan sambutan dalam acara santunan anak yatim. (Foto: NU Online/Anam)
Ketua PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan, Syafiuddin, saat memberikan sambutan dalam acara santunan anak yatim. (Foto: NU Online/Anam)

Pamekasan, NU Online
Mengabaikan keberadaan anak yatim, sadar atau tidak, merupakan wujud nyata mendustakan agama; mengaku berislam, tapi sebenarnya bohong. Karena itu, wajib hukumnya menyantuni anak yatim supaya tidak tergolong muslim pendusta agama.


Demikian ditegaskan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Syafiuddin, saat  ditemui di kantor PCNU Pamekasan, Jalan R Abd Aziz Nomor 95, Jungcangcang, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Senin (26/4).


"Beragama Islam tapi tanpa sadar kita telah mendustakannya. Hal itu terjadi manakala kita tidak peduli dengan keberadaan anak yatim dan fakir miskin. Itulah ajaran agama Islam," tegasnya.


Wakil Ketua DPRD Pamekasan itu mengungkapkan, atas kesadaran itulah organisasi yang dipimpinnya menyantuni anak yatim dalam momentum peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-87 Gerakan Pemuda (GP) Ansor,  Sabtu (24/4). PC GP Ansor Pamekasan menyantuni 87 anak yatim. Itu bagian dari sekian rangkaian Ramadhan Bahagia sebagai tema sentral peringatan Harlah GP Ansor ke-87.


Gerakan tersebut dilakukan secara serentak oleh pengurus dan kader Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor yang tersebar di 13 kecamatan. Tidak hanya itu, mereka juga mengkhatamkan 87 kali Al-Qur’an yang dilakukan secara virtual dan dibagi di tingkatan PC dan PAC. Sebagian besar pengurus Pimpinan Ranting (PR) juga terlibat aktif.


"Mengkhatamkan 87 kali itu diselaraskan dengan angka Harlah GP Ansor. Termasuk jumlah anak yatim yang kami santuni. Angka 87 itu sebagai simbol penegasan saja, sejatinya jumlah anak yatim yang kami santuni melebihi angka tersebut," ungkap Syafiuddin.


Baginya, menyantuni anak yatim merupakan bagian dari mengasah kepekaan sosial. Menyayangi dan mengasihi anak yatim di momentum-momentum tertentu penting dilakukan secara masif dan terorganisasi. Itu dilakukan sebagai bagian dari syiar ajakan menyantuni anak yatim.


"Salah satu ujian kita sebagai manusia yang hidup di zaman modern saat ini ialah kepekaan sosial. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin, kita akui adalah salah satu upaya efektif menajamkan kepekaan sosial. Tentu santunan tersebut tidak harus bersifat berkala, tidak mesti menunggu momentum. Menyantuni anak yatim wajib kita lakukan sesering mungkin," ujarnya.


Sementara itu, mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan bagian dari upaya mengasah kecerdasan spiritual. Kecerdasan itu wajib dipelihara karena cobaan duniawi kini makin merajalela. Kata Syafiudin, membaca Al-Qur’an  sesering mungkin akan melembutkan hati. Hati yang lembut diyakini tidak akan mudah tergoda pada rayuan dunia yang fana ini.


Ikhtiar kebaikan GP Ansor tersebut mendapat dorongan moral dari Sekretaris PCNU Pamekasan, Kiai Mohammad Dahlan. Mantan Ketua PC GP Ansor Pamekasan ini menegaskan, aksi-aksi sosial masih terus membumi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pamekasan.


"Tentu kami sangat bersyukur hingga kini GP Ansor memelopori aksi-aksi sosial yang sangat dibutuhkan masyarakat itu. Apalagi sekarang kita diliputi wabah Covid-19; banyak kondisi keuangan masyarakat hancur. Apalagi anak miskin yang tidak punya tulang punggung keluarga, pasti hidupnya dipenuhi kesengsaraan. GP Ansor harus hadir meringankan beban hidup mereka," jelasnya.


Sebagai salah satu rangkaian kegiatan Harlah lainnya, GP Ansor bagi-bagi takjil tiap sore menjelang buka puasa. Sasarannya para pengendara roda dua dan abang becak. Hal tersebut tampak serentak dilakukan di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan.


Oleh Syafiuddin, aksi-aksi tersebut diwajibkan agar dimasifkan di media sosial (medsos) masing-masing pengurus dan kader GP Ansor. Tujuannya, agar medsos tidak hanya berisi narasi-narasi negatif yang penuh aura kebencian dan permusuhan.


"Tantangan kita saat ini ialah takut dinilai riya. Padahal, takut dinilai riya merupakan riya itu sendiri. Sebab, kita masih ragu untuk menebarkan inspirasi kebaikan di medsos kita masing-masing," tegasnya.


Tidak hanya di medsos, GP Ansor juga menggandeng banyak media massa di Kabupaten Pamekasan. Muaranya, aksi-aksi sosial GP Ansor Pamekasan dapat tersyiarkan dengan baik dan menginspirasi banyak pihak.


"Kita harus malu dong bila menjadi pemuda yang tidak turut berbagi. Tentu para pemuda yang bergabung GP Ansor saling berbagi bukan karena kelebihan harta. Tapi, itu murni panggilan jiwa. Lewat sering berbagi, hidup kita akan semakin berarti," pungkas Syafiuddin.


Pewarta: Hairul Anam
Editor: Aryudi A Razaq

Posisi Bawah | Youtube NU Online