Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Dur Kalah dengan Gus Im dalam Hal Ini

Gus Dur Kalah dengan Gus Im dalam Hal Ini
Hasyim Wahid. (Foto: Tempo/Arif Fadillah)
Hasyim Wahid. (Foto: Tempo/Arif Fadillah)

Jakarta, NU Online

Cucu Pendiri NU Hj Lily Chadijah Wahid menyampaikan bahwa adik bungsunya, KH Hasyim Wahid atau yang karib disapa Gus Im merupakan orang yang tekun dalam belajar. Hal ini, menurutnya, patut untuk ditiru.

 

“Masya Allah, kalau sudah suruh baca, belajar itu, nggak ada yang ngalahin. Gus Dur saja kalah,” ungkapnya, dalam Tahlil dan Doa Memperingati Haul ke-1 KH Hasyim Wahid (Gus Im) dan Dzuriyah KH Bisri Syansuri, Kamis (29/7) malam.


Selain itu, ia menyebut penggubah puisi Naik Surga Bersama Charlie Chaplin itu adalah tipe orang pemberontak yang sulit dikendalikan. “Jadi, jiwanya itu kadang kalau diatur begini, diatur begitu, itu sering ndak nurut,” ungkap adik Gus Dur itu, dalam acara yang disiarkan langsung di Pondok Denanyar Chanel (Youtube).


Kakaknya yang lain yaitu dr Umar Wahid menyebut bahwa Gus Im adalah seorang yang multitalenta. “Gus Im itu otak kiri dan otak kanannya berjalan seimbang. Beliau pinter, smart, ya, lalu tanggannya terampil, kalau bikin meja karambol itu bagus banget dia. Belum pernah ada meja karambol sebagus bikinan Gus Im,” kata sang dokter.


Selepas SMA, lanjutnya, Gus Im mendaftar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) sekaligus di Intitut Teknologi Bandung (ITB). Keduanya diterima, sehingga ia kuliah satu semester bolak-balik Jakarta – Bandung. Kemudian ia berhenti di semester kedua.


“Saya tanya: kenapa, Im?” sang kakak penasaran.


“Dosennya bodo-bodo, pinteran juga aku dari mereka,” jawab Gus Im. 


Klaim itu dibenarkan oleh dr Umar. “Karena Gus Im yang secara formal tamatan SMA itu banyak membimbing orang-orang UI, orang-orang dari universitas-universitas lain yang mengambil S-2 atau S-3. Gus Im itu tahu betul apa yang sebaiknya dibaca oleh calon master dan calon doktor ini,” bebernya.


dr Umar juga menambahkan, banyak hal yang bisa dicontoh dari sosok Gus Im, dengan segala hal yang kadang dianggap aneh dan nyeleneh. “Sebenarnya yang dipikirkan oleh Gus Im adalah kepentingan masyarakat, kepentingan umat. Ini yang saya tetap yakin, itu yang dilakukan oleh Gus Im,” pungkasnya.


Sementara itu, Pengasuh Pesantren Denanyar Jombang KH Abdussalam Shohib atau yang biasa disapa Gus Salam punya pendapat tersendiri tentang Gus Im. Ia menduga, penulis buku Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia itu melaksanakan apa yang disampaikan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Hikamnya: Idfin wujûdaka fî ardhi al-humûl, famâ nabata mimmâ lam yudfan lâ yatimmu nitâjuhu. 


“Pendamlah egomu, pendamlah keangkuhanmu dalam kesunyian. Artinya, salah satu laku tasawuf itu adalah menjauhi popularitas. Karena orang yang menjauhi popularitas itu amal yang dilakukannya akan menjadi amal yang ikhlas. Sesuatu yang tidak tumbuh dari biji yang dipendam itu tidak akan sempurna tumbuhnya,” jelas Gus Salam, memaknai aforisme kitab tasawuf karya murid Abu Abbas al-Mursi.


Kalau kita punya biji padi tidak kita pendam, hanya ditaruh di atas tanah, sulit untuk tumbuh menjadi sempurna. Bahkan belum sempat tumbuh sudah dimakan oleh burung. Tapi kalau kita pendam yang dalam biji-biji ini, maka dia akan menumbuhkan pepohonan, buah-buahan dan tumbuhan-tumbuhan yang sempurna.


“Itulah beliau mungkin, saya rasa orang yang menjauhi popularitas, tapi perannya tidak bisa dikesampingkan,” ungkapnya.


Sebagaimana kita ketahui bersama, pernikahan KH Abdul Wahid Hasyim dengan Nyai Hj Sholilah Munawaroh dikaruniai enam putra-putri: KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Hj Aisyah Baidlowi, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), dr Umar Wahid, Hj Lily Chadijah Wahid dan KH Hasyim Wahid (Gus Im). 


Banyak tokoh yang hadir dalam acara yang digelar secara virtual ini, baik dzurriyah, pejabat pemerintah, alumni, masyarakat umum, termasuk putra dan putri Gus Im yaitu Abdul Aziz dan Karimah. Salah satunya, Abdul Aziz, memberikan testimoni tentang ayahnya yang cukup dianggap “misterius” di kalangan Nahdliyin. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat menyelenggarakan dan mengikuti acara ini.


Kontributor: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Editor: Syakir NF

Posisi Bawah | Youtube NU Online