Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Peradaban Islam Ditandai dengan Kemajuan Berpikir dan Lahirkan Karya

Peradaban Islam Ditandai dengan Kemajuan Berpikir dan Lahirkan Karya
Peradaban Islam adalah kemajuan yang mengenal tradisi berpikir mendalam dan canggih serta melahirkan karya-karya yang cemerlang.
Peradaban Islam adalah kemajuan yang mengenal tradisi berpikir mendalam dan canggih serta melahirkan karya-karya yang cemerlang.
Jakarta, NU Online
Intelektual NU, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengungkapkan, peradaban Islam adalah kemajuan yang mengenal tradisi berpikir mendalam dan canggih serta melahirkan karya-karya yang cemerlang, seperti buku atau kitab.
 
Gus Ulil menilai buku-buku yang ditulis para ulama sekarang perlu disandingkan dengan pemikir Perancis modern. Di Indonesia khazanah tekstual ini pengkajinya sangat sedikit. Itu pun di luar ilmu-ilmu yang populer (fiqih, tafsir, hadist). 
 
Padahal, lanjut Gus ulil, di sana lahir sesuatu yang menentukan sekali arah tafsir itu sendiri misalnya tafsir Al-Kasyaf milik Al-Zamakhsyari lalu tafsir Al Baidhawi yang sangat populer abad ke-16,17,18,19 Masehi sebelum digantikan tafsir Ibnu Katsir.
 
“Dunia Islam sekarang ini kalau bicara tafsir yang dirujuk Jalalain atau Ibnu Katsir padahal sebelum itu Al Baidhowi karya Al-Zamakhsyari adalah penafsir dari tradisi muktazilah yang menggunakan pendekatan sastra untuk menafsirkan Al-Qur'an,” katanya dalam acara diskusi dan bedah buku Heurmeneutika Moderat yang diselenggarakan oleh Prodi Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Rabu (5/5).
 
Ia menyampaikan, khazanah keilmuan perlu terus dirawat, dikembangkan, dan dilanjutkan agar Islam hadir selain sebagai agama yang memberikan petunjuk kebenaran, juga nutrisi untuk intelek atau pemikiran penganutnya.
 
"Karena manusia memiliki jiwa dan butuh nutrisi yang itu sering kita jumpai melimpah ruah dalam sejarah teks dan intelektual kita,” kata menantu Gus Mus itu.
 

Teori Hermeunetika Moderat 

Pengampu Kajian Kitab Ihya Ulumuddin itu menerangkan bahwa buku yang ditulis Ahmad Hifni (Heurmeunetika Moderat) tidak mudah sebab membaca pemikiran Al Jurjani. 
 
Gus Ulil menyandingkan Al Jurjani dengan tokoh filsafat hermeunetika, Ricoeur, salah satu tokoh penting termenologi mutakhir di Perancis. Teori dia mengenai soal interpretasi, simbol metafore, narasi, kejahatan sebagai simbolisme itu salah satu yang menarik sekali karena menggambarkan fenomena kemanusiaan.
 
Sementara Al Jurjani bekerja pada wilayah yang lebih spesifik yaitu kritik sastra atau retorika. Oleh karena itu membandingkan kedua tokoh ini harus mencari titik  temu yang pas. “Kerja pokok Al Jurjani yakni terkait dengan hermeunetik atau penafsiran tapi lebih spesifik lagi dia tidak bekerja pada takwil, tidak pada level yang berkaitan dengan makna yang dilahirkan dari sebuah teks,” jelasnya.
 
Konsep Al Jurjani adalah melihat bahasa tidak bisa dianalisis melalui unit-unit kecil tetapi harus disambungkan dengan urutan tertentu dalam sebuah kalimat. Karena itu, problem takwil dan tafsir sebetulnya problem pemikiran Al Jurjani tetapi bukan problem utama. Karena masalah yang dia kerjakan sebetulnya kritik sastra. “Membandingkan kedua tokoh ini rumit,” paparnya.  
 

Al-Ghazali Tidak Literal 

Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin dan kitab Misykatul Anwar mengajukan alternatif teori penafsiran metafora. Dikatakan, Al-Ghazali orang yang sangat peduli dengan metafora meskipun dia tidak menulis teori tetapi dalam buku tasawuf Misykatul Anwar merupakan the role of metafore dalam konteks yang berbeda.
 
Dosen Pasca Sarjana UNUSIA Jakarta itu menerangkan, cara pandang Al-Ghazali menggunakan pendekatan takwil yang paling objektif  karena basis dalam teori Al Ghazali takwil yaitu menafsirkan simbol berdasarkan penyaksian seseorang terhadap suatu pengalaman sesuatu yang nyata (Tuhan) karena ini berdasarkan penyaksian dan tidak mungkin salah. 
 
Di akhir paparan, Gus Ulil mengungkapkan dalam teori Al-Ghazali penafsiran atau takwil adalah derajat yang paling objektif dan tinggi. Tafsir di bawahnya adalah tafsir yang menggunakan pendekatan rasional. Orang yang menyaksikan the real ia bisa memahami simbol secara tepat dan objektif.
 
Kontributor: Suci Amaliyah
Editor: Syamsul Arifin
Posisi Bawah | Youtube NU Online