Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Mus Kenang 20 Tahun Pelengseran Gus Dur

Gus Mus Kenang 20 Tahun Pelengseran Gus Dur
Foto: dok istimewa
Foto: dok istimewa

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri mengunggah foto Presiden Keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid saat malam menjelang keluarnya dari Istana Negara. Dalam keterangan foto tersebut, ia menuliskan dua kalimat ajakan mengirimkan Al-Fatihah untuknya.

 

"Al-Fãtihah untuk Kiai Bangsa, Guru Kemanusiaan yang mencintai sesama," tulis Gus Mus membubuhi keterangan foto yang diunggahnya pada Jumat (23/7).

 

"Al-Fãtihah untuk Gus Dur kita." lanjutnya.

 

Sampai berita ini dibuat, unggahan foto tersebut telah mendapatkan 622 komentar, 11 ribu suka, dan 648 kali dibagikan warganet di Facebook. Sementara di Instagram, unggahan tersebut sudah mendapatkan 193 komentar dan 25 ribu suka.

 

Selain keterangan foto, kiai yang akrab disapa Gus Mus itu juga membubuhi satu kalimat sederhana penuh makna pada foto yang diunggahnya, 'Kekuasaan bukan segalanya'. Foto tersebut, menurut Greg Barton sebagaimana termaktub dalam bukunya Biografi Gus Dur (2003), dalam tafsiran berbagai media asing menunjukkan seolah-olah tidak ada masalah apa-apa. Saat memutuskan untuk menyapa pendukungnya dan melambaikan tangannya pada malam tanggal 22 Juli 2001 pukul 21.30 WIB, Gus Dur memang baru selesai latihan fisik sehingga pakaian yang dikenakannya memang demikian.

 

Sebagaimana diketahui, tepat di hari ini, 20 tahun silam, sahabat karibnya itu ‘kembali ke rumah’ setelah diturunkan dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Negeri Zamrud Khatulistiwa. Hal itu dilakukan oleh lawan politiknya melalui Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) yang sedianya dilaksanakan pada 1 Agustus 2001, tetapi diajukan menjadi 23 Juli 2001.

 

Sampai detik-detik akhir penurunannya dari kursi Presiden, Gus Dur tetap tidak mau berkompromi. Ia pun keluar dari Istana Negara. Sebelumnya, di ‘Istana Rakyat’ itu, ia menerima tamu dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh dari berbagai agama, para pelaku seni, hingga masyarakat biasa. Greg Barton mencatat dalam Biografi Gus Dur (2003), para tokoh agama tersebut bergiliran mendoakannya. Pun seorang perempuan Kristen yang merupakan pekerja biasa juga diberikan kesempatan untuk menemuinya dan mendoakannya. Ia juga menyempatkan diri untuk mengoleskan minyak wangi di dahi Gus Dur.

 

Gus Dur pun menyempatkan diri untuk menemui ribuan orang yang berkumpul di Lapangan Medan Merdeka, di hadapan Istana. Dalam pidatonya, ia menyampaikan agar mereka menahan diri dan kemudian bersumpah untuk melanjutkan perjuangan reformasi.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online