Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Alissa Wahid Jelaskan Teladan Rasulullah Hadapi Problem Kemanusiaan

Alissa Wahid Jelaskan Teladan Rasulullah Hadapi Problem Kemanusiaan
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid. (Foto: dok. istimewa)
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menjelaskan teladan Rasulullah saw dalam menghadapi problem kemanusiaan. Ia mencontoh revolusi peradaban yang dibangun Rasulullah melalui empat dimensi kerangka kerja (frame work) Gusdurian.


"Yang pertama, perilaku di masyarakat sudah adil gender. Contoh paling dasar kesempatan untuk menuntut ilmu tidak dibedakan jenis kelamin. Dimensi yang kedua, selain perubahan perilaku perlu adanya kebijakan publik yang memang adil gender," kata Alissa dalam dialog inspiratif adil gender bersama Mubadalah, Jumat (7/5).


Adapun contoh ketidakadilan yang menggambarkan perilaku tersebut, kata Alissa, masih sering ditemui di masyarakat pedesaan yang mendikotomi pendidikan bagi laki-laki dan perempuan. 


"Nah, adil gender itu bukan menyama-nyamakan, tetapi harus juga memperhatikan kondisi biologis dan pengalaman kehidupan," ungkapnya.


Putri sulung KH Abdurrahman Wahid ini memaparkan, revolusi peradaban Rasulullah itu pengaruhnya bukan hanya dirasakan oleh warga Makkah dan Madinah saja, tetapi juga berpengaruh terhadap tatanan peradaban dunia yang membuatnya dinobatkan sebagai manusia paling berpengaruh di muka bumi.


"Kita tidak harus mencapai itu. Tapi yang paling penting adalah apakah kita bisa menyumbang batu bata sehingga semakin lama semakin tinggi untuk membangun self building (pembentukan diri) menghadapi problem kemanusiaan," paparnya.


Dimensi yang ketiga adalah dimensi teologis. Jikalau dimensi ini sudah benar-benar adil gender, maka akan mampu menyumbang keadilan gender pada sistem yang lebih besar. Caranya dengan memastikan setiap kelompok masyarakat untuk mengadopsi nilai-nilai dan mempraktikkan sistem adil gender pada lingkungan sekitar.


"Sebab, jikalau ketiga dimensi tadi bisa dilakukan maka keadilan gender ini akan segera terwujud," terang Alissa.


Psikolog dan penggerak pendidikan ini pun mengatakan bahwa untuk membuat dunia ini bergerak diperlukan kontribusi dari semua pihak baik secara sengaja atau tidak, karena dunia tidak akan bisa bergerak dengan sendirinya.


"Kita semua berkontribusi membangun peradaban, membangun kehidupan masyarakat yang sekarang kita sedang jalani," jelas Alissa.


Lebih lanjut, Alissa menegaskan, keadilan dan pemberdayaan itu akan berhasil terwujud jika setiap elemen mau bergerak dan berkontribusi. Dan Alissa yakin bahwa anak-anak bangsa Indonesia akan mengambil peran untuk melakukan itu.


"Karena sesuai dengan perintah yang kita terima. Khairunnas anfauhum linnaas (sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lain) itu sudah ada dalam urat nadi kehidupan kita. Mari kita gunakan semangat ini untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil, termasuk lebih adil gender. Mulailah dengan terus belajar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.


Terakhir, Alissa berpesan kepada anak-anak muda yang sebagai agen perubahan agar bisa lebih peka dalam membaca situasi untuk kebermanfaatan kehidupan lingkungan sekitarnya.


"Jadilah seorang pejuang yang mengubah situasi bukan diubah oleh situasi," tandas Alissa.


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online