Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Nawawi, Pengasuh Pesantren Sidogiri Wafat, Alumni Diminta Tahlilan di Rumah

Kiai Nawawi, Pengasuh Pesantren Sidogiri Wafat, Alumni Diminta Tahlilan di Rumah
Kiai Nawawi Abdul Jalil (sebelah kanan) bersama Gus Syaif Jember. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)
Kiai Nawawi Abdul Jalil (sebelah kanan) bersama Gus Syaif Jember. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)

Jember, NU Online
Kabar duka datang dari Jawa Timur, tepatnya dari Kabupaten Pasuruan. Pengasuh Pesantren Sidogiri Pasuruan, KH Ahmad Nawawi Abdul Jalil, telah berpulang ke haribaan Allah, Ahad (13/06) pukul 16.40 di salah satu rumah sakit di Malang.


Tidak banyak yang tahu apa penyakit yang menjadi sebab kiai kharismatik ini wafat. Sebab, sakit dan tempat Kiai Nawawi dirawat memang tidak banyak diketahui publik.


“Memang tertutup, malah kabar sakitnya beliau tidak boleh disebarkan,” ujar Ketua Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) cabang Jember, Gus Ubaidillah Bahrullah Azis kepada NU Online di kediamannya, Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Jember, Ahad (13/6).


Tidak hanya itu, bahkan saat beliau wafatpun, seluruh alumni pesantren yang diasuhnya tidak diperkenankan datang ke Pasuruan untuk melayat. Alumni dianjurkan untuk melaksanakan tahlilan di rumah masing-masing.


“Informasi resmi dari pondok maupun keluarga kiai, kita dianjurkan untuk tahlil di kelompoknya masing-masing,” tambahnya.


Gus Ubaidillah, tidak tahu persis alasan dilarangnya alumni melayat  langsung ke Sidogiri. Namun ia hanya menduga bahwa keluarga kiai tidak ingin merepotkan masyarakat (alumni), atau juga terkait dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, takut terjadi kerumunan massa.


“Saya tidak banyak tahu untuk soal yang satu ini,” tambahnya.


Sementara itu, alumni Pesantren Sidogiri Pasuruan, KH Muhyiddin Abdusshomad  juga membenarkan bahwa seluruh alumni tidak diperkenankan ta’ziyah langsung untuk mengantar kepulangan sang kiai ke alam barzah. Katanya, jumlah santri Sidogiri saat ini sekitar 15.000 orang.


“Bisa dibayangkan padatnya jika wali santri dan alumni datang melayat,” terang Rais Syuriyah PCNU Jember tersebut.

 
Kiai Nawawi Abdul Jalil memimpin pesantren Sidogiri sejak tahun 2005, menggantikan pengasuh sebelumnya KH Abdul Halim bin KH Abdul Jalil (kakak kandungnya) yang wafat pada 2005.


Pesantren Sidogiri, meskipun berstatus salaf namun cukup modern dan mandiri. Buktinya, pesantren tersebut saat ini memiliki toko modern bernama Basmalah. Toko Basmalah berdiri di hampir seluruh daerah di Jawa Timur. Selain itu, pesantren Sidogiri juga memiliki pabrik air mineral merk Santri, bahkan juga memiliki BMT Syariah yang tersebar di hampir seluruh Jawa Timur.


“Sidogiri walaupun salaf tapi juga tergolong modern. Di situ juga memiliki perpustakaan yang cukup lengkap dan modern. Setiap tahun menghabiskan Rp50-an juta untuk mengoleksi kitab-kitab kuning,” tambahnya.


Kiai Nawawi sendiri dikenal sebagai  pengasuh yang cukup dekat dengan para santrinya. Ia kerap mengontrol sendiri kamar-kamar santri di malam hari. Ia menginginkan para santri beribadah dan muthala’ah pelajaran di malam hari.


Dalam berbagai kesempatan, Kiai Nawawi selalu menekankan kepada para santrinya tentang pentingnya menjaga muru'ah ulama dan komitmen pengabdian terhadap Nahdlatul Ulama. Tak heran jika kemudian para santri Sidogiri yang banyak mendirikan pesantren modern, selalu melabeli pesantrennya sebagai bagian dari NU yang memadukan metode pendidikan modern dan mempertahankan kajian kitab klasik.


Pewarta: Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin

 

Posisi Bawah | Youtube NU Online