IMG-LOGO
Warta
PILGUB JATENG

Dukungan Nahdliyin pada Calon Berlatar Belakang NU Kecil


Senin 23 Juni 2008 13:01 WIB
Bagikan:
Dukungan Nahdliyin pada Calon Berlatar Belakang NU Kecil
Semarang, NU Online
Dukungan dari kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) pada calon gubernur-calon wakil gubernur Jawa Tengah yang berlatar belakang NU kecil. Terbukti, dua cawagub Jateng yang berlatar belakang NU gagal meraih dukungan berarti.

Mohamad Adnan (Ketua [nonaktif] Pengurus Wilayah NU Jateng) yang berpasangan dengan Bambang Sadono dan diusung Partai Golkar, hanya meraup 33,4 persen suara kalangan Nahdliyin. Demikian disebutkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP).<>

Berikutnya, pasangan cagub dan cawagub Agus Suyitno-Kholiq Arif yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (partai berbasis massa pendukung warga NU), hanya didukung 5,6 persen suara kalangan Nahdliyin.

Sebaliknya, pasangan Cagub dan Cawagub besutan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Bibit Waluyo-Rustriningsih, memperoleh dukungan lebih banyak dari pada lainnya, yakni, 39,5 persen. Padahal, keduanya sama sekali tidak berlatar belakang NU.

Pengamat Politik pada Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Joko Prihatmoko, mengatakan, kalau tingkat partisipasi politik tinggi, maka calon yang menang adalah mereka yang didukung golongan tradisional dan ideologis.

"Selama ini calon yang berlatar belakang NU sama sekali tidak dikenal. Itulah mengapa, kaum Nahdliyin memilih Bibit-Rustri," kata Joko di Semarang, Senin (23/6).

Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu mencontohkan, kalangan pesantren di daerahnya tidak tahu calon yang berlatar belakang NU. Karena itu, mereka memilih calon lain.

Ia menambahkan, Adnan yang Ketua PWNU Jateng dan Kholiq yang dikenal sebagai pengurus PKB tidak populer di tingkat masyarakat basis. "Keduanya adalah khas kota atau hanya dikenal di lingkungan kecil. Sementara, dalam pilkada, pemilih sangat tersebar," jelasnya.

Sedikit berbeda, Pengamat Politik Univeritas Katolik Soegiyapranata Semarang, Andreas Pandiangan, menilai, pemilih pemula juga berperan pada perolehan suara Bibit Waluyo-Rustriningsih.

Data LSI dan JIP menyebutkan, sebanyak 85,7 persen pemilih yang berusia 19 tahun atau di bawahnya dan 40,0 persen pemilih usia 20-29, memberikan suaranya ke Bibit Rustri.

Hal yang sama juga berlaku untuk pemilih usia 30-39 tahun (37 persen), 40-49 tahun (41,3 persen). Sementara pemilih usia lanjut, 50 tahun atau di atasnya lebih memilih Sukawi Sutarip-Sudharto.

Andreas mengatakan, biasanya anak-anak muda lebih suka kepada hal-hal yang rileks. Sebagai satu-satunya calon perempuan, Rustri bisa memanfaatkan hal itu. "Dia tampil lembut, jauh dari nuansa serius. Foto-fotonya menegaskan citra tersebut," katanya. (dtc/yud)
Bagikan:
IMG
IMG